alexametrics

Puluhan Kios Batu Akik Pasar Dargo Ditinggalkan Pemiliknya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Biasanya, pasar identik dengan hiruk pikuk pembeli. Namun, hal itu tidak terjadi di pusat batu akik, Pasar Dargo, Semarang. Kini puluhan kios batu akik dan batu mulia ditinggalkan pemiliknya.

Tampak lengang. Hanya ada satu dua orang yang melihat-lihat koleksi batu akik yang dipajang oleh para pedagang. Sejak ada kios baru yang dibangun pemerintah, Pasar Dargo sepi. “Yang masih bertahan ya paling hanya 10 sampai 15 kios. Apalagi di masa pandemi ini, banyak yang menutup kios akiknya juga,” kata Ahim, 55, penjual batu akik yang sudah 5 tahun di Pasar Dargo.

Tak hanya itu, Ahim juga mengatakan keinginannya tentang kegiatan festival batu akik. Ia berharap kepada pemerintah, agar mengadakan festival batu akik guna mendongkrak popularitas batu akik yang masih banyak penggemarnya itu. “Pengen ada festival batu akik lagi. Kan pasti banyak yang beli. Itu bisa jadi penyemangat para perajin batu akik dan penjual seperti saya. Jadi menghidupkan lagi ekonomi penjual akik,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (19/8/2021).

Baca juga:  70 Nakes Semarang Tak Hadir saat Vaksinasi

Turyati, 67, penjual batu akik sejak tahun 1989 juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengatakan, jika batu akik biasanya banyak dicari para kolektor batu saat ada festival. “Kalau bukan kolektor kan belinya yang murah-murah saja. Karena mereka ikut-ikutan tren, seperti pas tahun 2014 itu. Sekarang sudah 5 tahun lebih tidak ada festival akik,” bebernya.

Tak hanya itu, ia juga mengatakan jika saat ini pendapatannya turun 75 persen. Meski begitu, ia tetap bersyukur setiap hari ada satu atau dua orang yang berkunjung ke kiosnya untuk sekadar melihat atau membeli batu koleksinya.

Sementara itu, penggemar batu akik, Joko, 52, mengaku telah menyukai batu akik sejak masih SMP. Hingga saat ini, koleksi batu akiknya telah mencapai 50-an batu akik. Di antaranya, ada batu kecubung, kalimaya, bacan hijau, akik sulaiman, hingga batu ruby. Biasanya, ia mengikuti festival batu akik untuk mencari batu yang kualitasnya bagus.

Baca juga:  Fungsi Gedung Parkir Pandanaran Belum Optimal

“Saya memang suka sama batu-batu kayak gini. Misalnya yang Ruby permata ini, saya dulu beli sekitar Rp 500 ribu atau Rp 700 ribuan gitu. Karena yang bikin mahal batu itu ya kualitasnya,” katanya sambil menunjukkan batu akik ruby yang terpasang di jarinya. (cr8/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya