alexametrics

Pasien Positif Covid-19 di Semarang Turun, Tiga Tempat Isolasi Ditutup

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangKasus positif Covid -19 di Kota Semarang terus mengalami penurunan. Penerapan PPKM Darurat dan PPKM Level 4 dinilai efektif menekan angka penularan. Melihat kondisi ini, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menutup beberapa tempat isolasi mulai pekan ini.

Hendi  –sapaan akrab wali kota—menjelaskan, jika 12 hari pasca Idul Adha, angka positif Covid-19 di Semarang saat ini sudah menurun drastis. Setidaknya, ada tiga tempat isolasi yang ditutup, yaitu isolasi terpusat UIN Walisongo, Islamic Centre, dan Wonolopo.

“Yang pasti ditutup tempat isolasi di UIN Walisongo Semarang, hari ini ditutup. Kemudian Gedung Islamic Centre pasti ditutup. Terus kawasan Unimus di Wonolopo, Mijen juga pasti ditutup,” kata Hendi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Balai Kota Semarang, Senin (2/8/2021) kemarin.

Kapasitas tempat karantina atau isolasi terpusat yang dikelola Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang di angka 600 tempat tidur. Sementara jumlah warga yang melakukan isolasi mandiri sekitar 300 orang, sehingga dipastikan bisa mencukupi jika dipindahkan ke tempat isolasi terpusat.

“Warga akan kita paksa untuk isolasi terpusat. Tujuannya, supaya penanganannya jauh lebih mudah. Pemberian obat dan kontrolnya tepat. Kemudian saat isolasi mereka tidak menularkan kepada yang sehat,” jelasnya

Dengan cara ini, lanjut Hendi, kontrol dan perawatan akan lebih mudah, dan tidak ada potensi menularkan kepada anggota keluarga atau lainnya. Rencananya, Pemerintah Kota Semarang akan mulai menjemput warga yang isolasi mandiri untuk dibawa ke karantina mulai Selasa (3/8/2021) hari ini.

Kepala Dinkes Kota Semarang M Abdul Hakam mengamini jika monitoring pasien akan lebih mudah jika diisolasi di tempat terpusat. Nantinya juga akan diklasifikasi pasien yang membutuhkan akses ke rumah sakit, isolasi terpusat, dan tetap di rumah sesuai dengan kodisi pasien. “Dengan cara ini angka kematian bisa turun jika pasien ditangani dengan baik, apalagi angka kematian saat ini di angka 6,2 persen,” tambahnya.

Baca juga:  Dekati Istri Siri Orang, Pemuda Ini Babak Belur Dikeroyok

Di sisi lain, Pemkot Semarang masih menunggu arahan dari Pemerintah Pusat terkait keputusan PPKM Level 4 yang habis pada Senin (2/8/2021) kemarin. Jika dilihat dari tingkat keefektifan, selama PPKM Darurat atapun PPKM Level 4 ini angka Covid-19 di Ibu Kota Jateng semakin melandai. Dari data di laman siagacorona.semarangkota.go.id hingga Senin pukul 15.00, tercatat 916 penderita Covid-19. Sebanyak 574 merupakan warga Semarang, dan 342 warga luar kota.

“Penurunan ini berdampak pada turunnya Bed Occupancy Ratio (BOR) isolasi terpusat ataupun rumah sakit. Saat ini, BOR semakin turun, tinggal 32 persen. Banyak tempat isolasi kosong,” kata Hendi, Senin (2/8/2021) siang.

Hendi menjelaskan, jika jumlah penderita 900-an itu sudah termasuk warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman). Ini semakin baik, dan menurun jauh dibanding sebelum PPKM yang mencapai 3.000-an orang. Saat ini, Hendi masih menunggu keputusan dari Pemerintah Pusat terkait keberlanjutan PPKM Level 4, apakah dibuka dengan kelonggaran atau masih sama.”Kita nunggu tentang PPKM berikutnya apakah sudah dibuka dengan kelonggaran atau masih tetap PPKM level 4 kita tunggu sampai malam,” ucapnya.

Meski kasus terus menurun, ia meminta masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan. Pengalaman seperti vaksin, dan abai protokol kesehatan harus dijalankan dengan baik. “Kemarin kalau kita abai dengan prokes dan tidak vaksin, lebih sulit dari pada yang sudah,” katanya.

Baca juga:  SD Nasima Gunakan GeNose C19

Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman meminta agar ada pelonggaran jika memang PPKM diperpanjang. Apalagi sebagian besar masyarakat mengeluhkan dan meminta adanya pelonggaran “Kemarin pembahasannya, seandainya ada pengaruh dari PPKM, akan kembali ke masing-masing daerah untuk mengatur. Ini disambut baik dan ditunggu masyarakat,”ujarnya.

Pria yang akrab disapa Pilus ini menilai masyarakat meminta diberi kelonggaran. Tujuannya, agar perekonomian tetap berjalan, namun harus dengan catatan mentaati aturan yang sudah diatur dan ditetapkan.”Masyarakat ini kan sudah merasakan dampak PPKM dan nggak enaknya, insyaAllah ke depan lebih manut, dan disiplin prokes,” tuturnya.

Menurut Pilus, pelonggaran sebenarnya sudah dilakukan bertahap. Jika sebelumnya wajib take away dan tutup pukul 20.00 untuk restoran, saat ini bisa makan di tempat walupun dibatasi waktu dan kapasitas

“Harapannya tentu ada penambahan jam operasional bagi pengusaha. Nanti kalau turun lagi tempat ibadah misalnya bisa dibuka,” tambah dia.

Politisi PDI-Perjuangan ini menilai, saat ini penanganan secara kesehatan yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang sudah sangat baik. Kerja sama antara pemkot dan Forkopimda dalam menangani pandemi Covid-19 dinilai berhasil menurunkan kasus Covid-19 di Kota Semarang. “Misalnya pembentukan sentra vaksinasi, ini bentuk keseriusan pemkot untuk penanganan dan pencegahan,” katanya.

Menyusul turunnya penderita Covid-19, jumlah jenazah pasien Covid-19 di tempat pemakaman umum (TPU) Jatisari, Mijen juga mengalami penurunan dibanding sebelum ada penerapan PPKM. Penurunan jumlah jenazah ditaksir hingga 50 persen.

Petugas TPU Jatisari Juri menuturkan, semula dalam sehari, mereka memakamkan belasan jenazah pasien korona. Praktis, para petugas pemakaman harus bekerja ekstra keras, karena jumlah pasien Covid-19 yang meninggal terus bertambah. Namun saat ini petugas bisa sedikit istirahat, karena jenazah yang harus dimakamkan berkurang.

Baca juga:  Ini Sembilan Prodi Unissula yang Terakreditasi Internasional

“Penurunan tajam pemakaman jenazah pasien Covid-19 di TPU Jatisari terjadi setelah PPKM di Semarang dijalankan. Saat ini sudah mulai longgar,” kata Juri kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (2/8/2021).

Menurutnya, penurunan jenazah pasien covid disebabkan karena adanya penerapan PPKM di Semarang. Ia mengungkapkan, sebelum PPKM, sehari ada 14-16 jenazah yang dimakamkan. Sekarang ini paling banyak hanya enam jenazah.“Dulu petugas sampai mengeluh karena capek. Namun sekarang ini tidak lagi karena sudah longgar jenazah yang dikuburkan ke sini,” ujarnya.

Kendati demikian, penggalian liang lahat tetap dilakukan untuk antisipasi adanya kedatangan jenazah mendadak. “Gali kubur masih tetap dilakukan. Untuk persiapan saja karena khawatir jika ada jenazah yang datang tiba-tiba secara bersamaan. Kalau ada jenazah malam secara bersamaan, kalau tidak disiapkan terlebih dahulu kan bahaya. Tidak mungkin menggali kubur dadakan. Maka dari itu, kami sudah siapkan. Saat ini, kita siapkan kurang lebih 300 liang lahat di TPU Jatisari ini,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang di TPU Jatisari sampai jam 15.00 kemarin, ada tiga jenazah yang dimakamkan di sana. Selain itu, di sisi barat masih banyak lubang galian yang belum terpakai. “Sampai saat ini belum ada konfirmasi lagi terkait jenazah yang mau dimakamkan, semoga cukup tiga orang tadi saja,” harapnya. (den/cr5/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya