alexametrics

PPKM Darurat, Kios Burung Diserbu Pembeli

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Permintaan burung perkutut semakin tinggi seiring pemberlakuan PPKM Darurat. Meski begitu, di masa pandemi ini, ada beberapa langganannya yang menggadaikan burungnya untuk kebutuhan hidup.

“Yang gadai burung ke saya sudah langganan sini, dan tahu rumahnya. Kalau orang tidak dikenal, ya tidak mau,” kata Badri, 63, penjual burung di Kios Burung Badri, Jalan Fatmawati, Pedurungan, Kota Semarang, Minggu (25/7).

Dia menjelaskan biasanya jangka gadainya sesuai kesepakatan yang punya burung, bisa dua bulan atau tiga bulan. Dia memaklumi karena kondisi sedang sulit, jadi membantu selagi bisa. Tapi kalau sudah jatuh waktu tagihnya, menghilang atau tidak bisa dihubungi burung yang digadai dia jual.

Badri, 63, penjual burung bercerita kios burungnya sejak PPKM lebih ramai dari biasanya. Barang datang 20 ekor burung, dua hari saja sudah tinggal 4 ekor. “Banyak yang memborong. Alhamdulillah ramai, rata-rata mencari burung perkutut dan burung puter,” ujarnya.

Baca juga:  Pemerintah Kelurahan Sambirejo Sinergikan Warga untuk Bantu Warga

Dia mengaku, kalau burung pekutut memang banyak stoknya. Di alam masih banyak dan peternaknya juga ada. Biasanya peternak dari Kendal, terkadang ada penjaring burung yang setor ke kiosnya. Sedangkan burung puter agak sulit, karena hanya ada di peternak. Harus menunggu waktu lumayan lama untuk bisa menjual. Badri mengaku tidak menternakkan burung. “Kios saya lebih fokus jual burung saja. Kalau ternak, adanya love bird, tapi khusus untuk lomba,” akunya

Kasmin, 60, pembeli burung menjelaskan, sudah lama suka dengan burung perkutut. Di rumahnya ada 10-an ekor lebih burung perkutut dan burung puter. “Di rumah saya sudah banyak, tapi ini saya mau beli lagi. Meskipun sudah punya banyak, tapi setiap burung itu berbeda suara dan ciri khasnya,” katanya sambil pilih-pilih burung perkutut.

Baca juga:  Stok Pakan Semarang Zoo Aman untuk Tiga Bulan ke Depan

Rizki, 23, karyawan kios burung Badri mengaku, ramainya pembeli burung perkutut karena masa PPKM, banyak mencari hiburan dan menambah kesibukan. “Peminat perkutut rata-rata usia 50-an mas. Apalagi PPKM banyak yang kerja dari rumah, biar tidak stress,” ucapnya.

“Paling laku sekarang ini, jenis perkutut lokal, harganya Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu. Kalau perkutut Bangkok jarang yang beli karena mahal, mulai dari Rp 300 ribu, jenis itu biasanya hanya ada stok 5 ekor,” tambahnya.

Dia menjelaskan, bedanya perkutut lokal dengan Bangkok adalah pada bentuk tubuhnya, lokal lebih kecil dan suaranya relatif pelan. Pembeli di kiosnya kebanyakan adalah penghobi burung. Awalnya hanya lihat-lihat, kalau ada yang cocok langsung dibeli. “Semingguan yang lalu ada yang beli mas, tapi dikembalikan lagi, karena dimarahi istrinya,” ungkapnya.

Baca juga:  Retribusi Relokasi Pasar Johar MAJT Naik Jadi Rp 2.500/4 Meter

Untuk pengembalian burung yang sudah dibeli, dia mengatakan, tidak masalah jika dikembalikan, asal masih sama burungnya, bukan diganti dengan burung lain. Dia menambahkan, ada juga yang beli kemudian ditukar lagi karena sampai di rumah merasa lebih cocok dengan pilihan satunya lagi yang masih di kios. (cr7/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya