alexametrics

Waduk Jatibarang Ditutup Sementara, Hanya Puluhan Pemancing yang Rajin Datang di Pagi Buta

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Waduk Jatibarang menawarkan wisata mulai dari taman bunga di tepi waduk hingga memancing sepuasnya. Namun saat penularan Covid-19 tinggi, tempat wisata favorit di Kota Semarang ini ditutup.

Taman bunga di Waduk Jatibarang ini belum lama dibangun. Namun terbentur pandemi Covid-19 yang memprihatinkan akhir-akhir ini, tak banyak wisatawan yang bisa berkunjung menikmatinya. Kini hanya sekitar 40 pengunjung yang datang. Itupun para pemilik hobi memancing.

Abdul Karim, anggota Pokdarwis Pandanaran yang mengelola lokasi wisata tersebut mengungkapkan kekecewaannya. Taman baru tersebut belum sempat dinikmati banyak wisatawan. Kalaupun ada wisatawan di hari Minggu, dibatasi paling banyak sekitar 300 pengunjung saja. “Dulu sehari pas akhir pekan bisa ribuan orang datang dan pergi. Sekarang sehari-hari paling orang mancing saja,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sempat ditutup diawal pandemi Covid-19. Kemudian 11 Juli, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, mengizinkan operasional dibuka kembali. Pihaknya kini menarik retribusi wisatawan sejumlah Rp 5 ribu. Selain untuk perawatan lokasi wisata, biaya didonasikan untuk pembangunan masjid warga. “Dulu hanya ditarik parkir. Tapi sekarang pengunjung sepi. Sedangkan masyarakat perlu dana dari pengelolaan oleh Pokdarwis ini. Jadi ada retribusi,” jelasnya.

Baca juga:  Penjualan Eceran Alami Peningkatan

Dikatakan Abdul, sejak 2015 mengelola wisata, pengunjung yang datang memancing di hari Minggu sangat pagi sekali. Saat matahari belum terbit sekitar pukul 05.00 pagi. Tak jarang pengjung yang datang dari luar kota, Ungaran, Demak, dan Salatiga. Banyak di antaranya pergi memancing menggunakan perahu sampai daerah Weleri. Mereka seharian menghabiskan waktu untuk memancing dan kembali di sore hari. “Hari biasa kami buka dari jam 07.00 sampai 17.00 sore,” imbuhnya.

Lebih lanjut, rencana pengembangan wisata melibatkan lebih banyak warga setempat. Dengan begitu masyarakat berdaya dan terdorong secara ekonomi. Seperti halnya memperbanyak penyewaan wahana, ATV, dan perahu. Lalu membuka warung-warung baru. “Namun kondisi seperti ini, wisata di mana-mana nggak jalan, apalagi seperti kami seadanya,” keluh Abdul. (taf/ida)

Baca juga:  Tersangka Pembunuhan Sakit Hati Disuruh-suruh, Korban Dicekik Satu Jam

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya