alexametrics

Mega Proyek Kota Semarang Segera Direalisasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di usia ke-474 tahun, Kota Semarang terus berbenah. Menjadi kota yang semakin hebat. Sejumlah mega proyek yang tertunda akibat pandemi Covid-19 mulai diproses lagi. Sebut saja pembangunan Light Rail Transit (LRT), Harbour Tol (tol tanggul laut), pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL), Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (Spal D), hingga Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Semarang Barat yang kini hampir selesai.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang Iswar Aminuddin menjelaskan, beberapa mega proyek yang digagas di Semarang sampai saat ini terus berproses, dan segera terealisasi. Anggaran yang besar untuk merealisasikan proyek tersebut menggunakan sistem kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).

“Pembangunan fisik mega proyek ini sudah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah sampai jangka panjang. Rencananya sudah banyak, salah satunya terkait infrastruktur yang akan dibangun di periode kedua Hendrar Prihadi- Hevearita Gunaryanti Rahayu (Hendi-Ita). Untuk proyek besar menggunakan sistem KPBU,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Iswar menerangkan, sistem KPBU dipilih mengingat anggaran yang digunakan sangat besar, dan tidak mungkin terjangkau oleh APBD Kota Semarang. Misalnya, untuk realisasi pembangunan LRT, PSEL, dan lainnya. Sistem ini juga digunakan untuk pembangunan SPAM Semarang Barat. “Khusus untuk SPAM Semarang Barat ini sudah hampir selesai, LRT sedang proses, termasuk PSEL nah kita dorong agar terus berjalan. Yang jelas saat ini proyek-proyek besar ini terus berproses,” ujarnya.

Proyek LRT rencananya akan dibangun untuk menghubungkan Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang dengan Kawasan Pusat Kota, seperti Tugu Muda. Sementara untuk sistem pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) juga terus didorong Pemkot Semarang untuk segera direalisasikan. “Selain sistem KPBU, sistem pinjaman daerah juga sedang dijajaki untuk merealisasikan proyek-proyek lainnya,” tambahnya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Endro P Martanto merencanakan sebanyak sembilan koridor LRT di Kota Semarang. Jumlah total tempuh sejauh 78,4 km. Untuk proyek prioritas, pihaknya akan mengerjakan jalur koridor sembilan terlebih dahulu. Yaitu, stasiun dari Bandara Ahmad Yani, Pasar Bulu, dan berakhir di Simpang Lima. “Untuk realisasinya kan nggak asal yang penting kereta sudah ada. Tapi kami harus menyiapkan infrastrukturnya juga. Untuk jalan yang nanti dilewati keretanya,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, proyek tersebut tak akan membebaskan lahan warga sama sekali. Karena keseluruhan jalur akan menggunakan jalan raya. Rel LRT akan dibangun di atas jalan utama agar tidak mengganggu lalu lintas di bawahnya. LRT Kota Semarang berukuran lebih kecil dari yang digunakan di Jakarta. “Kami mengikuti kebutuhan warga Semarang dan melihat lahan yang akan digunakan. Tentu saja Semarang dan Jakarta nggak sama,” imbuhnya.

Baca juga:  Kendaraan Pemburu Provokator Unjukrasa Rusak

Perkiraan lebar gerbong 1,5meter-2 meter. Lalu tiap gerbongnya mampu menampung sekitar 50 penumpang. Dalam sekali perjalanan, pihaknya akan memberangkatkan 2-3 gerbong pada jam padat atau peak hours. Kemudian pemberangkatan dilakukan per lima menit. Targetnya, dalam satu jam bisa mengantar 790 penumpang dengan 12 armada.

Menurutnya, pemilihan unit LRT lebih kecil sangat sesuai dengan kondisi jalan di Kota Semarang yang cukup berliku. Dalam praktiknya, unit lebih besar akan membutuhkan lahan yang lebih luas pula. Selain itu cenderung lebih berbelok.

Grafis: Ibnu Fiqri/Jawa Pos Radar Semarang

Diakui, banyaknya anggaran yang dialihkan untuk penanganan Covid-19, membuat proyek ini tak bisa dilaksanakan tahun ini. Targetnya, bila tahun depan pandemi benar-benar telah berakhir dan ekonomi kembali normal, proyek dapat dimulai. Karena proses pengadaan infrastruktur besar seeperti LRT memakam waktu yang cukup lama. “Paling tidak tiga tahun,” ungkap Endro.

Di sektor pariwisata, rencana pembelian bus amfibi juga terus berproses. Bus ini dapat melaju mengarungi sungai dan jalan raya sekaligus. Seperti yang telah dimiliki negara maju, di antaranya Singapura, Belanda, dan Jerman.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang Indriyasari mengatakan, kajian telah dilakukan dengan melibatkan dan tenaga ahli, baik dalam maupun luar negeri. Namun lelang pertama beberapa waktu lalu belum membuahkan hasil. Rencananya akan kembali mengadakan lelang selanjutnya untuk memulai pengerjaan proyek. “Pabrik yang merakit mesin juga belum produksi karena pandemi,” ujar Indriyasari kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tergetnya, sementara ini bila tak ada banyak kendala. Pada 2022, bus amfibi sudah dapat beroperasi. Bus amfibi di Semarang nantinya akan menjadi yang pertama di Indonesia. Bus berukuran kurang lebih seperti BRT itu mampu memuat 30 penumpang.  Menggunakan dua mesin untuk melaju di darat dan laut. Nantinya bus tersebut akan membawa para wisatawan berkeliling Kota Semarang. Tak terlewatkan menyaksikan atraksi air secara langsung di Sungai Banjir Kanal Barat.

Baca juga:  Sedang Santai di Teras, Tertimpa Longsoran Tebing

Mega proyek lainnya yang sedang berproses adalah Harbour Tol atau tol tanggul laut di pesisir pantai utara Semarang, menurut Iswar, menjadi proyek strategis nasional (PSN).  Pemkot Semarang juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk membangun Spal D di wilayah Genuk. Spal D merupakan sistem pengelolaan air limbah domestik dalam satu kesatuan dengan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah domestik. “Limbah domestik ini harus dikendalikan, karena bisa mencemari tanah. Selain itu, sungai besar di Semarang juga sudah tercemar, karena limbah rumah tangga masuk ke sungai sehingga tidak sehat,” jelasnya.

Ia berharap, mega proyek yang ada di Semarang ini bisa terealisasi agar Semarang Semakin Hebat. Untuk itu, di bawah kendali Hendi-Ita, mega proyek tadi terus didorong agar segera terealisasi.

Iswar menambahkan, sejumlah pembagunan infrastruktur yang tertunda akan menjadi skala prioritas tahun ini. Ia berharap agar proses lelang bisa berjalan lancar, sehingga pembangunan bisa sesuai dengan rencana. “Terutama di masa pandemi seperti saat ini, kemudahan aksesibilitas sangat diperlukan untuk meningkatkan perekonomian,”bebernya.

Salah satu program yang saat ini masuk dalam tahap perencanaan adalah normalisasi Kali Semarang yang diprediksi bisa teralisasi pada tahun depan. Saat ini progres rencana normalisasi sendiri masuk dalam tahapan detail engeneering desain (DED). “DED ini kita lakukan untuk bisa mempertahankan muka air di Kali Semarang, kita coba desain agar stabil dan airnya tidak surut,” jelasnya.

Baca juga:  Keran Umrah Kembali Dibuka

Disinggung wilayah yang mendesak dilakukan pembangunan, Iswar mengaku semua deaerah mendesak dibangun, karena memang dilakukan pemerataan. Belum lama ini saja, Wali Kota Hendrar Prihadi menyampaikan jika mulai tahun depan, setiap lurah di Kota Semarang akan menjadi Kuasa Penggunaan Anggaran (KPA) mulai 2022. Satu kelurahan akan mendapatkan anggaran minimal Rp 1,1 miliar sampai Rp 3 miliar. Artinya, setiap lurah bisa melakukan penataan anggaran untuk memajukan wilayahnya.

“Jadi, dia (lurah) kayak kepala dinas kecil, menata anggaran minimal Rp 1,1 miliar. Ada yang dapat Rp 2 miliar, ada yang Rp 3 miliar. Kelurahan yang akan menentukan anggaran tersebut akan dialokasikan di RW mana saja. Lurah berkomunikasi dengan tokoh masyarakat untuk kemajuan masing-masing wilayahnya, “ujar Hendrar Prihadi belum lama ini.

Sementara untuk pembangunan Semarang Outer Ring Road (SORR) mulai dari Wonosari Ngaliyan, Mijen, Gunungpati, dan Banyumanik, menurut Iswar, bakal selesai pada periode ini. “Ya itu nanti untuk pembebasan lahan dan pembangunan,” sambung Iswar.

Infrastruktur lainnya yang mulai dibangun setelah tertunda adalah Jalan Sriwijaya Semarang, serta RSUD Mijen yang saat ini proses lelang. Khusus Jalan Sriwijaya kembali dilanjutkan oleh Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang sejak awal April lalu.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang Suriyaty menerangkan, pembangunan jalan ini dilakukan dengan manambah satu lajur di sisi utara lajur lama untuk mengurai kepadatan yang kerap terjadi di jalan ini. “Akhir Maret lalu baru sudah kita persiapkan, awal April sudah dikerjakan sambil menunggu cuaca, kendala kita Maret lalu memang pada cuaca yang kurang bersahabat,” katanya. (den/cr1/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya