alexametrics

Roti Lentul, Sehari Habiskan Empat Kuintal Bekatul

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kurang pas rasanya jika berkunjung ke Kota Semarang tidak merasakan enaknya roti dari bekatul. Namanya memang terlihat aneh. Apalagi, bekatul biasanya lebih dikenal masyaralat untuk pakan ternak.

Bekatul merupakan kulit ari dari beras. Namun di tangan ibu satu ini, Ismiyati, warga Sawah Besar, Kota Semarang, bekatul bisa disulap menjadi makanan yang enak, khususnya produk roti. Kini, resep olahan bekatul menjadi roti sudah ia patenkan menjadi produk dari UMKM Super Roti.

Sebetulnya, sebelum menemukan resep ini, Ismiyati sudah terlebih dahulu membuat brand UMKM Super Roti. Sayangnya, masih kalah pamor dengan brand-brand besar lain di Kota Semarang. Sehingga tidak dilirik oleh konsumen. Namun kini, melalui roti bekatul telah mengantarkan Ismiyati memiliki tiga cabang outlet di Kota Lunpia. Dengan outlet pusat di daerah Sawah Besar.

Roti bekatul mulai ia produksi sejak 2011 silam. Semakin moncer saat produknya mengikuti lomba produk UMKM yang diselenggarakan oleh yayasan produsen rokok terkemuka di Indonesia.

Baca juga:  Pengguna Narkotika Sebaiknya Direhabilitasi

Sebenarnya, Ismiyati memang sudah memprodyuksi roti berbahan dasar terigu. Namun karena ingin mencari trademark yang berbeda, bekatul ia pilih untuk menjadi bahan dasar pembuatan rotinya sendiri. Produk rotinya pun dilirik oleh juri di setiap perlombaan produk UMKM dan menjadi juara. “Bekatul yang sering dianggap sebagai limbah, kami olah menjadi aneka roti yang low gluten maupun gluten free,” katanya.

Produk roti bekatulnya juga sudah lolos uji klinis dan dinyatakan sebagai makanan sehat untuk camilan. Bahkan ia mengklaim jika roti yang terbuat dari bekatul itu sangat dianjurkan untuk penderita diabetes, kolesterol tinggi, gangguan sembelit, dan liver. “Pengakuan dari konsumen kami seperti itu,” ujarnya.

Ia mengakui, sejak adanya roti bekatul sebagai masterpiece produknya, brand UMKM Super Roti mengalami peningkatan penjualan yang signifikan. “Orang mulai mencari roti bekatul karena mereka mencari apa yang merekabutuhkan, bukan apa yang mereka inginkan,” katanya.

Baca juga:  Penanganan Banjir Rob Semarang Dikebut, BPBD: Tanggul yang Jebol Sepanjang 20 Meter

Ismiyati mengungkapkan, ia berwirausaha karena ingin bekerja sesuai passion dan mandiri, serta membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Selain itu, dia juga ingin berperan dalam pemberdayaan perempuan, ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Sejak 2014, kami rutin mengadakan program sosial, seperti pelatihan baking untuk perempuan di desa dan lingkungan sekitar Super Roti. Pada 2016, kami mulai rutin membina UMKM perempuan yang sampai sekarang rutin berlatih membuat resep roti, foto produk dan materi yang lain,” katanya.

Kini ia pun harus membagi waktu antara kesibukan pekerjaan sehari-hari dengan tugas-tugas pelatihan yang diberikan. Sebelum mengikuti pelatihan, Ismiyati tidak pernah berpikir untuk meninjau kembali penawaran yang sudah saya berikan kepada klien.

Ternyata, pelaku UKM perlu menindaklanjuti apa yang sudah dibina dahulu. “Alhamdulillah, karena adanya pelajaran tadi, saya kembali melakukan negosiasi. Akhirnya clear, bisa deal, walaupun tugas itu saya kerjakan pukul 01.30 pagi,” ujarnya.

Baca juga:  Sepekan Mengungsi, Warga Trimulyo Mulai Kembali ke Rumah

Di masa pandemi saat ini, Ismiyati sudah merambah penjualan menggunakan sistem online. Sehingga tidak hanya mengandalkan penjualan dari outlet saja. Dalam sehari, sertidaknya 4 kuintal bekatul ia proses menjadi roti.

Selain bekatul dari kulit ari beras putih, pihaknya juga menggunakan kulit ari beras merah. Warna yang dihasilkannya pun berbeda. Proses pengolahan juga menurutnya tidak sulit. Hampir mirip pembuatan roti pada umumnya. “Namun yang membedakan ini bahan dasarnya bekatul,” katanya.

Lentul, merupakan nama dari produk roti bekatul. Bekatul tersebut ia peroleh dari pelanggannya Kota Semarang. Lentul merupakan roti bagelan, yang kini terus diburu oleh masyarakat yang datang ke Kota Semarang. “Saya bersyukur, Pemkot Semarang maupun Pemprov Jateng turut berperan mempopulerkan bekatul sebagai produk UMKM,” katanya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang mengenalkan produk UMKM melalui media sosialnya. “Itu bagus, karena umumnya pelaku UMKM terkendala masalah pemasaran,” katanya. (ewb/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya