alexametrics

Di Pasar Kanjengan, 40 Kepala Keluarga Terpaksa Tinggal Bersama Sampah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Bau busuk langsung menusuk hidung, begitu mendekati tempat pembuangan sampah di Pasar Kanjengan, Johar. Ribuan lalat beterbangan di atas tumpukan sampah yang menggunung. Kendati begitu, ternyata ada 40 keluarga yang tinggal di kawasan tersebut.

Sebelum pasar dibongkar, warga yang tidak memiliki rumah ini tinggalnya di dalam Pasar Kanjengan. Begitu pasar dibongkar, mereka terpaksa tinggal di dekat tempat sampah sejak Desember 2020. Mereka mendirikan tak layak huni. Dibangun dari kayu sisa-sisa material pembangunan pasar.

Listrik masih menumpang dari toko sebelahnya. Aktivitas mandi atau mencuci baju dilakukan di toilet umum pasar setempat. “Kerja sehari-hari, saya ngamen mbak,” kata Devita, 20, salah satu penghuni gubuk.

Baca juga:  PSIS Boyong 24 Pemain ke Solo, Ini Daftarnya

Ibu muda ini mengaku, pendapatan seharinya tidak sampai Rp 100 ribu. Tapi saat Jumat, ia bisa mendapat dua kali lipat. Sesekali ia mendapat tambahan uang dari upah mengupas bawang. “Kalau mengupas bawang, upahnya Rp 10 ribu untuk 5 kg. Alhamdulilah, bisa buat makan anak-anak saya,” ujarnya.

Rata-rata penghuni gubuk kumuh tersebut mencari penghasilan dari mengamen atau membantu pedagang Pasar Kanjengan mengupas bawang. Tak ada pekerjaan tetap.

Warga lain, Inuk mengaku, sejumlah bantuan sempat mereka terima. Di antaranya dari Yayasan Emas Indonesia yang terjun untuk mengajar anak-anak pada setiap Jumat.

Menurutnya, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang Krisseptiana Hendrar Prihadi sempat berkunjung. Tia Hendi, sapaan akrab Krisseptiana, memberikan sosialisasi serta menyediakan tempat yang layak bagi mereka. Rencananya pada 19 Maret 2021, penghuni gubuk ini akan dipindah ke Pondok Boro. Tapi ada juga informasi kalau mereka akan dipindah ke Rumah Susun (Rusun) Trimulyo, Genuk.

Baca juga:  Tiap Hujan, Warga Ngasinan Waswas

“Rencananya, kami minta habis Lebaran pindah ke rusun tersebut. Menunggu kenaikan kelas anak-anak yang sekolah. Semisal tidak ada jaminannya pindahan ke rusun, kami tidak akan mau,” ungkap Inuk.

Selepas sosialisasi, warga bersyukur dan mengecek kondisi Rusun Trimulyo. Mereka sudah mulai membersihkan rumah yang akan ditinggali nantinya. (mg5/mg8/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya