alexametrics

Tak Hasilkan Gas, PLTSa Jatibarang Merugi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – PT Bhumi Pandanaan Sejahtera (BPS), pihak yang mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Landfill Gas di TPA Jatibarang mengalami kerugian. Pasalnya, 9 hektare area yang dipasang bio membran tak menghasilkan gas metan lagi. Sehingga 10 titik sumur metan yang tersebar tak dapat menyerap gas untuk dikonversikan menjadi energi listrik.

Akibatnya PT BPS terkena denda yang harus dibayarkan kepada PLN, karena lima bulan terakhir produktivitas menurun. Target bulanan pasokan listrik ke PLN jarang terpenuhi. “Nyala (produktif, red) saja rugi, apalagi kalau mati. Jadi lima bulan terakhir bayar ke PLN,” beber Aas, teknisi setempat kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setiap titik sumur gas metan yang dibuat, dilengkapi dengan bentangan pipa berukuran 100 meter. Sepanjang 100 meter pipa-pipa tersebut menyerap gas dari tiap sudut ruang tumpukan sampah yang dipadatkan. Sedang kedalamannya kurang lebih 3,5 meter. Kendati tak menghasilkan gas, monitoring pada tiap-tiap sumur tetap dilakukan. “Kagiatan masih sama, bedanya cuma sudah tidak menghasilkan listrik,” imbuhnya.

Baca juga:  Pertanian Modern Tingkatkan Produksi Kini Petani Milenial Punya Peranan

Penjaga yang bertugas juga mengaku tetap bekerja seperti biasa. Tugas jaga dibagi tiga shift. Mereka tetap menemani teknisi mengecek kesepuluh titik sumur gas metan dan mengoperasikan mesinnya pada jam tertentu. “Tidak semua sumur menghasilkan jumlah gas yang sama. Kandungannya saja kadang berbeda,” katanya.

Ia menyampaikan dari keseluruhan sumur yang ada, kini tinggal sumur tiga atau empat yang menghasilkan gas. Agar tetap dapat menyerap gas metan dari sampah, dapat dilakukan penambahan area. Namun saat ini 46 hektare di TPA Jatibarang masih aktif digunakan untuk lahan pembuangan. Pihaknya mengaku tengah melakukan treatment dengan mengundang tenaga ahli gas metan. (cr1/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya