alexametrics

Makin Sepi, Pedagang Pasar Bulu Mulai Tak Betah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pembangunan Pasar Bulu yang menelan anggaran puluhan miliar seakan muspro. Hingga kini operasional pasar di kawasan Tugu Muda itu tak optimal.

Banyak kios yang tutup. Kondisinya lengang. Segelintir pedagang yang bertahan. Pasar Bulu mulai beroperasi setelah revitalisasi pada 2015. Dari 173 kios yang awalnya penuh pedagang, kini hanya 30-an kios.

Pantaun koran ini, bangunan tiga lantai itu hanya ditempati beberapa pedagang. Sistem zonasi juga tak membuat pedagang betah. Lantai satu untuk pedagang sembako dan pakaian. Lantai dua untuk sayur daging dan bahan makanan. Lantai tiga untuk gerabah dan perlengkapan rumah tangga. Semuanya lengang. Pedagang lebih memilih berdagang di luar pasar dan pinggiran jalan.

Baca juga:  Belum Vaksin, BST Belum Bisa Cair

Kepala Pasar Bulu Pujiono sudah berkali-kali menegur dan memberi peringatan. Bahkan bekerja sama dengan Bhabinsa dan Koramil untuk menertibkan. Tapi tak digubris. Kadang justru bermain petak umpet. Mereka beralasan tak mau pindah karena berjualan di dalam pasar malah sepi pembeli.

“Kadang sampe ada yang nangis-nangis nggak mau pindah karena di dalam nggak laku. Ya sudah mau gimana lagi sekarang juga keadaannya lagi kayak gini (pandemi),” ungkapnya.

Selama pandemi dinas pedagangan sudah memotong retribusi pedagang pasar hingga 50 persen. Eskalator juga dimatikan satu di tiap lantai untuk menghemat listrik. Namun hal itu tak membawa dampak apapun.

Kesan pembiaran tersebut menuai protes dari pedagang dalam pasar. Salbiyatun misalnya. Dia mengeluhkan pedagang perkakas yang dibiarkan di lantai bawah. “Mulai pasar bongkar raono sing rene (mulai pasar dibongkar tidak ada yang ke sini),” ujarnya.

Baca juga:  Jembatan Kretek Wesi Ditarget Rampung Desember

Menurutnya, para calon pembeli lebih memilih belanja di bawah. Selain menghemat waktu dan tenaga, mereka juga tak perlu bayar parkir.

Bukan Salbiyatun dan Rasminah saja yang menyayangkan aturan dan penertiban pasar. Sulimah, pedagang kelapa gilingan juga mengaku penjualannya menurun drastis dari sejak pasar direvitalisasi. Dulu ia mampu menjual seribu kelapa per hari. “Kini lima ratus saja tak habis,” ujarnya. Ia berharap pedagang ditertibkan dan pasar tata ulang. (cr1/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya