alexametrics

Siap-Siap Lur, E-Tilang Mulai Berlaku 17 Maret 2021

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tilang elektronik alias electronic traffic law enforcement (E-TLE) akan segera diberlakukan di wilayah hukum Polda Jateng. E-Tilang akan diberlakukan serentak mulai 17 Maret 2021 mendatang. Diprediksi denda E-Tilang di Jateng yang tertinggi adalah Kota Semarang.

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan, E-TLE  adalah penegakan hukum di bidang lalulintas yang menggunakan teknologi informasi dan sarana elektronik kamera CCTV. Tidak hanya Polda Jateng, nanti seluruh polda akan melaksanakan E-TLE ini.

“Kita mempunyai 27 titik yang tersebar di seluruh jajaran Polda Jawa Tengah. Yang nanti akan kita tingkatkan menjadi 52 titik,” kata kapolda di ruang Ditlantas Polda Jateng, Senin (22/2/2021).

Kapolda mengatakan, terdapat beberapa aspek pelanggaran dalam pemberlakuan E-Tilang ini. Adanya program kapolri ini diharapkan dapat mendidik kepada masyarakat untuk selalu menjaga diri terkait aspek pelanggaran lalulintas.

“Yang kita maksudkan aspek pelanggaran lalulintas adalah bahwa masyarakat kita nanti akan sadar dengan sendirinya. Menyadarkan masyarakat kita untuk benar-benar patuh dalam berlalulintas,” ujarnya.

“Di mana ini semuanya adalah untuk mengurangi risiko anggota kita bersentuhan langsung dengan masyarakat. Supaya tidak ada saling lirik antara pelanggar dengan petugas lalulintas,” ujarnya.

Baca juga:  Anggota BPK2L Semarang Ancam Lapor Pidana.

Selain kamera CCTV, sejumlah tempat di Jateng juga dipasangi speedcame. Setidaknya, yang dipasang, dan sudah siap dipergunakan ada di enam titik.

“Kita gunakan untuk memantau kecepatan masyarakat kita yang ugal-ugalan. Jadi kecepatan dari pada kendaraan kita pantau dengan kamera yang kita pasang. Ini semua juga sama dalam rangka untuk menyadarkan masyarakat supaya patuh berlalulintas,” tegasnya.

Terkait anggaran, pihaknya tidak menyebutkan detail jumlah untuk E-TLE ini. Ahmad Luthfi hanya mengatakan, anggaran ini semua dari Bapenas. Menurutnya, semua polres jajaran Polda Jateng akan melaksanakan atau memberlakukan E-Tilang.

“Untuk mempermudah, sudah ada server. Server-nya di tempat kita. Server akan memantau terkait bentuk pelanggaran, baik itu plat nomor, fisik, ciri motor, ciri-ciri pengemudi, dan itu tidak bisa dibantahkan dengan teknologi informasi elektronik yang kita punya,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya juga terus melalukan sosialisasi kepada masyarakat. Termasuk teknis masalah pengiriman pelanggaran dan sebagainya. Kapolda mengimbau dengan E-TLE diharapkan warga semakin patuh dan tertib dalam berkendara.

“Saya himbau kepada masyarakat untuk terdidik tidak melakukan pelanggaran. Karena sekecil apapun pelanggaran yang dilakukan,  akan termonitor kamera yang dipasang. Artinya, tidak bisa terbantahkan,” pungkasnya.

Baca juga:  Aplikasi Si Datang Pantau Warga Pendatang di Kelurahan Sumurboto

Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Rudy Safiruddin enggan membeberkan besaran denda minimal dan maksimal E-Tilang. Namun Rudy menyampaikan masing-masing daerah berbeda. Tergantung karekteristik, dan rapat masing masing daerah.

“Jadi, kita juga tidak semena-mena membuat atau mengambil denda maksimal. Pada saat denda nanti akan disesuaikan keadaan situasi daerah masing-masing. Tapi tabelnya sudah ada. Sebetulnya denda tertinggi kemungkinan yang harus dilakukan ya di daerah Semarang, karena kota besar dan kota percontohan,” tegasnya.

Rudy membeberkan, nantinya akan ada dua tahap dalam launching E-TLE ini. Tahap pertama sebanyak 27 titik pada 17 Maret. Sedangkan tahap dua, sesuai rencana pada April 2021.”Tahap dua nanti akan kembali kita launching, mungkin sekitar 50 titik. Tetapi untuk yang April masih menggunakan kamera portabel,” katanya.

Rudy mengakui, sebetulnya E-TLE di Polda Jateng sudah terpasang sejak tiga tahun yang lalu. Tetapi tidak bisa dilakukan, karena memang regulasinya belum ada. Sekarang ini, lanjut dia, sudah tidak mengalami kendala, dan siap dipergunakan dengan bekerja sama Dispenda dan Dinas Perhubungan.

“Di mana E-TLE ini juga akan melihat orang yang belum bayar pajak, pelanggaran ada berapa, salah satu contohnya dia menerobos lampu merah. Kemudian kita lihat pajaknya. Kalau pajaknya mati, dia dianggap melakukan dua pelanggaran,” bebernya.

Baca juga:  201 Anggota Senkom Bantu Lacak Kontak Erat Pasien

Pengendara yang melanggar dan terekam kamera E-TLE akan mendapat surat pemberitahuan yang diketahui berdasarkan nama pemilik dari nopol kendaraan. Manakala tidak merespon selama tiga kali pemberitahuan untuk membayar denda, secara otomatis akan diblokir.

“Sekali lagi secara otomatis kita blokir. Dan orang yang akan membayar denda harus menyertakan keseluruhannya. KTP asli, STNK, dan sebagainya, dan untuk disamakan dengan jenis kendaraan yang sebenarnya,” tegasnya.

Kepolisian sudah mempersiapkan segala sesuatunya terkait alasan masyarakat yang melanggar. Termasuk sanggahan kendaraan tersebut telah dijual atau dipakai orang lain. Menurutnya, saat inilah imbauan tepat supaya satu motor satu orang. Satu kendaraan satu orang sesuai nama pemiliknya.

“Apabila dipinjamkan itu risiko. Dan pada saat kita memberikan penilangan, kita tidak lagi melihat STNK dan SIM. Pada saat orang itu membayar, orang itu harus menunjukkan STNK dan SIM. SIM ini harus sesuai dengan wajah yang kita lakukan penindakan,” tegasnya. (mha/aro) 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya