alexametrics

Penanganan Kekerasan Seksual Belum Maksimal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Penanganan kekerasan seksual belum maksimal. Selain itu, korban tidak mendapatkan hak-haknya. Mulai hak restitusi, pemulihan psikologis, hingga pendidikan. Padahal, hak-hak korban kekerasan seksual anak telah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.

Menurut Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan untuk Keadilan (LBH APIK) Semarang Raden Ayu, belum maksimalnya penanganan kasus terhadap perempuan salah satu faktornya karena pelaku orang terdekat korban. Seperti ayah kandung, ayah tiri, kakek, paman, hingga tetangga. “Belum maksimal karena ada temuan yang penyelesaiannya dinikahkan dengan pelaku,” katanya.

LBH APIK sendiri telah menangani 51 kasus kekerasan seksual terhadap anak dalam kurun waktu 2016-2020. Pihaknya saat ini tengah memberi bantuan hukum dan pemulihan kondisi psikologis ibu kandung dan anak korban kekerasan seksual yang dilakukan ayah kandung di Demak. Diketahui, anak tersebut masih berusia tiga tahun. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Baca juga:  Kenalkan Jati Diri dan Budaya Sendiri

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Demak, pelaku telah diganjar penjara selama 11 tahun. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa selama 13 tahun penjara. Sayangnya, dalam putusan tersebut tidak mencantumkan hak-hak korban. Mulai hak restitusi hingga hak pemulihan psikologis korban. “Di manakah peran negara terhadap anak korban kekerasan seksual?,” tanyanya.

Raden Ayu menjelaskan, ibu korban merupakan pekerja rumah tangga. Ia biasa mencuci baju dari satu rumah ke rumah lain. Dari pekerjaanya itu, ia mendapatkan penghasilan Rp 40 ribu sehari. Padahal, jumlah uang tersebut untuk menghidupi empat anaknya. Mereka merupakan warga miskin yang tidak memiliki jaminan kesehatan dari negara. Mereka tinggal di satu kamar kontarkan.

Baca juga:  Jalan Ngasinan Amblas 50 Meter

Untuk mengantarkan korban periksa psikologis ke rumah sakit atau keperluan di pengadilan, ibu korban harus berjalan sambil mengandeng korban dan menggendong adik korban. Mereka harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa naik kendaraan umum. Atas kejadian yang dialami, korban mengalami trauma. Ketika tidur selalu mengigau dan menangis. “Menurut psikiater anak adalah dari dampak kekerasan seksual yang dialami korban,” jelasnya. (ifa/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya