alexametrics

Segera Disulap, Begini Wajah Kampung Melayu Setelah Revitalisasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Revitalisasi Kota Lama Semarang terus diperluas. Pada 2021 ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang  akan melakukan penataan kawasan Kampung Melayu.

Melihat rencana desain kawasan Kampung Melayu Semarang sungguh menakjubkan. Di kawasan yang meliputi Kelurahan Bandarharjo, Dadapsari, dan Kuningan itu bakal disulap menjadi destinasi wisata yang memesona. Kesan kumuh kawasan ini bakal berubah menjadi gilar-gilar.

Sejumlah jalan yang selama ini kerap direndam rob dan banjir bakal dirombak total. Mulai Jalan Kakap, Jalan Dorang, Jalan Layur, Jalan Petek, Jalan Inspeksi dan sejumlah jalan di tengah permukiman warga.

Di sejumlah titik, juga bakal dibangun ruang publik, food court, dermaga, jembatan dan gapura. Sejumlah jalan juga tidak bisa dilewati kendaraan lagi, tapi hanya untuk pejalan kaki.

Revitalisasi Kawasan Kampung Melayu ini merupakan kelanjutan dari Kawasan Kota Lama. Seperti diketahui, Kawasan Semarang Lama sendiri terdiri atas Kota Lama, Kauman, Pecinan, dan Kampung Melayu. Kawasan ini telah mendapatkan predikat status cagar budaya nasional oleh Pemerintah Pusat. Saat ini, Kampung Melayu mendapatkan dana dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR lewat program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

“Program ini sebagai peningkatan kawasan Kampung Melayu agar tidak kumuh. Karena banyak gedung cagar budaya, tentu ada kajian tersendiri,” kata Plt Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, Irwansyah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menjelaskan, kajian yang dilakukan tentunya akan diperdalam. Apalagi sebagai satu kesatuan Semarang Lama, ke depan tentunya akan dikembangkan menjadi salah satu tempat wisata seperti di Kota Lama.

Baca juga:  Waspadai Penyelundupan Bahan Terlarang, Gelar Exercise ISPS Code

“Awalnya adalah membuat permukiman yang sahat. Ada cagar budayanya juga. Misalnya, bangunan yang tidak masuk cagar budaya, jika nantinya dikembangkan bisa supporting ke pariwisatanya, kulinernya, atraksi, atau yang lainnya,” jelasnya.

Irwansyah menjelaskan, untuk melakukan penataan di sana melalui program Kotaku tersebut perlu dibuat rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL). Dengan program Kotaku, kata dia, nantinya juga akan dibangun sarana dan prasarana umum. Misalnya, ruang terbuka hijau dan lainnya.

“Adanya aturan ini bangunan cagar budaya tetap tercapai, selain itu bangunan yang tidak cagar budaya pun bisa menyesuaikan,” jelasnya.

Kawasan Kampung Melayu sendiri meliputi Kelurahan Bandarharjo, Dadapsari, dan Kuningan. Saat ini, daerah tersebut termasuk wilayah kumuh di Kota Semarang. Masuknya program Kotaku, juga akan memperbaiki infrastruktur, termasuk drainase.

“Belum lama ini Pak Wali Kota Hendrar Prihadi memohon pembiayaan kepada Kementerian PUPR untuk Kotaku, Alhamdulillah dapat dan setelah berjalan akan kembali dilanjutkan dengan revitalisasi Kampung Melayu. Anggarannya nanti kita minta bantuan ke Kementrian PUPR,” kata Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Hevearita G Rahayu.

Baca juga:  Pajero Terguling, Lima Mobil Rusak Berat

Mbak Ita –sapaan akrabnya—menjelaskan, dalam program Kotaku, selain penataan kawasan kumuh juga akan dilakukan pembangunan Jembatan Sleko yang menjadi penghubung antara Kampung Melayu dan Kota Lama. Selain itu, juga gapura yang menunjukkan Kampung Melayu dan bangunan cagar budaya di sekitar Masjid Layur.”Untuk lelang Kotaku ini dilakukan Februari ini. DED-nya sudah ada, total anggaran sekitar Rp 45 miliar,” jelasnya.

Terkait revitalisasi, saat ini sedang dilakukan pengajuan oleh Pemkot Semarang. Anggaran yang disiapkan sebesar Rp 55 miliar. Mbak Ita yang juga menjabat sebagai Wakil Wali Kota Semarang ini yakin, pengajuan tersebut bakal diterima Kementerian PUPR layaknya Kawasan Kota Lama.

“Dulu kita ajukan Kota Lama Rp 60 miliar, Alhamdulillah malah ditambah. Semoga saja nanti juga bisa ditambah anggarannya untuk di Kampung Melayu,” harapnya.

Jika memang mendapatkan lampu hijau, dipastikan pengembangan Kampung Melayu akan lebih condong ke pariwisata. Selain Kampung Melayu, permohonan revitalisasi juga akan dilakukan di Kali Semarang yang dulunya menjadi penghubung empat kawasan tersebut.

“Bisa saja revitalisasi Kali Semarang dilakukan mulai belakang balai kota atau di Kawasan Pecinan sampai ke muara. Nantinya kalau sudah menyatu juga ada wisata air. PR-nya adalah di Kawasan Pecinan, nah saat ini RTBL-nya juga sedang dibuat,” katanya.

Baca juga:  Hendi Siapkan RSUD Mijen untuk Pasien BPJS

Sementara ini, sosialisasi yang dilakukan adalah program Kotaku, yakni pembenahan kawasan kumuh. Relokasi PKL pun telah dilakukan. Pihaknya juga sedang melakukan inventarisasi bangunan cagar budaya di Kampung Melayu.

“Di sana banyak bangunan cagar budaya. Misalnya, Masjid Layur dan Kelenteng Dewa Bumi. Tentu dibutuhkan sebuah badan pengelola seperti di Kota Lama, kalau sudah dilakukan revitalisasi nanti,” ucap Ita.

Jika revitalisasi benar-benar dilakukan, lanjut dia, bangunan cagar budaya tidak boleh mengalami perubahan fasad. Keunikan dari Kampung Melayu sendiri adalah rumah khas Melayu, yakni perpaduan Bugis, Banjar, dan Gujarat. Kebanyakan bangunan ini menggunakan kayu.”Untuk revitalisasi tadi, sekarang sedang kita ajukan. Yang jelas masih berproses. Kalau Kotaku targetnya akhir tahun ini selesai,” jelasnya.

Meski baru taraf pengajuan dan terus berproses, pemkot juga sudah menyusun RTBL untuk Pecinan, dan tinggal merancang DED. Khusus DED Kali Semarang sudah dilakukan dan telah rampung. “Pak Hendi ingin keempat wilayah ini nggak njomplang. Jadi harus dilakukan penataan di Pecinan. DED Kali Semarang juga sudah selesai, mininal yang akan ditata di spot wisata seperti Kelenteng Tay Kak Sie dan Semawis,” tandasnya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya