alexametrics

Banjir, Awak Bus Mengaku ‘Boboran’

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Banjir di Jalan Raya Kaligawe, Kota Semarang tak kunjung surut. Hingga kemarin (11/2/2021), ketinggian air masih 20 sampai 50 sentimeter. Titik genangan yang paling parah di bawah jembatan tol Kaligawe, depan RSI Sultan Agung, simpang kantor kecamatan lama, serta depan Mapolsek Genuk. Praktis, banjir sejak Sabtu (6/2/2021) lalu ini berdampak pada sektor transportasi umum. Bahkan, sejumlah awak bus mengaku pendapatannya merosot hingga 70 persen.

Bobor (merugi, red), empat hari gak entuk duwit, gak iso setoran. Tuku solar susah,” keluh Narso, sopir bus Semarang-Jepara saat ngetem di pertigaan Genuk, Kamis (11/2/2021).

Pria asal Demak ini mengatakan, kondisi banjir menyulitkan untuk mencari penumpang. Sehingga pendapatannya turun drastis. Biasanya setiap hari setoran kepada pemilik armada sebesar Rp 150 ribu. Tapi, sekarang hanya setor Rp 50 ribu.

Baca juga:  Tertimpa Tembok Hotel Awan Sewu, Empat Pekerja Tewas

“Setor segitu (Rp 50 ribu), ya minus. Saya hanya dapat Rp 25 ribu. Padahal kalau normal bisa sampai Rp 75 ribu. Selama pandemi dan banjir, jumlah penumpang berkurang sampai 70 persen,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, jumlah armada bus lokal yang beroperasi juga berkurang. Tinggal sekitar 25 armada, dari semula 150 bus. Dampak banjir juga menyebabkan kemacetan, dan merusakkan jalan.

“Jalan rusak, mulai batas kota sampai Sayung. Kalau normal satu jam, sekarang ya dua jam lebih. Kemarin paling parah, Sayung sampai pertigaan Genuk sampai 3 jam. Itu pas pagi hari. Jadi boros solar,” keluhnya.

Meski demikian, pihaknya tidak berani menaikkan tarif penumpang.  “Selama banjir, sehari hanya dua kali PP, biasanya sampai lima kali PP. Saya tidak sampai Terboyo,” katanya

Baca juga:  Ratusan Narapidana Lapas Kedungpane Ikuti Upacara Hardiknas

Heri, kondektur bus patas Semarang-Surabaya mengaku kesulitan mencari penumpang dampak dari banjir. Sudah satu jam lebih ngetem di pertigaan Genuk, baru mendapat penumpang tidak sampai 20 orang. “Sehari normal biasanya dari Semarang 25-30 orang. Kalau sekarang paling hanya bawa 10 orang saja. Berkurangnya banyak, sampai 60 persen” katanya.

Diakui, banyak penumpang kebingungan,  Jalan Kaligawe Raya masih terendam banjir. Praktis, bus-bus tidak ada yang sampai pertigaan Terboyo.

“Penumpang yang transit dari Solo, Jogja, dan Pekalongan pada bingung, jalannya banjir, macet. Kita pun terganggu. Kendaraan yang dari Surabaya putar di Kudus, soale jalan mau ke sini macet, banjir,” jelasnya.

Pihaknya juga mengaku, perjalanannya harus molor sampai dua jam, karena arus lalintas macet. Kemacetan paling parah mulai Sayung hingga depan Terminal Terboyo.

Baca juga:  125 Warga Terjangkit Chikungunya, Desa Kulu Paling Tinggi

“Macet dari Sayung sampai Genuk bisa sampai tiga jam lebih. Normalnya paling 30 menit. Untuk operasional ya sebenarnya rugi. Kalau normal saja buat beli solar susah, apalagi seperti ini. Tapi, kalau kita tidak berusaha ya dapat pemasukan dari mana,” katanya.

Salah satu penumpang, Mumun, mengaku kesulitan mencari transportasi umum saat pulang ke Demak. Ia telah menunggu lebih dari satu jam, namun belum mendapatkan bus.  “Demak ke Semarang biasanya satu jam, sekarang bisa dua jam lebih. Ongkos tidak naik, tetap Rp 3 ribu,” akunya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (11/2/2021) siang, arus lalulintas di pertigaan Genuk mengalami kemacetan panjang. Kendaraan dari timur atau Demak dibelokkan ke arah Jalan Woltermonginsidi. Sementara untuk kendaraan besar masih diperbolehkan menerjang banjir Jalan Raya Kaligawe. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya