alexametrics

Lapas Semarang Rentan, 25 Narapidana Dapat Asimilasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebanyak 25 narapidana mendapatkan asimilasi di rumah. Mengingat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang sangat rentan terjadinya penularan Covid-19. Apalagi pemerintah telah menetapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), jadi harus tetap mematuhinya.

“Narapidana yang menjalani asimilasi di rumah harus selalu menjaga kesehatan, tidak keluyuran, dan minum vitamin untuk menjaga ketahanan tubuh,” kata Kepala Lapas Kelas I Semarang, Kamis (4/2/2021).

Menurutnya, 25 narapidana ini dibebaskan karena sudah memenuhi syarat untuk pelaksanaan asimilasi di rumah. Bukan narapidana yang melakukan pengulangan tindak pidana atau residivis, serta bukan pidana lebih dari satu perkara melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).

Sebelumnya, jumlah akumulasi tahun 2020 Lapas Semarang telah mengeluarkan sebanyak 577 orang dan pada tahun awal 2021 sudah ada 51 narapidana yang mendapatkan asimilasi di rumah.

Baca juga:  15 Pedagang Reaktif, Pasar Jatingaleh Ditutup Tiga Hari

Ke depan, lanjutnya, masih ada penambahan jumlah narapidana yang bebas asimilasi di rumah. Namun menunggu hasil putusan inkrah dari pengadilan dan syarat-syarat administratif yang harus dipenuhi.

Terpisah, Kepala Bapas Semarang Lilis Yuaningsih mengatakan warga binaan di bawah pengawasan Pembimbing Kemasyarakatan (PK) tidak ada yang melakukan pengulangan tidak pidana. “Alhamdulillah semua baik-baik,” katanya.

Lilis merinci, saat ini Bapas Semarang menangani klien anak dari program pembebasan bersyarat 4 orang, diversi 2 orang, Anak Kembali kepada Orang Tua (AKOT) 2 orang, Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS) 8 orang, asimilasi di rumah 5 orang. Mereka tersandung kasus narkoba 1 orang, pidana umum 15 orang, dan asimilasi di rumah 5 orang.

Sementara, klien dewasa dari program pidana bersyarat 1 orang, pembebasan bersyarat 858 orang, cuti menjelang bebas 4 orang, cuti bersyarat 178 orang, asimilasi di rumah 614 orang. Mereka merupakan narapidana kasus narkoba sebanyak 306 orang, tindak pidana korupsi 18 orang, teroris 2 orang, pidana umum 718, dan asimilasi di rumah 614. “Sehingga total ada 21 klien anak dan 1647 klien dewasa, mereka,” paparnya.

Baca juga:  Wisudawan Terbaik Diwakili Robot

Program pembimbingan dilakukan melalui aplikasi Siwasklija yaitu sistem pengawasan jarak jauh. “Pihak Bapas akan mengetahui titik ordinat klien berada dimana dan apa yang dilakukan kesehariannya karena dilengkapi dengan web kamera,” jelasnya. (ifa/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya