alexametrics

Tanah Gerak, Satu Rumah Terpaksa Dirobohkan karena Sudah Miring

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sedikitnya 14 rumah warga RT 6 RW 10 Kampung Trangkil, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati retak-retak. Ini akibat tanah di perumahan ini mengalami gerak setelah diguyur hujan deras beberapa hari ini. Bahkan, tiga rumah terpaksa dirobohkan lantaran kondisinya sudah membahayakan.  Salah satunya rumah milik Sunarno.

“Daripada menimpa tetangga kanan kiri lebih baik dirobohkan sekalian. Karena ditempatipun juga membahayakan,” ujar Sunarno kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (1/2/2021).

Rumah yang sudah bertahun-tahun ditempatinya itu kondisinya miring akibat tanah bergerak. Kejadiannya Sabtu (30/1/2021) malam lalu.

“Hujan deras sejak Jumat sampai Minggu. Tanahnya gerak. Awalnya, perlahan-lahan. Baru Sabtu malam, gerak tanah mulai kenceng,” bebernya.

Khawatir terjadi apa-apa, sejak Minggu (31/1/2021), ia bersama keluarganya mengosongkan rumah tersebut. Ia tinggal sementara di tempat saudaranya yang masih berdekatan.  “Kondisi bangunan sudah miring. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ya dirobohkan sekalian,” ujarnya.

Baca juga:  Ekonomi Sulit jadi Pemicu Perceraian di Masa Pandemi

Ketua RW 10 Sarkun mengatakan,  tembok rumah rata-rata mengalami retak-retak. Terutama yang lokasinya di lahan lembah, dan kondisi tanahnya tidak padat.

“Tanahnya memang labil. Berdasarkan hitungan saya, ada enam rumah yang rusak parah. Yang dirobohkan ada tiga rumah. Kondisinya sudah mengkhawatirkan, sudah bahaya, karena miring 45 derajat,” bebernya.

Ia menjelaskan, di RW 10 terdapat 346 KK. Namun kerusakan parah terjadi di RT 6. Dari 48 KK warga RT 6, sebanyak 14 rumah mengalami retak-retak.  “Selain enam rumah, ada sejumlah rumah yang mengalami retak-retak. Tahun 2014 juga pernah terjadi di tempat yang sama.  Warga waswas, apalagi kalau hujan,” katanya.

Sarkun mengaku sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang untuk menyediakan tenda darurat atau posko di RW 10. Pihaknya mengimbau warga untuk terus berhati-hati ketika sewaktu-waktu hujan deras supaya meninggalkan tempat itu.

Baca juga:  Hari Ini Puncak Arus Mudik Penumpang Kereta Api di Semarang

Alhamdulillah sudah terealisasi. Paling tidak tempat pelariannya sudah ada, ya di posko tenda. Tenda itu digunakan sewaktu-waktu untuk berlindung,” lanjutnya.

Ia menambahkan, antisipasi berikutnya, pihaknya sedang berembug dengan RT setempat untuk perbaikan drainase. Tahun lalu, pihaknya sudah mengusulkan ke Pemerintah Kota Semarang supaya dibantu pembangunan saluran air. “Tahun ini, informasinya Pak Wali sudah ACC mau mengerjakan saluran air itu,” ujarnya.

Ketua RT 6 RW 10 Priyono menambahkan, selain tiga rumah sengaja dirobohkan, tercatat ada 14 rumah yang rusak karena temboknya retak selebar 5 cm. Warga yang rumahnya  rusak terpaksa mengungsi ke rumah tetangga atau saudaranya. “Di kampung kami juga sudah didirikan dua tenda milik Dinas Kesehatan dan Polda Jateng. Apabila warga membutuhkan, bisa digunakan untuk tidur,” katanya.

Baca juga:  Eks Kasi Penuntutan Kejati Jateng Dituntut 2,5 Tahun

Dikatakan, sebenarnya warga ingin pindah rumah, tetapi tidak ada biaya. “Kalau misalnya pemerintah merelokasi yang lebih baik lagi, mungkin mau. Tetapi kalau membeli, warga tidak mampu, karena kondisinya semacam ini,” ujarnya.

Lurah Sukorejo Wiwoho Budi Hartono mengatakan,  pihaknya hanya bisa memberikan imbauan agar warga tidak menempati daerah tersebut lantaran tanahnya labil. “Tahun 2014, warga sudah sempat direlokasi ke rumah susun sewa Kaligawe, tetapi warga kembali lagi ke tempat itu. Di wilayah Sukorejo ada beberapa tempat yang tanahnya labil, di antaranya, Deliksari dan Trangkil,” katanya. (mha/hid/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya