alexametrics

Ini Kronologi Dugaan Malapraktik RS Telegorejo yang Berujung Meninggalnya Pasien

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Diduga melakukan malapraktik, Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo Semarang dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, Senin (25/1/2021) sekitar pukul 18.00. Pelapornya, Raplan Sianturi, purnawirawan TNI,  warga Kelurahan Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sebab, akibat dugaan malapraktik tersebut, anaknya, Samuel Reven, 26, meninggal.

Raplan Sianturi menjelaskan, peristiwa nahas yang menyebabkan hilangnya nyawa anak pertamanya itu terjadi pada 3 November 2020. Ia menjelaskan permasalahan itu bermula ketika keluarganya melakukan perjalanan darat dengan menggunakan mobil dari Jakarta menuju Magelang dan bermalam di Kota Semarang pada 27 Oktober 2020.

“Samuel yang mengemudikam mobil dari Jakarta. Sampai Semarang pada 27 Oktober malam itu tidak ada masalah,” kata Raplan didampingi istrinya, Erni Marsuliana.

Keesokan harinya, lanjut dia, Samuel bersama keluarga tinggal seharian di hotel tidak mengeluhkan tentang kondisinya. Anaknya baru mengeluh badannya kurang sehat pada 28 Oktober malam, dan langsung datang ke RS Telogorejo untuk memeriksakan diri.

“Awalnya ngerasa sakit asam lambungnya. Kemudian saya bawa ke IGD RS Telogorejo,” tambah Erni Marsuliana, ibu almarhum kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di IGD, hanya sekitar dua jam recovery. Samuel sudah merasa enak. “Dokter bilang sudah bagus kok, Bu. Diperiksa akurasi darah dalam tubuh 99 persen. Boleh pulang, Bu. Kata dokter jaga di IGD,” katanya.

Setelah itu, ia dan anaknya kembali ke hotel. Namun keesokan harinya, pada 29 Oktober, anaknya kembali mengeluhkan rasa sakit yang sama. Erni dan suaminya pun kembali membawa Samuel ke IGD RS Telogorejo.

Di RS itu, Erni minta anaknya diperiksa dokter spesialis penyakit dalam.  Setelah diperiksa, dokter bilang Samuel harus masuk ruang perawatan. “Harus ke HCU. Segera ya Bu,” ujar Erni menirukan ucapan dokter itu sambil menangis.

Anehnya, Samuel justru dijemput petugas dan dibawa IGD. Di IGD, anaknya diinfus. Sedangkan Erni dan suaminya disuruh menunggu di luar. Di IGD sejak pukul 18.30 hingga 21.30, anaknya tidak segera mendapat kamar. “Saya sempat nanya suster, katanya suruh sabar, lagi dicari (kamarnya). Suster itu minta saya langsung ke bagian pendaftaran,” katanya.

Erni lalu menyampaikan ke bagian pendaftaran, kalau tidak ada kamar kosong, lebih baik pindah ke rumah sakit lain. Ia lalu kembali ke IGD sekitar pukul 22.30. Namun setelah menunggu sekian waktu, belum juga mendapatkan kamar.

Baca juga:  Dana BOS Swasta dan Negeri Jomplang

“Suruh sabar lagi. Nggak lama keluarlah. Katanya ini kan masa pandemi, rapid tes anak saya reaktif. Saya tanya kalau reaktif, Covid apa bukan? Jawabnya belum tahu. Katanya ini ada infeksi, bisa jadi infeksinya reaktif. Katanya gitu. Tunggu dulu hasil cek paru-paru dan torak,” bebernya.

Hingga pukul 23.00, Erni belum mendapat penjelasan nasib anaknya dari pihak rumah sakit. Niatan untuk pindah ke rumah sakit kembali muncul dan disampaikan ke salah satu suster. Namun-lagi-lagi, ia diminta bersabar.

Gak lama kemudian datanglah petugas bagian pendaftaran masuk ke IGD. Menyampaikan, gini bu, kalau ibu mau cepat dapat kamar, ibu tanda tangan dulu ini. Ini nanti biayanya semua dari Kementerian Kesehatan. Lho saya mau bayar pribadi kok, emangnya anak saya Covid. Saya bilang gitu, katanya biar cepat dapat kamar,” ujarnya geram.

Bagian pendaftaran itu terus memaksa Erni tanda tangan. “Petugas itu juga minta Kartu Keluarga. Saya heran kok rumah sakit minta Kartu Keluarga. Saya bilang, tidak mau. Masak rumah sakit minta Kartu Keluarga. Katanya biar biaya rumah sakit ditanggung Kemenkes,” lanjutnya.

Merasa kasihan dengan anaknya dan agar cepat mendapatkan perawatan, akhirnya Erni mengalah. Ia menandatangani berkas yang disodorkan tersebut. Selang 15 menit setelah itu, anaknya mendapatkan kamar. Namun di ruang isolasi.

“Kenapa harus ruang isolasi? Kan dokternya mintanya HCU. Kalau reaktif kan masuknya HCU isolasi. Saya bukan orang bodoh. HCU isolasinya mana? Katanya isolasi dulu. Kalau memang tidak ada, ya dirujuk ke rumah sakit yang lain supaya anak saya bisa masuk HCU. Bukan isolasi,” jelasnya.

Kejadian ini berlangsung hingga menjelang tengah malam pukul 23.30. Erni lalu meminta supaya anaknya dilakukan swab. Swab sendiri baru dilakukan esok paginya, 30 Oktober 2020.”Saya bilang swabnya saya bayar sendiri. Gak usah lagi digratiskan, karena terlalu lama,” katanya.

Selanjutnya, anaknya dimasukkan ke ruang isolasi. Erni hanya diizinkan mengantar sampai di depan pintu. Ia sangat menyesalkan pihak rumah sakit yang tidak mau menyampaikan fasilitas ruang isolasi tersebut.

Baca juga:  Semarang Jadi Contoh Kota Bahagia di Indonesia

“Kamar isolasinya seperti apa? Fasilitasnya seperti apa? Kita tidak tahu. Tidak diinformasikan ke kami,” ujarnya.

Setelah berkomunikasi melalui WA dengan anaknya, Erni menitip pesan kepada suster untuk menjaganya. Ia lalu kembali ke hotel untuk mengambil pakaian anaknya. Erni kembali ke rumah sakit keesokan harinya.

Sekitar pukul 07.30, Erni sudah sampai ruangan Bougenvil RS Teleogorejo. Ia sempat menanyakan kondisi anaknya kepada suster, dan dijawab masih dalam perawatan. Pada Senin pagi, Erni dipanggil oleh dokter spesialis yang menangani anaknya. Dokter menyatakan kalau hasil swab negatif. Toraknya juga bersih, tidak ada covid. Namun anaknya tidak diperbolehkan dibawa pulang, harus diswab sekali lagi.

Pada 2 November 2020, ia masih sempat berkomunikasi dengan anaknya sekitar pukul 22.30. Samuel juga sempat minta untuk dibawakan air mineral dan minuman kaleng susu beruang. Sang anak juga sempat mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak nyaman.

“Terakhir bilang, mah di sini susternya semuanya brengsek mah. Gak bisa bantu saya, mau balikin badan, kaki, saya sudah lemes. Mereka gak mau peduli. Saya bilang, sabar ya nak, besok pagi saya datang ke situ. Saya bilang saya bawain semua permintaan kamu ya nak,” katanya.

Komunikasi saat itu hanya berlangsung sekitar 15 menit. Selang satu jam kemudian, pihak rumah sakit menyampaikan sang anak kritis. Erni pun bergegas menuju rumah sakit. Namun, Erni dilarang masuk ke ruang perawatan. Dokter spesialis yang menangani anaknya pun tak kunjung datang saat ditelepon. “Katanya sudah ada dokter jaga,” ujarnya.

Selang 30 menit, Erni mendapat kabar anaknya meninggal Selasa, 3 November 2020 sekitar pukul 00.10.”Dokter jaga bilang, Bu maaf anak ibu sudah gak ada. Ya ampun Tuhan. Itu kayak kesambar geledek. Terus dia bilang, ibu sekarang boleh masuk. Tadi, pada saat kritis, kita tidak boleh masuk karena harus pakai APD. Giliran sudah meninggal, gak pakai APD kita semua masuk. Itu bagaimana protokol kesehatannya. Mereka juga tidak menyarankan kita pakai APD,” bebernya.

Diakui, hingga kini, pihak keluarga belum mengetahui penyakit yang menyebabkan anaknya meninggal. “Anak saya dinyatakan meninggal dengan surat keterangan penyakit tidak menular. Maksudnya apa, rumah sakit macam apa ini?  Selama empat hari tidak bisa lihat anak saya. Nggak tahu pengobatan di dalam seperti apa? Di situ katanya juga disuntik insulin,” jelasnya.

Baca juga:  Patroli Malam Digencarkan, Sasar Tempat Nongkrong dan Rumah Makan

Ironisnya lagi, lanjut Erni, anaknya meninggal di ruang dengan tempat tidur yang tidak layak. Kaki kirinya menggantung, sedangkan kaki kanan tertekuk. Bahkan, sampai dimakamkan, kondisinya seperti itu.

Pihak keluarga sudah bertemu dengan  pihak rumah sakit dua kali dan tidak membuahkan hasil. Jalur damai yang ditawarkan rumah sakit pun tidak ada tindak lanjut. Bahkan resume dari rumah sakit sempat berubah. Resume pertama menurut Erni tidak sesuai kenyataan.

“Contohnya resume pertama anak saya suhu  39 derajat saat datang, saya sanggah. Cek IGD. Resume kedua 36 derajat,” tegasnya.

“Sepertinya terputus komunikasi antara dokter dan perawat yang menangani, seolah mereka main-main,” imbuh ayah Samuel, Raplan Sianturi.

Kuasa hukum keluarga pasien, Artha Uli mengatakan, dari dua kali pertemuan dengan pihak rumah sakit, ditawarkan penyelesaian secara kekeluargaan, namun belum tahu apa wujudnya. Keluarga sebenarnya minta kejelasan soal apa yang sebenarnya dialami pasien.

“Damai seperti apa? Tidak pernah diberitahu. Akhirnya buat somasi dengan dugaan malapraktik. Dijawab dengan tetap diselesaikan secara damai. Kami pun melakukan pengaduan ke Polda Jawa Tengah dan diarahkan ke Ditreskrimsus,” kata Artha.

Aduan sudah tercatat dengan nomor register STPA/46/I/2021/Reskrimsus tertanggal 25 Januari 2021. Keluarga almarhum masih terbuka jika pihak rumah sakit kembali ingin bertemu. Raplan juga menegaskan, ingin kejelasan soal penyebab meninggalnya Samuel , dan berharap kejadian yang menimpa anaknya tidak terulang.  “Semoga ini tidak sampai terulang ke pasien lain,” harapnya.

Sementara itu, Direktur Pemasaran SMC  RS Telogorejo yang membawahi Bagian Humas  dr Gracia Rutyana H mengatakan, perawatan dan tindakan medis sudah dilakukan sesuai standar yang baik.

“Seluruh kronologis proses dan tindakan medis telah kami jelaskan dengan proporsional dan benar, serta sesuai standar organisasi profesi kepada pihak keluarga. Selanjutnya kami tetap bersedia melakukan mediasi dengan pihak keluarga serta organisasi profesi atau instansi terkait,” katanya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya