alexametrics

Tinggal di Gubuk Selama Empat Tahun, Hidup dari Bantuan Kelurahan dan Tetangga

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangSelama empat tahun, Supiyati, 53, bersama putra keduanya, Yanuar Iskandarsyah, tinggal di gubuk di dekat kandang ayam. Rumah bedeng tidak layak huni itu terbuat dari triplek bekas. Lokasinya di tengah kebun kosong tak jauh dari Kampus Unisbank Jalan Kendeng, Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur. Untuk menuju ke sana perlu meniti jembatan kayu rapuh di atas sungai kecil.

Yang memprihatinkan, janda dua anak ini tidak bisa bekerja karena sakit.  Ia hanya bisa terbaring lemah. Sejak 2016 lalu, ia menderita sakit yang lumayan parah. Supiyati dan Yanuar terdaftar sebagai warga Kelurahan Bendan Ngisor RT 5 RW 3.

Yanuar mengaku hanya tinggal berdua dengan ibundanya. Sedangkan ayahnya sudah menikah lagi setelah bercerai dengan Supiyati. Sementara kakak Yanuar sudah berkeluarga dan tinggal di Blora.

Baca juga:  Rapid Test Kedua Belum Dianggap Cukup

“Sebelumnya saya pengin kerja waktu ibu tidak bisa kerja, tapi saya diminta tetap sekolah, dan terpaksa pindah kesini.  Keluhan ibu perutnya ada benjolan, dan kakinya pegel,” jelas lulusan SMK Negeri 4 Semarang ini.

Selama beberapa tahun tinggal di dekat kandang ayam, Yanuar dan ibunya hidup seadanya. Mereka hanya mengandalkan bantuan dari kelurahan, dan tetangga terdekat yang merasa iba melihat keduanya.

“Dapat bantuan dari kelurahan, sehari-hari juga kadang dibantu tetangga,” katanya.

Kondisi memprihatinkan Supiyati dan anaknya ini mendapat perhatian dari Pemkot Semarang dan DPRD Kota Semarang. Rencananya, keduanya akan dipindah ke Panti Mardi Utomo, Kramas, Banyumanik.

Komisi D DPRD Kota Semarang, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Camat Gajahmungkur dan Lurah Bendan Ngisor, Rabu (20/1/2021) petang mendatangi kediaman Supiyati untuk memberikan bantuan dan meminta keduanya mau direlokasi ke Panti Mardi Utomo.

Baca juga:  Penumpang KA Rela Antre Ikuti Rapid Test Antigen

“Kami nggak bisa bantu atau merekomendasikan bedah rumah, karena lahan yang digunakan bukan milik beliau,” kata Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo saat mengunjungi Supiyati.

Anang menjelaskan, kondisi warga Semarang seperti Supiyati ini memang mendesak diberikan bantuan agar mentas dari kemiskinan. Apalagi permasalahan utamanya adalah Supiyati tidak bisa bekerja lantaran sakit, dan Yanuar pun baru lulus SMK tahun lalu.

“Fokusnya adalah tertangani dulu dari sisi kesehatan ataupun permukiman yang layak. Kita ajak lintas dinas untuk memberikan pemecahan masalah biar bisa tertangani. Dikarenakan mereka belum bisa mandiri,” jelasnya.

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Semarang Tri Waluyo mengatakan, jika penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Semarang sebenarnya tidak besar. Jumlahnya kurang dari tiga persen dari jumlah penduduk Kota Lunpia.

Baca juga:  Penjualan Mobil Mewah Tumbuh 20 Persen

“Kita lakukan assement, kebutuhan dan kesulitannya apa? Biasanya teridentifikasi kesehatan dan rumah. Hal ini lalu kita komunikasikan ke DPRD dan lintas OPD,” katanya.

Dikatakan, Dinsos fokus pada persoalan PMKS. Menurut Tri Waluyo, PMKS biasanya datang dari para pendatang yang kemudian tinggal dan menjadi warga Semarang. “Banyak yang dari luar Semarang atau pendatang. Untuk kasus ini, sebelumnya Supiyati enggan ke panti. Namun akhirnya mau, ya harusnya mau dulu agar mendapatkan tempat yang layak,” tuturnya.

Di Panti sosial, lanjut dia, masyarakat yang masuk dalam PMKS bisa tinggal di rumah petak gratis. Di sana pun bisa dibekali dengan keterampilan kerja. Misalnya, bengkel, batik ciprat, dan lainnya. “Setelah mandiri, bisa keluar dan membuka lapangan kerja,” katanya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya