alexametrics

Rumdin Jadi Rumah Sakit Darurat, Islamic Center Manyaran untuk Isolasi Pasien OTG

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Jumlah warga terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Semarang kian meledak. Bahkan angkanya sudah menyentuh 1.000 kasus. Data di website siagacorona.semarangkota.go.id hingga Kamis (7/1/2021) pukul 14.37 kemarin, tercatat jumlah pasien Covid-19 aktif sebanyak 1.025 orang. Rinciannya, 734 kasus warga Semarang, dan 291 kasus warga luar kota.

Tingginya kasus korona ini, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berencana akan meningkatkan status tempat isolasi terpusat di rumah dinas wali kota menjadi rumah sakit darurat untuk menangani pasien Covid-19 yang bergejala.

“Mulai Senin rumdin akan kami tingkatkan jadi rumah sakit darurat. Nantinya tempat ini akan digunakan untuk merawat pasien Covid-19 yang bergejala demam ataupun sesak,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (7/1/2021).

Hendi –sapaan akrabnya– menjelaskan, pemkot saat ini tengah berusaha menyiapkan tempat isolasi lainnya, dan rencananya akan menggunakan Gedung Islamic Center Manyaran. Sama seperti di rumdin sebelumnya, pasien yang akan dirawat adalah pasien tanpa gejala atau OTG. “Saat ini, 99 persen final, dalam waktu dekat lokasi baru di Islamic Center ini akan digunakan dan bisa mengurangi jumlah pasien yang besar di rumdin,” bebernya.

Baca juga:  Asesmen Hasil Belajar Siswa selama Pandemi dengan Plickers

Politisi PDI Perjuangan ini juga meminta agar Dinas Kesehatan terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan rumah sakit yang ada di Kota Semarang untuk mencantumkan kapasitas tempat isolasi yang dimiliki. Nantinya, kata dia, informasi ini  bisa diakses di aplikasi siagacorona milik pemkot.

“Ruang ICU di RSUP dr Kariadi dan RSWN penuh. Ada juga RS yang terus melakukan penambahan kamar. Saya rasa persentasenya di atas 80 persen. Dengan bisa diakses masyarakat, mereka bisa tahu di mana ada kamar kosong,” tuturnya.

Pada November dan awal Desember 2020 lalu, lanjut Hendi, menjadi waktu di mana lonjakan kasus Covid-19 di Kota Semarang terus menanjak. Namun bukan hanya di Kota Semarang, kenaikan kasus serupa juga terjadi di beberapa daerah lainnya. “Bisa jadi karena ada tracing masal. Misalnya kemarin ada KPPS yang di-rapid test jumlahnya kan banyak. Juga adanya hal-hal lain saat libur panjang,” tambahnya.

Baca juga:  Kendalikan Narkoba, Kekayaan Napi Capai Rp 4 Miliar

Disinggung apakah lonjakan kasus ini disebabkan karena adanya libur panjang? Hendi tidak bisa memastikan secara pasti, karena belum ada analisa libur panjang Natal dan Tahun Baru membuat lonjakan kasus Covid-19. “Namun kalau masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan, potensi tertular pasti ada,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Semarang M Abdul Hakam mengatakan, tidak jadi menggunakan hotel sebagai tempat isolasi lantaran okupansi hotel yang mulai stabil. “Kita optimalkan Puskesmas, karena okupansi hotel mulai naik dan manajemen hotel menolak,” bebernya.

Tingginya angka penularan Covid-19, membuat DKK menggunakan Gedung Muria di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Tengah sebagai tempat isolasi. Ada 40 kamar yang dikelola, dan sudah beroperasi sebulan terakhir.

Baca juga:  Tamzil akan Polisikan Saksi yang Bohong

“Koordinasi dan konsultasi kami lakukan, salah satunya dengan pengelola asrama di Kota Semarang yang kapasitasnya mencapai 100 orang. Harapannya pemilik mau dan deal, nanti jika sudah akan kami sampaikan,” katanya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya