alexametrics

Klaster Pengajian Berhenti, Klaster Keluarga Mendominasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Klaster pengajian yang terjadi di Kelurahan Manyaran, Semarang Barat dipastikan sudah berhenti dan berhasil dikendalikan. Saat ini klaster keluarga masih mendominasi sebagai jumlah klaster terbanyak penyebaran Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Kota Semarang, M. Abdul Hakam mengatakan, klaster pengajian di Semarang Barat sudah diputus. Meskipun tidak merinci jumlah kasus dari klaster ini, tapi menurut informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, ada sekitar 24 kasus.

“Angkanya sudah berhenti, tidak ada penambahan lagi, bahkan sudah ada yang perbaikan atau negatif,” katanya kemarin.

Dalam sepekan ini, jumlah penambahan kasus memang terjadi di Semarang. Sebagian merupakan kasus baru dan dirawat dirumah sakit karena memiliki gejala, jumlah terbesar penyumbang kasus di Semarang masih didominasi oleh klaster keluarga, perusahaan, maupun perkantoran. “Jumlah klaster pengajian ini tidak terlalu banyak jika dibandingkan klaster keluarga, perusahaan ataupun perkantoran,” tuturnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Pecat 41 ASN

Disinggung terkait penyebab meningkatnya jumlah kasus sepekan terakhir, Hakam menjelaskan, kasus ini terjadi karena ketidakdisipilnan warga dalam menerapkan protokol kesehatan. “Kami tidak menyalahkan adanya long weekend. Kalau masyarakat disiplin dan tanggungjawab menerapkan protokol kesehatan pasti tidak ada penularan,” ujarnya.

Hakam menyebutkan, ada sekitar 40 klaster keluarga. Jumlah anggota keluarga yang terpapar Covid-19 pun bervariasi mulai dari tiga hingga delapan orang. Untuk kasus di Kelurahan Krapyak, pihaknya mengaku belum mengetahui secara detail. “Sedikitnya ada delapan orang yang terpapar dari klaster instansi ini termasuk kontak eratnya,” bebernya.

Penelusuran klaster yang masih aktif ini, menurutnya tidak mudah. Apalagi kadang ditemukan kontak erat lini satu enggan melakukan swab test. Hal ini membuat kasus bergejala dan harus dirawat di rumah sakit meningkat. “Misalnya kalau masyarakat mau melakukan skrining, akan lebih mudah dalam penyembuhan,” katanya.

Baca juga:  Musim Hujan, Waspadai Jalan Berlubang

Sementara itu, Pjs Wali Kota Semarang Tavip Supriyanto, meminta masyarakat untuk tetap melakukan protokol kesehatan secara tertib. Selain itu jika salah satu karyawan perkantoran atau instansi yang terpapar Covid-19, akan diliburkan dan dilakukan sterilisasi.

“Dinas Kesehatan juga akan melakukan penelusuran, jika sudah ada yang tertular, harus diliburkan dan disterilkan serta dilakukan tracking,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman mengatakan Pemkot diminta tancap gas untuk melakukan operasi yustisi penerapan protokol kesehatan. Tujuannya agar menekan angka penularan tiga klaster yang masih aktif ini

“Operasi yustisi di perkantoran untuk menerapkan protokol kesehatan ini harus dilakukan. Selain itu juga dilakukan edukasi sampai ke tingkat RT untuk mencegah adanya klaster keluarga,” paparnya.

Baca juga:  Tenteng Clurit, Geng Remaja Resahkan Warga Tembalang

Menurutnya, Satpol PP dan Satgas Covid-19 selama ini lebih fokus melakukan operasi yustisi di tempat umum seperti pasar, pusat perbelanjaan, jalan, atau tempat kerumunan lain. “Lingkup yang lebih kecil misal perkantoran iki juga harus disasar. Saya harap Pemkot bisa operasi di perkantoran atau di tempat perkumpulan lain di luar kantor. Itu yang harus kita tekan,” ujar pria yang akrab disapa Pilus ini.

Secara keseluruhan, penanganan yang dilakukan Pemkot Semarang sudah bagus. Namun karena pandemi tidak bisa diprediksi kapan akan selesai, masyarakat diingatkan untuk tetap melakukan protokol kesehatan.

“Kadang masyarakat ini kan bosan. Adanya pelonggaran untuk mengungkit ekonomi, terkadang juga disepelekan masyarakat menganggap Covid-19 ini sudah selesai,” jelasnya. (den/ton/bas)

 

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya