alexametrics

Terbentuknya NKRI Tak Lepas dari Peran Ulama

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya resmi menyandang gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin ini (9/11). Habib Luthi –sapaan akrabnya- akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Strategi Komunikasi Pemberdayaan Umat dan Sejarah Kebangsaan.

Habib Luthfi akan menjelaskan tentang sejarah kebangsaan, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara yang terdiri atas banyak pulau, membentang dari Sabang sampai Merauke, banyak etnis, suku, agama dan budaya, bahkan kepercayaan. Negara yang sangat lengkap dengan perbedaan. Oleh karena itu, semboyan negara Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, berbeda-beda tapi satu yaitu NKRI.

Terbentuknya NKRI ini, tidak lepas dari peran para ulama, Walisongo, serta para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejarah kebangsaan Indonesia tidak dapat terlepas dari sejarah para ulama atau para Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam. Sejarah kebangsaan Indonesia sangatlah panjang hingga Indonesia merdeka tahun 1945. Spirit nasionalisme/kebangsaan dan perjuangan dakwah yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu bangsa ini. Wujud nasionalisme kebangsaan ini merupakan manifestasi dari perjuangan dakwah. Sejarah panjang perjuangan kebangsaan ini dalam mewujudkan negeri yang darussalam tidak terlepas dari usaha-usaha pejuang zaman dahulu.

Baca juga:  Sports Track Tinjomoyo Mulai Dibuka, Bisa Joging sambil Menikmati Suasana Alam

Berdirinya NKRI sebagai nadhom kebangsaan yang mewadahi segala kepentingan bangsa di nusantara, dengan segala perbedaanya namun disatukan dalam sebuah kepentingan, menunjukkan identitas bangsa di mata dunia, bahwa bangsa Indonesia itu ada dan tidak dapat dipandang sebelah mata.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tahun 1945 dengan resolusi jihad KH Hasyim Asyari melawan pendudukan kembali Belanda melalui sekutu menegaskan bahwa spirit nasionalisme Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pejuang-pejuang Indonesia tempo dulu yang berkeinginan merdeka. Keinginan mendirikan negara Indonesia dari pendiri bangsa ini seperti Soekarno-Hatta, KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan lainnya, melahirkan dasar filosofi Pancasila.

“Metode dakwah memiliki peranan yang strategis, karena suatu pesan meskipun baik, apabila disampaikan melalui metode yang tidak tepat dan tidak benar, pesan itu bisa saja ditolak oleh si penerima pesan. Ihwal dakwah dapat merujuk  pada Surat An-Nahl ayat 125,” jelas Habib Luthfi.

Baca juga:  DPRD Jakarta Ingin Ibu Kota Tiru Semarang

Dalam berdakwah banyak tantangan yang dihadapi. Berbagai problematika hadir pada kehidupan manusia. Tidak sekadar tindakan kekerasan, merosotnya moral dan akhlak, tetapi juga konflik yang terkait dengan adanya pengaruh liberalisme, sekularisme, materialisme serta pragmatisme.

Selain itu, upaya memecah belah umat hingga ancaman dari dalam maupun dari luar yang hendak memecah belah bangsa. Sehingga diperlukan strategi komuniksi dakwah yang tepat dan berkarakteristik ke-Indonesia-an yang multietnis.

Sistem ekonomi nusantara berkarakter asas gotong royong dan kekeluargaan, yakni semangat dalam melakukan kerja dan menanggung risiko secara serentak bersama-sama tanpa memikirkan keuntungan pribadi.

Satu ciri khas tidak ditemukan pada sistem ekonomi kapitalis atau sosialis adalah tujuan akhir dari sistem ekonomi nusantara ini lebih mengutamakan kebahagiaan bersama. Dengan platform ini, pasti terhindar dari egoisme dan monopoli.

Baca juga:  Status Tanah Tak Jelas, Candi Tugu Tak Terawat

“Habib Luthfi terbukti telah berkontribusi kepada bangsa Indonesia karena bisa mendorong meningkatnya rasa nasionalisme dan kebangsaan melalui seni berdakwahnya yang menyejukan. Apa yang telah dilakukan Habib Luthfi selama ini bisa mendamaikan suasana dengan memperkuat nilai-nilai kebinekhaan bangsa Indonesia,” ujar Prof Zaenuri selaku promotor.

Sementara itu, Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman menjelaskan, jika kampusnya memberikan gelar kehormatan kepada Maulana Habib Luthfi sebagai bentuk memuliakan ilmu, rasa hormat, dan bangga kepada salah satu ulama, guru, dan sekaligus tokoh kharismatik yang ada di Indonesia. “Banyak karya Habib Lutfi dalam bentuk buku yang sesuai dengan bidang komunikasi dakwah dan sejarah kebangsaan,” tambahnya.

Menurut Prof Fathur Rokhman, setiap materi dakwah Habib Luthfi juga mengedepankan tiga pilar pemberdayaan umat. Masing-masing menonjolkan sisi agama, kebangsaan (nasionalisme) serta pertumbuhan ekonomi. Ketiganya dirangkai melalui platform sejarah kebangsaan yang menjadi hormoni kebangsaan. “Beliau sangat pas dan layak untuk mendapatkan penghargaan ini,” pungkasnya. (den/ida/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya