alexametrics

Lima Titik Tanggul Sungai Beringin di Mangkang Wetan Rawan Jebol

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sejumlah tanggul aliran Sungai Beringin yang melintas tujuh kelurahan di Kota Semarang rawan jebol. Setidaknya terdapat lima titik yang rawan jebol di wilayah Kelurahan Mangkang Wetan.

“Mangkang Wetan, hampir semua menjadi titik rawan. Titik tanggul yang rawan jebol itu berada di wilayah RW 3, RW 5, RW 4 dan RW 7. Satu titik kadang ada di dua RW,” ungkap Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) Kelurahan Mangkang Wetan Neris Santana kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Neris mengatakan, Sungai Beringin tersebut hulunya berada di wilayah Kecamatan Mijen, sedangkan hilirnya di wilayah Kecamatan Tugu. Aliran Sungai Beringin melintas di tujuh kelurahan.  “Hulunya di Wates daerah BSB. Terus Kelurahan Beringin, Gondorio, Wonosari, Mangkang Wetan dan Mangunharjo. Kalau wilayah hulu hujan deras, aliran sungai ini ya ikut deras,” bebernya.

Ia mengakui, wilayahnya sering terkena musibah banjir. Salah satunya disebabkan tanggul jebol pada aliran Sungai Beringin. Banjir tersebut menggenangi ratusan rumah di wilayah Kelurahan Mangkang Wetan.  “Hampir 90 persen wilayah kami kebanjiran. Di Mangkang Wetan, totalnya hampir 3.000 jiwa. Mangkang Wetan ada 41 RT dan 7 RW,” jelasnya.

Pada 2019, kata dia, tanggul Sungai Beringin mengalami jebol empat sampai lima kali. “Dulu cukup besar yang terdampak ada 1.600 KK. Makanya kalau hujan deras, warga sini pada waswas juga,” terangnya.

Baca juga:  Sebelum Tewas Ditabrak Bus Indofood, Amin Sempat Pulang untuk Makan Siang

Pihaknya bersama warga juga telah melakukan antisipasi bersih-bersih sungai supaya aliran air lancar. Selain itu, warga juga saling berkoordinasi manakala wilayah atas atau hulu terpantau hujan deras.

“Biasanya, kemungkinan banjir terjadi jika sudah mendekati level siaga atau merah kita melalui grup sosmed dan pengeras suara masjid kalau listrik tidak padam,” ujarnya.

Terlihat, lebar sungai yang berada di wilayah Mangkang Wetan kisaran lima sampai tujuh meter. Ketinggian air aliran Sungai Beringin bervariasi. Ada yang hanya kisaran 10 sentimeter, dan dasaran tanahnya terlihat warna merah. Pemukiman penduduk tersebut juga padat di tepi aliran Sungai. Berada di atas, kisaran 1,5 meter hingga dua meter.

“Rencananya akan dinormalisasi. Pelebaran 50 meter. Desember tahun 2020 sudah mulai. Amdalnya sudah ada. Sudah sosialisasi juga dua bulan yang lalu,” terangnya.

Menanggapi jumlah rumah yang terkena dampak normalisasi Sungai Beringin di wilayahnya, Neris mengaku tidak mengetahui secara persis. Namun pelebaran yang diutamakan di bagian sebelah barat, yang notabene-nya lebih sedikit rumah penduduk. “Sebelah situ kan persawahan, bangunan rumahnya lebih sedikit,” katanya.

Kapolsek Tugu Kompol Eko Kurniawan mengaku telah melakukan pengecekan dan pemantauan di wilayah rawan bencana alam. Menurutnya, ada dua jenis bencana, yakni rawan bencana banjir dan tanah longsor.

Baca juga:  371,3 Kilometer Jalan di Kendal Mulus

“Rawan banjir itu berada di daerah yang saya sebut, yaitu Blok M, Mangkang Wetan dan Mangunharjo. Di mana sebetulnya banjir di dua wilayah tersebut dari daerah Mijen,” bebernya.

Sedangkan rawan longsor berada di Kelurahan Tugurejo, Jrakah, dan Karanganyar. Antisipasi bencana yang dilakukan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan KSB yang terbentuk di setiap kelurahan. Termasuk, juga koordinasi dengan KSB, SAR, BPBD, dan relawan.

“Musibah bencana alam kita tidak bisa kerja sendiri. Kita harus berkoordinasi. Ketika sewaktu-waktu ada hal yang tidak diinginkan, kita segera membentuk posko untuk diperlukan. Personel dari Polsek Tugu juga sudah siap siaga. Karena ini tahunan,” ujarnya.

Koordinasi dan pengecekan di lapangan, pihaknya memberikan warning kepada masyarakat supaya lebih berhati-hati. Ketika hujan deras, masyarakat utama yang bermukim di tepi sungai untuk aktif mengecek ketinggian atau debit air sungai.

“Bahwa pada saat ini sudah musim penghujan, sehingga masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, terlebih yang tinggal di tepi sungai supaya sering-sering melihat debit ketinggian air.

Semntara itu, warga di Kelurahan Mangkang Wetan, Tugu, kemarin serentak menggelar gotong royong. Kegiatan itu sebagai upaya mengantisipasi banjir, mengingat curah hujan semakin tinggi. Apalagi biasanya di kawasan tersebut sering menjadi langganan banjir akibat meluapnya air Sungai Beringin.

Baca juga:  Semua Perusahaan di KIW Wajib Punya Satgas Covid-19

Ketua RT 1 RW 4 Kelurahan Mangkang Wetan Tugu Suwarno mengatakan, gotong royong dilakukan warga bersama-sama. Gorong-gorong menjadi perhatian dibersihkan agar aliran air tak tersendat. Di wilayahnya hampir tiap tahun banjir. “Biasanya jika hujan deras, air Sungai Beringin meluap berimbas langsung,” katanya.

Meski begitu, dalam beberapa tahun terakhir intensitas banjir terus berkurang. Tetapi warga tetap waswas, karena Sungai Beringin belum juga dinormalisasi. Padahal sudah jadi wacana bertahun-tahun. “Alhamdulillah kalau banjir sekarang cuma lewat, tapi warga berharap normalisasi bisa segera dilakukan ,” harapnya.

Lurah Mangkang Wetan Sugiman mengapresiasi keguyuban warga untuk gotong royong. Kesigapan warga bisa menjadi upaya untuk mengantisipasi banjir. Sebab, dengan gotong royong di kawasan Mangkang Wetan lebih tertata dan aliran air lancar. “Semua harus bersama gotong royong,” katanya.

Ia menambahkan, kesiapsiagaan terutama mewaspadai banjir harus terus dilakukan. Karena hampir setiap tahun, kawasan Mangkang Wetan menjadi langganan banjir akibat meluapnya Sungai Beringin. “Kami bersama BPBD sudah membentuk kelurahan siaga bersama warga,” tambahnya. pungkasnya. (mha/fth/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya