alexametrics

Gagalkan Penyelundupan Ratusan Ribu Pisau Cukur Palsu dari Tiongkok

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Bea Cukai menggagalkan upaya penyelundupan barang impor tiruan yang diduga melanggar hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Barang impor tersebut berjumlah 185 karton berisi razor atau pisau cukur merek Gillette sebanyak 390 ribu tangkai pisau cukur, dan 521.280 kepala pisau cukur. Upaya penyelundupan barang yang diimpor oleh PT LBA dari Tiongkok itu digagalkan Rabu (7/10/2020) lalu.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jawa Tengah dan DIJ Padmoyo Tri Wikanto menjelaskan, pemeriksaan barang impor  tiruan itu dilakukan oleh petugas dari Bea Cukai Tanjung Emas, Bea Cukai Wilayah Jawa Tengah dan DIJ, Direktorat Penindakan dan Penyidikan, serta Inspektorat Bidang Investigasi Kementerian Keuangan.

Baca juga:  Kawasan Genuk Masih Dikepung Banjir

“Terhadap temuan hasil pemeriksaan ditindaklanjuti Bea Cukai Tanjung Emas dengan melakukan pencegahan dan memberikan notifikasi pencegahan kepada right holder yaitu PT Procter & Gamble Home Production Indonesia, yang kemudian memberikan notifikasi balasan kepada Bea Cukai Tanjung Emas,” katanya.

Dijelaskan, keberhasilan penindakan ini  tidak lepas dari peran right holder PT P & G, yang sebelumnya telah melakukan perekaman (rekordasi) dalam sistem CEISA HKI pada 24 September 2020. Rekordasi HKI sendiri telah diimplementasikan oleh Bea Cukai sejak 21 Juni 2018.

“Dengan adanya sistem ini, Bea Cukai segera memberikan notifikasi kepada right holder apabila terjadi dugaan importasi/eksportasi barang yang melanggar HKI,” imbuhnya.

Karenanya, penindakan atas barang impor/ekspor yang melanggar HKI sangat penting dalam melindungi industri dalam negeri, terutama right holder maupun industri kreatif dalam negeri agar dapat tumbuh dan memiliki daya saing. Sehingga dapat berkontribusi kepada negara melalui pembayaran pajak.

Baca juga:  Pesta Miras, Belasan ABG Diciduk Tim Elang Utara

“Ini membuktikan bahwa Indonesia sangat concern terhadap perlindungan HKI, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan dunia internasional, dan menambah poin agar dapat dikeluarkan dari priority watch list United States Trade Representative (USTR) untuk isu perlindungan HKI,” paparnya.

Pimpinan PT P & G Indonesia Naraya S Soeprapto mengatakan, pemasuan itu sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Ketika ditanya kerugian akibat pemalsuan itu, dikatakan kalau sampai saat ini masih dalam perhitungan. “Untuk kerugian, masih dalam perhitungan, sehingga kami belum bisa menjelaskan,” katanya. (hid/aro/bas)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya