alexametrics

Dicabut dan Diinjak-Injak Pendemo, Taman di Jalan Pahlawan Rusak Parah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pasca unjuk rasa yang dilakukan untuk menolak disahkan UU Cipta Kerja, taman yang ada di Jalan Pahlawan, Tugu Pahlawan, dan Simpang Lima Semarang rusak parah. Total kerugiannya mencapai Rp 100 juta.

Pantauan koran ini, beberapa tanaman tampak mengalami kerusakan pada bagian batang. Ada pula tanaman yang sengaja dicabut oleh oknum buruh serta mahasiswa yang melakukan unjuk rasa. Mulai dari depan Kantor Gubernuran, Tugu Pahlawan, sampai Simpang Lima, beberapa pot pecah dan mengalami kerusakan, area pedestrian juga banyak yang rusak dan pecah.

Sebelumnya, massa juga melakukan corat-coret di tembok dan area pedestrian, dengan hujan dan kata-kata kotor. Namun Kamis (8/10/2020) kemarin, tulisan ini sudah hilang karena telah dicat ulang oleh dinas terkait.

Baca juga:  Kampanye Kotak Kosong Tak Dilarang

“Banyak tanaman yang rusak, jumlahnya mencapai 12 ribuan lebih tanaman yang dicabut, rusak kerena diinjak-injak dan yang lainnya,” kata Kabid Pertamanan dan Pemakaman, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkrim) Kota Semarang Murni Ediati.

Dari catatan Disperkim, lanjut wanita yang akrab disapa Pipi ini, ada sekitar 12.200 tanaman yang rusak di sepanjang Jalan Pahlawan. Rinciannya, 200 Soka, 1.500 Bougenville, 700 Trikalor, 1.300 Pangkas Kuning, 2.500 Sambang Darah, 500 Melati Paris, dan 5.500 Kacangan.

“Kami sudah lakukan pengecekan, tanaman yang rusak apa, jumlah dan jenisnya juga kami hitung. Belum lagi pot yang sengaja dipecahkan pendemo juga telah kami catat, jumlah kerugiannya mencapai Rp 100 jutaan,” tambahnya.

Baca juga:  Ngopi di Pinggir Kali Sambil Diskusi Sampah

Pipi menyayangkan, aksi anarkis yang dilakukan pendemo dengan merusak taman ataupun infrastruktur yang sebelumnya telah dibangun oleh Pemkot Semarang. Padahal sebelumnya taman yang ada di Jalan Pahlawan ini terlihat asri dan indah, karena sudah ditanam sekitar enam bulan lalu.

“Aspirasi masyarakat ini kami hormati, namun harus tetap menjaga etika jangan sampai merusak fasilitas publik, seperti street furniture, taman dan median jalan,” keluhnya.

Untuk penggantian tanaman, lanjut Pipi, tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Karena dikhawatirkan masih akan ada demo susulan. Selain itu, penggantian juga belum bisa dilakukan karena keterbatasan anggaran setelah dilakukan refocusing.

“Pot yang pecah kita ambil, yang masih bisa dipakai kita pakai. Untuk beli pot baru ataupun ganti tanaman belum ada anggaran. Tamanan yang bisa kami selamatkan, sementara dipindah ke kebun bibit, kita juga belum lakukan perbaikan,” tambahnya.

Baca juga:  Sejumlah Lahan Makam Diperluas

Beruntung, beberapa street furniture seperti lampu-lampu yang ada di Jalan Pahlawan sebelumnya sudah diamankan oleh Disperkim. Untuk keramik dan street furniture lainnya, merupakan tanggungjawab dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang. “Keramik yang rusak masuknya ke DPU, mungkin sudah diperbaiki sementara dan corat-coret cat juga sudah ditutup,” ujarnya.

Apakah Disperkim akan mengambil langkah hukum terkait tindakan anarkis ini? Pipi mengaku belum akan mengambil langkah tersebut. Agar kejadian serupa tidak lagi terulang, menurutnya, perlu ada edukasi kepada para masyarakat agar tindakan anarkis dan pengerusakan tidak kembali terulang. (den/aro/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya