alexametrics

Rumah Makan Diimbau Tak Sajikan Prasmanan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengimbau pemilik rumah makan tidak menyediakan makanan dalam bentuk prasmanan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kembali terulangnya klaster rumah makan seperti yang terjadi di Rumah Makan Kepala Manyung Bu Fat Jalan Ariloka, Krobokan, Semarang Barat.

“Klaster baru ini cukup mengejutkan, namun ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk tetap patuh dan menerapkan protokol kesehatan,” kata Wawali yang akrab disapa Mbak Ita ini.

Menurut Ita, pelaku usaha wajib menerapkan protokol kesejahatan. Misalnya, memakai masker dan memberikan jarak antar pengunjung warung. Selain itu, ia juga mengimbau agar tidak menyajikan makanan dalam bentuk prasmanan.

“Karena risikonya tinggi, penularan paling bahaya adalah droplet. Di sini pelaku usaha harus hati-hati dalam memberikan pelayanan. Prasmanan misalnya, kita nggak tahu orang yang beli itu membawa risiko atau tidak,” jelasnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Siapkan 10 Ribu Rapid Test Korona

Ia mengungkapkan, setelah dilakukan pelacakan belum ada lagi kasus positif baru dari Klaster Bu Fat. Sampai saat ini jumlahnya masih 20 orang. Dinkes pun sulit mengidentifikasi sumber virus berasal dari siapa.

“Indikasinya dari pengunjung luar kota. Untuk itu, kami imbau pengujung yang dua pekan terakhir ke Bu Fat bisa memeriksakan diri,” pintanya.

Disinggung terkait risiko penyebaran di tempat hiburan ataupun tempat wisata, Ita mengungkapkan jika usaha pariwisata ini malah lebih tertata protokol kesehatannya, apalagi tempat hiburan dan tempat wisata sebelum buka harus mendapatkan rekomendasi dari dinas terkait.”Warung kecil ini terlewat, jadi mulai kita perintahkan langkah antisipasi,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam juga melakukan langkah antisipasi agar tidak bertambah klaster baru. Termasuk jelasnya Pilwalkot 2020.”Nanti saat hari H, kita terjunkan petugas untuk memantau tempat pemungutan suara (TPS), 37 puskesmas juga akan dilibatkan,”paparnya.

Baca juga:  FIFGROUP Salurkan 537 Kambing dan Dua Sapi

Hakam mewanti-wanti agar petugas yang ada di TPS benar-benar steril.  Petugas TPS pun idealnya harus menjalani swab test atau rapid test.

Selain itu, warga yang datang harus diatur, jangan sampai bergerombol. Bahan yang digunakan pun tidak boleh bergantian.”Kita awasi agar protokol kesehatan berjalan ketat. Disediakan tempat cuci tangan, pakai masker dan tidak ada barang yang digunakan bergantian,”katanya.

Saat ini, Case Fatality Rate (CFR) Covid-19 di Semarang mencapai 9 persen. Ia berharap angka tersebut di akhir tahun bisa menurun.

Sementara itu, kapasitas ruang isolasi untuk penderita maupun pasien Covid – 19 sekarang diklaim masih aman. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng juga mengklaim jika perawatan di rumah sakit rujukan masih sesuai standar.

Kepala Dinkes Jateng Yulianto Prabowo mengatakan, total kapasitas untuk fasilitas di atas yang saat ini ada yakni 3.343 tempat tidur di ruang isolasi.“Semuanya tersebar di rumah sakit rujukan penanganan Covid – 19 di Jawa Tengah,” tutur Yuli, Senin (14/9/2020).

Baca juga:  Tak Masuk Kategori Bencana, Rob Bukan Tanggung Jawab BPBD

Adapun total rumah sakit rujukan penanganan Covid – 19 se-Jateng yakni 58 rumah sakit. Dikatakannya, jumlah tersebut belum termasuk adanya tempat isolasi darurat, yang disiapkan untuk menampung dan menangani pasien Covid – 19. Misalnya di rumah dinas Wali Kota Semarang.

“Kondisinya masih aman dan mumpuni yang sekarang masih ada dan siap menampung,” katanya. Dari total tersebut persentase pemakaian baru 40 persen. Artinya, masih mumpuni untuk menampung apabila ada penambahan pasien atau penderita.

Dikatakannya, Pemprov Jateng juga masih memiliki tempat untuk menampung pasien Covid – 19 dan belum terpakai. Antara lain Asrama Haji Donohudan, gedung milik STIE Bank Jateng di Semarang dan RS Bung Karno Solo. (den/ewb/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya