alexametrics

Mahasiswa Masih Kuliah Daring, Bisnis Kos-Kosan Kembang Kempis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Diberlakukan sistem kuliah daring selama beberapa bulan terakhir membuat para pengusaha kos di sekitar kampus merugi. Bahkan di sekitar kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) penurunan jumlah penghuni kos bisa mencapai 50 hingga 90 persen.

Kuliah daring membuat mahasiswa ‘boyongan’. Sebagian memilih bergabung dengan penghuni kos lain. “Kemarin Juli saya boyongan, ya bagaimana lagi kuliah dari rumah dan tidak jelas kapan bisa kembali ngampus. Jadi mubazir jika harus membayar kos,” kata salah satu mahasiswa Unnes yang juga penghuni Kos Gubuk Kayu, Afsana Noor Maulida.

Kondisi tersebut tentunya membuat pengusaha kos kelimpungan. Mereka harus memutar otak agar dapur mereka bisa terus mengepul. Bahkan sebagian harus banting stir karena sudah tidak bisa lagi mengandalkan pemasukan dari usaha kos-kosan.

Baca juga:  Bupati Wihaji Pantau Kondisi Luka Bakar Oktavianti

Sugiyanto, Pemilik Kos Griya Suri Permata mengatakan, dari 24 kamar kos yang tersedia, saat ini hanya satu kamar yang masih berpenghuni. Pihaknya terpaksa menerima kos bulanan dari yang sebelumnya hanya menerima kos tahunan.

Kerugian pengusaha kos bertambah karena harus tetap melakukan perawatan seperti kebersihan dan pembayaran wifi. “Hal itu tetap kami lakukan demi menjaga kualitas kos. Kami juga terpaksa tidak bisa memberikan diskon tarif kos karena listrik, air, telpon saja tidak diskon,” jelas Sugiyanto.

Sementara Sri Muto’ati, pemilik kos MHC Unnes punya cara berbeda dalam menyikapi situasi sekarang ini. Pihaknya tak segan memberikan potongan harga sebanyak Rp 500 ribu kepada penghuni kos yang masih bertahan.”Sebagai gantinya saya juga mencari pekerjaan sampingan dengan bertani sedangkan suami saya menjadi pekerja bangunan,” bebernya.

Baca juga:  Rawa Pening akan Dibagi Empat Zona Pengembangan

Cara lain yang dilakukan pengusaha kos adalah memasang iklan pada aplikasi atau media sosial. Namun semua terasa percuma karena saat ini hampir semua kampus masih menerapkan sistem pembelajaran daring.”Kami hanya bisa menunggu keadaan membaik saja,” kata pemilik kos Gubuk Kayu Kasriah. (mg5/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya