alexametrics

Ditarget Rp 1,5 Triliun, Pendapatan Daerah Semarang Sudah Tembus Rp 940 miliar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Meski di masa pandemi, realisasi pendapatan daerah Kota Semarang pada semester I masih dalam tren yang positif. Realisasi pendapatan daerah Kota Semarang secara keseluruhan hingga akhir semester I tahun anggaran 2020 telah mencapai 52 persen dari target pendapatan APBD revisi pasca Covid-19, yakni Rp 3,8 triliun.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang Agus Wuryanto mengatakan, pendapatan daerah tersebut bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan, dan pendapatan lain-lain. “Realisasi PAD sendiri sudah mencapai 61 persen atau sekitar Rp 940 miliar dari target Rp 1,5 triliun. PAD kan ada dari pajak daerah, retribusi, dan PAD lain yang sah. Sementara untuk pajak daerah sendiri realisasinya Rp 742 miliar atau sekitar 65 persen,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Baca juga:  Sungai Silandak Ngaliyan Tercemar Limbah, Diduga dari Pabrik Kawasan Industri Candi

Ia menjelaskan, pajak daerah yang bisa mendongrak pendapatan Kota Semarang berasal dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sampai semester I kemarin, realisasinya mencapai 80 persen dari target Rp 416 miliar.

“Tingginya pendapatan PBB karena adanya diskon yang diberikan Pemerintah Kota Semarang dari April sampai Juni. Selama tiga bulan diberi keringanan realisasinya mencapai 80 persen. Ini cukup bagus dibanding tahun lalu,”paparnya.

Agus melanjutkan, tak hanya PBB, Bapenda juga memberikan keringanan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar 15 persen pada Juni lalu. Sementara mulai Juli hingga Agustus keringanan BPHTB sebesar 10 persen. Selain itu, pemerintah Kota Semarang juga memberikan keringanan pada sektor hotel, hiburan dan resto dengan penghapusan denda.

Baca juga:  Tawarkan Menu Menggoda di Sego Codot

“Kami beri stimulus mereka tanpa ada denda. Kami menunggu realisasinya, karena selama tiga bulan ini pajak-pajak dari sektor wisata memang belum masuk,” jelasnya.

Selama pandemi ini, lanjut dia, pendapatan dari sektor hiburan seperti spa dan karaoke memang tidak ada, karena usaha tersebut memilih tutup beberapa bulan terakhir. Namun diperkirakan masih ada pendapatan dari sektor pajak hotel meski jumlahnya tidak begitu besar.

“Yang angkanya nol memang di sektor hiburan, tapi diperkirakan masih ada pendapatan dari pajak hotel walapun sangat rendah hanya ratusan juta saja,” ujarnya.

Secara keseluruhan, kata dia, pencapaian pendapatan pada semester ini dinilai masih bagus meskipun terimbas virus korona. Pada semester II ini, Bapenda masih akan melihat situasi untuk kembali menggenjot pendapatan. “Kita masih akan lihat situasinya dulu, baru nanti akan dicari cara untuk menggenjot pendapatan,” katanya.

Baca juga:  Terletak di Tengah Perumahan, Mengaji Kitab Ulama Besar Nusantara

Wakil Ketua Pansus Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APDB Kota Semarang Anang Budi Utomo menyebutkan, pendapatan daerah Kota Semarang pada 2019 lalu sebesar 94,6 persen dari target Rp 4,7 triliun. Dibanding realisasi 2018, terdapat kenaikan sebesar Rp 330 miliar.  “Pendapatan ini masih bisa diotimalkan melalui sumber pendapatan daerah dari pajak hotel dan restoran dengan e-tax, persewaan ruko dan perkantoran di GOR Tri Lomba Juang, retribusi pemeriksaan Apar (Alat Pemadam Api Ringan), dan retribusi parkir tepi jalan umum,”jelasnya. (den/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya