alexametrics

Akses Internet Lambat, Calon Siswa Kesulitan Input Berkas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Tak hanya pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online SMA Negeri yang bermasalah. Pendaftaran PPDB online SMK Negeri juga penuh kendala. Rata-rata calon peserta didik kesulitan meng-input berkas pendaftaran.

Kepala SMK Negeri 10 Semarang Luluk Wibowo melalui Sekretaris Panitia PPDB Slamet Adi mengatakan, terkait permasalahan PPDB online di sekolahnya, pada hari pertama terkait akses internet melambat, sehingga mengganggu masuknya calon peserta didik untuk input data. Selain itu, aplikasi yang menggunakan Telkom, ada dokumen yang tidak bisa menerima, padahal pendaftar sudah mengunggah dokumen yang di-scan, namun sistem tidak menerima.

“Kendala lain kebanyakan animo masyarakat yang daftar di sekolah kami dari pesisir Semarang, sehingga tingkat pemahaman teknologi juga masih rendah. Kebanyakan pendaftar merupakan putra dan putri pedagang dan nelayan. Atas masalah itu, kami sudah membuka layanan bantuan teknis pendaftaran, yang sebenarnya tidak diwajibkan, tapi kita buka untuk menjembatani pendaftar secara online mandiri di sekolah,”kata Slamet Adi.

Masalah lain yang muncul, lanjutnya, berkaitan pemahaman peserta terkait pandemi Covid-19, karena sekolahnya sudah menyiapkan protokol kesehatan, namun masyarakat belum sepenuhnya mematuhi. Calon peserta didik dan orangtuanya ada yang duduk berhimpitan. Karena yang masuk ke sekolah seharusnya hanya calon peserta didik dan orang tuanya. Namun ada yang membawa anak kecil.

Slamet menyebutkan, pada PPDB tahun ini, sekolahnya memiliki daya tampung 468 siswa yang terbagi 13 rombel. Hingga pukul 09.12, sudah ada 400-an pendaftar. Namun demikian, ia belum mengecek rinciannya. Khusus untuk jalur afirmasi, ia menyebutkan sudah terpenuhi dan masuk semua.

Baca juga:  Kalipancur Unggulkan River Tubing

“Afirmasi seharusnya ditambah lagi, kuotanya 20 persen. Padahal di sini banyak siswa miskin. Ada juga fenomena afirmasi siswa miskin tapi kalah sama nilai yang lebih tinggi. Untuk prestasi memang di sini belum terpenuhi, jatahnya 80 persen, sedangkan jalur zonasi SMK ndak ada, terakhir pendaftaran PPDB online 25 Juni, yang pasti kami optimistis terpenuhi,”jelasnya.

Salah satu calon peserta didik, Muhammad Reno Firmansyah, harus pupus impiannya sekolah di SMKN 10 Semarang. Ia belum sempat meng-input data, namun sudah ditolak. Pasalnya, nilai Reno kurang. Nilai ijazah SMP hanya 29,92, ditambah akreditasi SMP hanya B. Selain masalah nilai, KK-nya juga mengalami perubahan. Ayah Reno asli Bandarharjo, Semarang Utara, sedangkan Miranda, ibunda Reno, asli Batang.

“Tapi saya tinggal di sini (Bandarharjo) sudah sejak 2004, surat keterangan domisili dari kelurahan dan kecamatan juga lengkap. Kalau anak saya lulusan MTs Tawang, Rejosari, karena ndak diterima, ya nanti di swasta. Anak saya belum sempat daftar online, cuma masih cek berkas, tapi kata petugasnya sudah pasti ndak masuk, penginnya sih masuk SMKN 10 Semarang,”kata Miranda.

Sementara itu, untuk PPDB SMA Negeri, jalur afirmasi dan mutasi masih terbuka untuk mendaftar di SMA Negeri 14 Semarang. Namun untuk jalur zonasi sekolah tersebut sudah kelebihan pendaftar. Pihak sekolah optimistis hingga batas akhir PPDB online akan terpenuhi kuotanya.

“Terbaru hingga sekarang (pukul 10.13) kami mendapat 324 pendaftar,  kalau kuota kami 324 siswa dengan jumlah 9 rombel. Pembagiannya ada 5 rombel IPA dan 4 rombel IPS. Khusus afirmasi dan mutasi sampai sekarang belum terpenui kuotanya,”kata Kepala SMA Negeri 14 Semarang Sulastri didampingi Ketua Panitia PPDB Sri Sadtiti saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (19/6/2020).

Baca juga:  Ribuan Peserta Ramaikan Lomba Video Vlog Polda Jateng

Terkait kendala, diakuinya, memang ada sejak hari pertama, di antaranya masalah jaringan atau server. Kemudian ada juga calon peserta didik yang NIK tidak sama dengan database, sehingga antara KK dan NIK yang ada pada data sistem berbeda. Namun sudah ada solusi, karena Dinas Kependudukan sudah turun tangan. Masalah lain, terkait mutasi pendaftar dari luar Jawa, karena yang dibawa bukan surat keterangan 4 mapel dari sekolah asal. “Yang datang ke sekolah sekitar 30-an orang, cuma tidak bergerbol, mereka minta bantuan dan informasi daftar online sekolah. Langkah kami karena zonasi kelebihan nanti bisa saja dialihkan ke bagian afirmasi dan mutasi, kalau belum terisi hingga 25 Juni nanti,”jelasnya.

Sulastri merinci, dari pendaftaran zonasi yang jatahnya hanya 162 orang, sudah masuk pendaftar 215 orang. Afirmasi ada 9 pendaftar dari kuota 49 orang. Prestasi dari kuota 97, sudah masuk 97 orang. Sedangkan untuk mutasi baru masuk 3 dari kuota 16 orang.“Jalur mutasi diisi 3 orang, satu anak guru sini dan satu dari pindahan luar Jawa. Dari Kendari. Ayahnya tentara, pindah tugas, cuma masih kendala pendaftaran yang satu itu. Satu lagi ada di database,”sebutnya.

Berbeda lagi di SMA Negeri 13 Semarang yang terletak di wilayah Mijen. Karena masalah zonasi dan kuota dari pihak sekolah hingga kini belum juga ter-update. Hal itu pula menjadi beban sekolah dalam proses PPDB online.

Kepala SMAN 13 Semarang Endah Dyah Wardani mengatakan, wilayah zonasi sekolahnya ada 40 kelurahan, karena berada dekat dengan perbatasan Kendal, sehingga juga ada dari Singorojo.”Tak jarang ada murid yang domisilinya jauh memutuskan pindah sekolah usai diterima, dan hal itu sudah terjadi beberapa tahun lalu,”kata Endah Dyah Wardani didampingi  Ketua Panitia PPDB Ponco Nugroho.

Baca juga:  XL Axiata Siap Layani Libur Panjang, Naikan Kapasitas Jaringan 2 Kali Lipat

Namun demikian, lanjut Endah, pihaknya hanya bisa memberi usulan agar sistem segera diperbaiki. Ia mengatakan, sejak PPDB dibuka pihaknya sudah mengusulkan perubahan kuota, yang semula 288 menjadi 285 karena ada 3 siswa yang tidak naik kelas. Namun hingga kini kuota tersebut belum juga berubah. Menurutnya, jika kuota tidak berubah, maka pihaknya akan mengalami overkuota mencapai 3 siswa. “Dua permasalahan itu membebani kami. Kami hanya bisa menunggu adanya perbaikan sistem,” jelasnya.

Ponco Nugroho menambahkan, puluhan orang tua siswa datang ke sekolah sejak pendaftaran PPDB hari pertama. Mereka ada yang datang menanyakan zonasi, karena sudah mendaftar di wilayah Singorojo. Atas masalah itu, pihaknya hanya bisa memberi penjelasan ke orang tua siswa, bahwa penerimaan sudah diatur oleh sistem.  “Padahal jarak rumah sangat jauh dari sekolah, namun dinyatakan sistem masuk zonasi kami. Karena semua diatur oleh sistem, ya kami hanya menyarankan agar menunggu sistem diperbaiki,” katanya. (jks/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya