alexametrics

Tak Bisa Sepenuhnya Secara Online, PPDB SLB Perlu Tatap Muka

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sekolah Luar Biasa (SLB) kesulitan melakukan pendaftaran PPDB selama pandemi Covid-19. Pasalnya, tahapan yang biasa dipergunakan di sekolah normal tidak dapat diterapkan di sekolah khusus tersebut. Salah satunya dialami oleh SLB Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Semarang. Pelaksanaan PPDB di sekolah berkebutuhan khusus ini tidak bisa total dengan sistem online, namun perlu adanya tatap muka.

Kepala SLB D/D1 YPAC Semarang Kartikawaty menuturkan, proses PPDB SLB memang berbeda dengan sekolah normal. Sebab, ada beberapa penilaian yang harus melalui tatap muka agar dapat mengetahui jenis keterbatasan yang dimiliki calon peserta didik. Hal tersebut penting, mengingat dari hasil tersebut akan menentukan program terapi dan pendidikan apa yang tepat diberikan untuk siswa tersebut.

Baca juga:  Pengakuan Mucikari Selebgram TE, Sekali Praktik Bisa Dapat Fee Rp13 Juta

“Jadi, ada tiga penilaian. Yakni, penilaian dokter, psikolog, hingga pendidikan. Semua itu harus dilakukan secara langsung di sekolah atau dengan tatap muka. Tidak dapat menggunakan media online,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal inilah yang akhirnya menumbulkan permasalahan. Pihaknya menceritakan kebanyakan orang tua belum berani untuk membawa anaknya ke sekolah. Mengingat saat ini pandemi Covid-19 masih terjadi. Sementara anak berkebutuhan khusus lebih rentan terpapar. Karena itu, pihaknya memberikan solusi dengan memperpanjang masa pendaftaran. Sampai kondisi pandemi membaik.

“Rencana awalnya kita buka sejak 2 Mei sampai 18 Juni. Tapi kalau memang belum memungkinkan bagi orang tua untuk membawa anaknya ke sekolah, ya kita buka sampai Agustus nanti,” katanya.

Baca juga:  Bubur Ayam Pak Sugiyo, Langganan Pejabat dan Chef Juna

Tahun ini, pihaknya berencana membuka dua kelas bagi anak berkebutuhan khusus tunadaksa. Tiap kelasnya akan berisi lima siswa saja. Saat ini, pihaknya mengaku baru satu anak yang dapat mengikuti tahapan penilaian tersebut.

Sedangkan lainnya masih sekadar menghubungi via telepon. Namun belum berani datang ke sekolah untuk penilaian secara langsung. “Apalagi untuk tunadaksa memang kebanyakan anaknya ngeces, jadi mungkin orang tua takut kalau datang malah rentan terpapar korona. Jadi kita maklumi saja,” ujarnya.

Sedikit berbeda dirasakan SLB C/C1 YPAC Semarang. Kepala SLB C1/C2 YPAC Semarang Tugiman mengakui, memang ada kekhawatiran orang tua membawa anak mereka yang berkebutuhan khusus tunagrahita untuk sekolah. Namun hal tersebut tidak separah yang dialami orang tua anak berkebutuhan khusus tunadaksa. Pasalnya, anak tersebut sedikit lebih kuat. Sehingga masih memungkinkan untuk dibawa ke sekolah.

Baca juga:  Pemkot Semarang Susun Strategi Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

“Sejauh ini yang ikut penilaian sudah ada 13 anak. Padahal kuota kita hanya 10 anak. Alhamdulillah sedikit berbeda. Orang tua siswa kita masih berani soalnya kondisi anaknya juga lebih kuat secara fisik,” ujarnya.

Meskipun begitu, terkait program kegiatan belajar mengajar pihaknya mengaku belum berani menyelenggarakan. Karena bagaimanapun anak berkebutuhan khusus memang lebih rentan. Sehingga pihaknya memilih hanya membuka pendaftaran saja. Sedangkan terkait program KBM (kegiatan belajar mengajar) menunggu instruksi pemerintah lebih lanjut. “Belum kalau untuk sekolah langsung sih belum. Penting pendaftaran dulu saja. Sekolahnya menunggu pemerintah,” katanya. (akm/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya