alexametrics

Buka Puasa Diiringi Salawat dan Tari Sufi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pengajian usai. Para santri tetap tak beranjak. Tetap duduk lesehan di musala. Begitupun Gus Ali, tetap di tempatnya. Pengurus pondok membagikan kurma dan segelas susu kepada tiap santri. Ketika azan magrib berkumandang, mereka berdoa bersama, lantas berbuka puasa.

“Kalau di sini buka puasa dua kali. Pertama ketika usai pengajian. Itu kami sebut mbatalke poso atau membatalkan puasa. Kami sajikan kurma dan susu. Kedua, makan besar. Itu dilakukan usai salat magrib berjamaah,” kata salah satu pengurus Ponpes Gus Oon.

Seorang santri berpakaian khas sufi tiba-tiba berdiri. Melangkah menuju sebelah kiri Gus Ali. Beberapa santri yang tergabung dalam tim rebana Semut Ireng mulai memukul dan memainkan rebana. Santri di sebelah Gus Ali lantas berputar, ia menari sufi.

Baca juga:  Polda Sorot Minimnya Rambu Jalan Tol

Santri lainnya terus menikmati kurma dan segelas susu. Sebagian ada yang ikut bersalawat dan bertepuk tangan mengikuti irama. Gus Ali mengomandoi semua santri. Lantas semua mengkuti.

Santri putri di barisan belakang juga mengikuti. Beberapa dari mereka berdiri lalu menari sufi. Suasana tampak meriah. Ada santri yang betul-betul khusyuk bersalawat. Bahkan tampak larut dengan salawat. Matanya terpejam. Kepalanya menunduk dan bergeleng-geleng.

Salawat dan tari sufi itu berlangsung selama kurang lebih sepuluh menit. Gus Ali meninggalkan tempatnya. Para santri berduyun-duyun ke tempat wudhu. Sebagian mengangkati meja-meja. Musala yang baru saja digunakan sebagai tempat pengajian, dirapikan kembali untuk persiapan salat magrib berjamaah.

Wartawan koran ini dipersilakan ikut salat magrib berjamaah bersama para santri. Dipisahkan dari saf para santri sesuai protokol pencegahan covid-19. Salat magrib berjamaah memakai doa qunut. Dilanjut membaca wirid dan manakib bersama. (nra/ida/bas)

Baca juga:  Pemprov Perlu Alokasikan Bantuan Penguatan Imun

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya