alexametrics

Rupiah Lesu, BI Gelontorkan Rp 415 Triliun

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sejak gelombang pandemi covid-19 sampai ke Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lesu. Menyikapi itu, Bank Indonesia (BI) menngelontorkan Rp 415 Triliun untuk melangsungkan beberapa kebijakan moneter.

Kepala BI Perwakilan Provinsi Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan, saat ini BI sedang melakukan beberapa kebijakan. Diantaranya kebijakan Pelonggaran Kuantitatif atau Quantitave Easing (QE).

“QE diilakukan dengan cara meningkatkan pelonggaran moneter melalui instrumen kuantitas,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang usai menyerahkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Semarang di Dekanat Fakultas Kedokteran Undip, Tembalang, Kamis (23/4/2020) kemarin.

Tak hanya itu, lanjut dia, BI melalui sistem keuangan juga melonggarkan likuiditas perbankan di tanah air, menurunkan suku bunga acuan, hingga melakukan intervensi di pasar. Beberapa hal itu diterapkan untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

Baca juga:  Mahasiswa Masih Kuliah Daring, Bisnis Kos-Kosan Kembang Kempis

“Untuk melangsungkan itu semua, BI menggelontorkan dana hingga Rp 415 triliun,” ucapnya.

Menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai kisaran Rp 16 ribu merupakan hal wajar di tengah kondisi lesunya perekonomian global akibat pandemi covid-19. Ada beberapa faktor yang dalam pandangannya menjadi penyebab melemahnya nilai rupiah. Yakni faktor fundamental dan teknikal.

Dari sisi fundamental, rupiah berada di under value dari yang sewajarnya. Namun hal itu sangat dinamis. Sewaktu-waktu bisa naik. “Contohnya, tempo hari sempat naik di kisaran angka Rp 15 ribu. Artinya, kondisinya memang sedang begini. Jadi, maayarakat tidak perlu khawatir,” ungkapnya.

Sementara untuk faktor teknikal, banyak bergantung pada keluar-masuknya para investor. Pihaknya menilai hal itu merupakan konsekuensi logis atas lemah-kuatnya nilai tukar rupiah.”Ini suatu kewajaran. Hal ini juga telah disikapi oleh pemerintah yang diikuti juga oleh BI,” tuturnya.

Baca juga:  Ita Ajak Gayamsari Wegah Nyampah

Ia melanjutkan, pandemi covid-19 juga berdampak pada menurunya aktivitas perkonomian. Akibatnya, hal itu juga berdampak pada menurunya penjualan rupiah di money changer. “Saat ini penjualan rupiah di money changer turun cukup drastis sampai 50 persen dibandingkan bulan lalu.Orang yang menukar mata uang  berkurang. Sehingga omzet dari 5 kurva yang menguasai 70 persen penjualan valuta asing yang paling dominan mengalami penurunan,” pungkasnya. (nra/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya