alexametrics

Rencana Awal akan Dimakamkan di Samping Makam Sang Ayah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Liang di TPU Siwarak, Suwakul, Kelurahan Bandarjo, Ungaran Barat ditutup kembali. Liang kubur itu sejatinya akan digunakan untuk memakamkan jenazah perawat RSUP Dr Kariadi, Nuriati Kurniasih.

Proses pemakaman yang dilakukan pada Kamis (9/4/2020) sore sempat terhambat oleh reaksi oknum warga yang menolak jenazah dikebumikan di kompleks makam keluarga besar RSUP Dr Kariadi di Bergota, Randusari, Semarang.

Berdasarkan pengamatan Jawa Pos Radar Semarang Jumat (10/4/2020) siang, liang sudah tertutup kembali. Sebagian alat dan perlengkapan pemakaman masih tergeletak. Tampak tanah bekas galian belum rata dan rapi.

Menuju ke makam, koran ini dibimbing oleh Suparjo, 81, warga setempat yang sedang berada di warung sekitar. Menurutnya, rencananya jenazah akan dimakamkan di sebelah makam ayahnya.”Di sini jenazah akan dimakamkan. Di sebelahnya ini makam ayahnya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, Jumat (10/4/2020).

Baca juga:  Siapkan Puluhan Perangkat Interaktif untuk Kampanye

Suparjo mengungkapkan, pada Kamis (9/4/2020) sore sempat melihat kerumunan di sekitar TPU. Semula ia tak tahu apa yang terjadi, namun berdasarkan informasi yang didapat ada penolakan atas proses pemakaman dari sebagian warga.”Sebagian warga saja. Sebab banyak yang sebenarnya tidak mempermasalahkan. Saya pribadi juga tidak masalah. Toh ini tanah Tuhan,” ucapnya

Suparjo kemudian membimbing koran ini ke rumah Trimanto, 60, orang yang menggali makam. Selain petugas lapangan TPU Sirawak, Trimanto juga merupakan Ketua RT 4/RW 7. Ia mengaku menggali makam itu atas izin ketua pengurus makam.

“Saya yang menggali sendiri. Sebelumnya pihak keluarga datang menemui saya di rumah. Kemudian saya menembusi ketua pengurus TPU. Beliau mengizinkan. Lantas saya kerjakan,” katanya

Baca juga:  Kompak Pindahkan Barang Usai Tugas

Ia menuturkan, pihak keluarga hanya memberi tahu jika jenazah meninggal akibat sakit sesak nafas. Sama sekali tidak mengatakan akibat covid-19.”Mungkin jika bilang, saya akan memusyawarahkan dengan warga setempat terlebih dahulu. Tapi begitulah kejadiannya. Saya menggali karena mendapat izin,” bebernya.

Ia sempat kebingungan karena banyak warga berkerumun ketika iring-iringan tiba. Ia mengaku sedang keluar mencari makan usai menggali.”Saya tidak tahu apa-apa. Usai beli makan saya lewat TPU. Di sana sudah ramai warga dan ada petugas-petugas berpakaian seragam APD lengkap,” katanya.

 

Neti, 37, Ketua RT 1/RW 8 turut memberi kesaksian. Ia mengatakan, warga sebenarnya tidak tahu jika jenazah adalah korban Covid-19. Warga akhirnya tahu ketika proses pemakaman melibatkan petugas berpakaian APD lengkap dan banyak aparat.

Baca juga:  Anggaran Riset Sangat Kecil

“Lantas warga berduyun mendekati TPU. Sebagian memang sempat terprovokasi karena petugas tak ada yang terbuka ketika ditanya. Bahkan ada yang menjawab dengan keras. Mungkin itu yang menimbulkan situasi jadi tidak kondusif,” ujarnya.

Ia memastikan bahwa tidak semua warga menolak. Hanya sebagian warga. Kebanyakan yang berkerumun di TPU mungkin hanya penasaran dengan apa yang terjadi.”Saya pribadi tidak menolak. Toh liang sudah digali. Saya justru tak tega dengan keluarga. Tapi yang terjadi demikian. Mungkin jika ada musyawarah dan koordinasi yang baik tidak akan terjadi hal semacam itu. Semoga menjadi pelajaran,” tutupnya. (nra/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya