alexametrics

Penolak Pemakaman Perawat Dikecam, PPNI Bakal Bawa ke Ranah Hukum

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Penolakan terhadap pemakaman Nuriati Kurniasih, 38, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Siwarak, Dukuh Suwakul, Kelurahan Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang terus mendapat kecaman. Almarhumah yang merupakan perawat RSUP Dr Kariadi itu meninggal sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan sempat diisolasi di rumah sakit tempatnya bekerja. Perawat yang akrab disapa Ria itu meninggal Kamis (9/4/2020) pukul 12.25, dan sempat akan dimakamkan di TPU yang berada di Dusun Suwakul RT 6 RW VIII tersebut. Bahkan, liang kuburnya sudah digali, dan pemakaman siap dilakukan. Namun pemakaman terpaksa dialihkan setelah mendapat penolakan dari sekelompok warga.

Salah seorang yang berperan dalam penolakan tersebut adalah Purbo, Ketua RT 6 RW VIII Dusun Suwakul. Di akun sosial medianya, banyak hujatan terdapat ketua RT yang istrinya juga seorang perawat ini. Bahkan hingga pukul 19.00 tadi malam, sudah ada 9.500 komentar yang rata-rata berisi hujatan terhadap Purbo.

Purbo sendiri saat di kantor DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah, Jumat (10/4/2020) kemarin, menyatakan penolakan pemakaman di TPU Siwarak Suwakul tersebut merupakan aspirasi masyarakat yang berada di lokasi, termasuk beberapa ketua RT lain. “Mereka mengatakan, pak jangan di sini, jangan dimakamkan di Suwakul,”ungkapnya di depan Ketua DPW PPNI Jawa Tengah, Edy Wuryanto.

Karena desakan warga, akhirnya aspirasi tersebut diteruskan ke petugas pemakaman.  Ia mengungkapkan tidak mungkin mengabaikan aspirasi warga karena tanggung jawab sebagai ketua RT.  “Atas nama pribadi dan warga saya minta maaf adanya kejadian kemarin. Saya minta maaf kepada perawat, warga Ungaran, dan kepada seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.

Menurut dia, adanya penolakan pemakaman tersebut, karena adanya kesalahan informasi sehingga menyebabkan ketidaksetujuan dari warga. “Keluarga almarhumah juga ada yang dimakamkan di Suwakul meski bukan warga kami,” ucapnya.

Baca juga:  Idealnya, Jadi 22 Kecamatan dan 250 Kelurahan

Purbo mengakui, dalam hati dia menangis karena adanya penolakan pemakaman jenazah tersebut. “Sungguh, saya juga menangis dengan kejadian tersebut.Apalagi istri saya juga perawat, tapi saya harus meneruskan aspirasi warga,” ungkapnya.

Ketua RW VIII Dusun Suwakul Daniel Sugito mengatakan, penolakan pemakaman tersebut sempat dimediasi. “Bahkan dokter juga memberi penjelasan hingga Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha datang ke lokasi. Tapi warga tetap menghendaki pemakaman dipindah,” timpalnya.

Karena ditolak warga, petang itu juga jenazah Nuria dibawa kembali ke RSUP Dr Kariadi. Selanjutnya, jenazah pahlawan dalam penanganan pasien Covid-19 itu dimakamkan di kompleks makam keluarga RSUP Dr Kariadi di Begota, Semarang. Tanah makam itu milik Kementerian Kesehatan RI Cq RSUP Dr Kariadi Semarang. Letak liang lahat dekat dengan pintu gerbang makam sisi kiri. Di pusara makam masih terdapat taburan bunga mawar segar.

Juru kunci Makam Bergota Mujiono mengatakan, pemakaman almarhumah Nuria dilakukan pukul 18.30, dan selesai pukul 20.00 dengan diantar oleh teman sejawat dan keluarganya. Isak tangis mengiringi pemakaman Nuria.  “Yang mengantar teman-temannya satu kantor dengan mengenakan seragam putih. Pengantarnya ada yang membawa mobil milik dinas dan mobil pribadi,” kata Mujiono  saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (10/4/2020).

Mujiono mengaku, sebelumnya mendapat perintah dari Kabag Rumah Tangga RSUP Dr Kariadi untuk membuat lubang kuburan di tempat tersebut. Ia lalu mengajak temannya yang berjumlah tiga orang untuk mengerjakan perintah tersebut dengan imbalan Rp 800 ribu. Saat penggalian sedalam satu meter, ada perintah dari Kabag Rumah Tangga agar tidak dilanjutkan. Pasalnya, almarhumah akan dimakamkan di Ungaran. Sehingga ketiga orang tersebut mengembalikan tanah untuk diratakan kembali karena tidak jadi dimakamkan di Bergota. “Karena tidak jadi dimakamkan di Bergota, tanah yang sebelumnya dilubangi, saya ratakan lagi seperti semula,” tambahnya.

Baca juga:  Semarang Cetak Hattrick sebagai Kota Pembangunan Terbaik di Indonesia

Sekitar pukul 17.00, Kabag Rumah Tangga RSUP Dr Kariadi kembali memberikan kabar kalau almarhumah akan dimakamkan di Bergota. Mujiono pun mengajak kembali mengajak temannya menggali kuburan lagi.  “Sebenarnya sejak awal pemakaman akan dilakukan di Bergota. Tetapi karena berubah-ubah membuat kami bimbang,” jelasnya.

Setelah lubang pemakaman jadi, tepat pukul 18.30, jenazah Nuria tiba di lokasi dengan diantar oleh teman kerjanya. Jenazah tersebut sudah dimasukkan dalam peti. Peti tersebut diturunkan dari mobil ambulans dan diangkat oleh teman sejawat.   “Mereka yang membawa peti jenazah itu tidak menggunakan pakaian khusus. Mereka memasukkan peti ke liang kubur lalu didoakan,” katanya.

Isak tangis pecah ketika peti jenazah dimasukkan ke liang kubur.  “Tidak ada upacara khusus, setelah jenazah dimakamkan dan didoakan, para pengantar langsung membubarkan diri,” katanya.

Humas RSUP Dr Kariadi Rohyatun kepada Jawa Pos Radar Semarang mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan keterangan pers mengingat kasus ini telah ditangani langsung oleh direktur. “Tapi yang jelas pimpinan sudah mengirim pesan melalui WA kepada Pak Gubernur yang menyampaikan kekecewaan atas sikap warga terhadap almarhumah. Lebih tepatnya prihatin dan menyesalkan atas kejadian penolakan pemakaman petugas kesehatan kami,” ujarnya, Jumat (10/4/2020).

Sementara itu, DPW PPNI Jawa Tengah siap membawa kejadian penolakan pemakaman perawat tersebut ke ranah hukum. Diharapkan, dengan adanya payung hukum yang jelas kejadian tersebut tidak terulang kembali.

Ketua DPW PPNI Jateng Edy Wuryanto mengatakan, saat ini sedang mengumpulkan bukti dan dokumentasi terkait kejadian pada Kamis (9/4/2020) petang itu. Menurut Edy, kejadian penolakan tersebut tidak akan terjadi kalau tidak ada provokator.

“Harus ada pembelajaran terkait kejadian ini. Kami sudah mengumpulkan ahli-ahli hukum yang tergabung di PPNI untuk memberi masukan dan kajian. Ini masih dalam proses pengumpulan data,” jelasnya.

Baca juga:  Tangis Haru Warnai ‘Ritual’ Basuh Kaki Ibu

Dikatakannya, perawat, dokter, dan pekerja medis adalah garda yang rawan terpapar korona atau Covid-19. Ia juga menjelaskan kerawanan paling tinggi itu adalah tenaga kesehatan yang tidak ada di ruang isolasi. Jika di ruang isolasi, paramedis sudah sadar, sehingga memakai alat pelindung diri. Namun berbeda dengan bagian lain yang tidak menggunakan APD, sehingga rawan tertular jauh lebih tinggi. Di Jawa Tengah, lanjutnya, ada 68.000 perawat. Ia pun meminta kepada anggotanya untuk mengenakan pita hitam di lengan kanan sebagai tanda duka mulai 10-16 April 2020.

“Kami minta pemerintah lebih serius memerhatikan keselamatan perawat sesuai standar WHO. Segera distribusikan ke perawat mulai dari tingkatan puskesmas hingga ke rumah sakit,” tegasnya.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Semarang lewat Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha membenarkan adanya berita duka dari salah satu warga Kabupaten Semarang. “Betul ada satu warga Kabupaten Semarang yang meninggal ketika bertugas melawan Covid-19. Atas nama Pemerintah Kabupaten Semarang turut berbela sungkawa,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di kantor Bupati Semarang.

Berita yang sudah viral karena penolakan dikatakan Ngesti adanya permasalahan dikomunikasi. Pihak Pemkab Semarang sudah mengoptimalkan yang terbaik. Yang awal dimakamkan di TPU Siwarak, Suwakul, diminta keluarga untuk dimakamkan di Semarang, tempatnya di makam keluarga besar RSUP Dr Kariadi.

“Kami sempat melakukan mediasi, musyawarah dengan warga. Kami jelaskan bahwa pemakaman sudah sesuai SOP. Masyarakat tidak perlu khawatir, ada Dinkes juga. Mungkin karena sudah petang keluarga memutuskan untuk dimakamkan di makam keluarga RSUP Dr Kariadi,” ungkap Ngesti. (hid/ria/ifa/aro) 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya