alexametrics

Harga Kedelai Melambung, Pengusaha Perkecil Ukuran Tempe

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Harga kedelai naik dan permintaan menurun membuat produsen tempe dan tahu terus memutar otak. Solusi yang mereka tempuh adalah mengurangi ukuran tempe dan tahu. Tanpa menaikan harga jual.

Abdul Rauf, 27, pengusaha tempe di Dampyak, RT4/RW 4 Kelurahan Sumurrejo, Gunungpati mengungkapkan, harga kedelai naik sekitar Rp 2.000 ribu hingga Rp 3.000. Apalagi, kenaikan harga kedelai diiringi dengan penjualan yang kian menurun sejak mewabahnya korona.

“Biasanya sehari saya bisa mendistribusikan lebih dari 150 kilogram, kini 100 kilogram saja berat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (10/4/2020).

Rauf mengaku kenaikan harga kedelai sudah menjadi hal biasa. Namun kali ini situasinya berbeda karena banyak pelanggan yang mengurangi jumlah pesanan. Bahkan ada yang kini berhenti berlangganan.

Baca juga:  KPU Semarang Kembalikan Sisa Anggaran Pilwalkot Rp 20,5 M

“Contohnya kantin di pabrik-pabrik Ungaran. Karena banyak pengurangan karyawan dan bahkan ada yang berhenti, otomatis saya tidak bisa mengirim ke sana. Atau tetap mengirim tapi jumlahnya sedikit,” tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, banyak warung angkringan dan warung sayur yang sepi pelanggan. Hal itu membuat mereka terpaksa mengurangi pesanan tempe.”Angkringan sekarang tidak boleh buka sampai larut malam. Jam bukanya berkurang. Mereka terpaksa mengurangi pesanan tempe,” ujarnya.

Kondisi serba sulit ini disikapi Rauf dengan bijak. Agar usahanya tetap bertahan, ia mengurangi ukuran satuan tempe produksinya.”Saya kurangi takarannya. Saya lebih memilih cara itu ketimbang menaikan harga jual. Biasanya konsumen sudah paham,” bebernya.

Hal serupa juga dirasakan Siswanto, 39, salah satu pengusaha tahu di Kampung Olahan Kedelai Kelurahan Sumurrejo, Gunungpati. Ia mengungkapkan, permintaan tahu di pasar-pasar Semarang kian menurun. Biasanya dalam sehari, produksi tahunya menghabiskan lebih dari 90 kilogram kedelai. Kini 50 kilogram kedelai tidak tentu terpakai.

Baca juga:  Kawasan Genuk Masih Dikepung Banjir

“Saya biasanya mengirim di hampir semua pasar di Semarang sampai Genuk juga. Tapi sekarang banyak yang mengurangi pesanan. Otomatis produksi tahu saya juga menurun,” ucapnya. (nra/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya