alexametrics

Belajar Otodidak, Uji Coba Habiskan Puluhan Kamera

Muhanif, Pemilik Usaha Jasa Servis Kamera yang Masih Bertahan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, – Tak banyak tempat usaha servis kamera di Kota Semarang. Salah satu yang masih bertahan adalah Muhanif. Sebelum menjadi ‘dokter kamera’, ia harus merogok kocek hingga puluhan juta rupiah untuk uji coba mengotak-atik kamera rusak.(NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

TEMPAT jasa servis kamera “Onoff Klinik Kamera” milik Muhanif tidak begitu luas. Ukurannya kurang lebih 5 kali 4 meter persegi. Di ruangan itu terdapat peralatan servis kamera lengkap. Juga terdapat jumlah kamera milik pelanggannya yang sedang dalam perbaikan.

“Kamera-kamera rusak ini ada yang punya saya sendiri, ada juga milik orang untuk diperbaiki,” kata Hanif –sapaan akrabnya–saat ditemui di tempat kerjanya di Jalan Suyudono, Semarang Selatan, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Hanif tampak masih sibuk membongkar kamera Canon 7D milik rekannya yang berprofesi sebagai jurnalis. Nama Hanif tak asing di lingkungan awak media. Pria kelahiran Semarang, 5 November 1986 ini dulunya sering berkecimpung dengan aktivitas memotret bersama rekannya yang juga dari kalangan wartawan foto.

“Teman-teman wartawan saya banyak, apalagi yang bagian tukang foto. Dulu kan aku hobinya memotret, bukan spesialis tukang servis,” akunya.

Baca juga:  Ponpes Sulit Terapkan Skema New Normal

Ia mengaku mulai membuka usaha servis kamera sejak 2012 silam. Awalnya, kamera Canon seri 400D miliknya yang dibeli pada 2008 seharga Rp 3,5 juta mengalami rusak. Ia lalu menserviskan kameranya tersebu di salah satu jasa servis di Kota Semarang. Namun setelah diservis, kamera tersebut rusak lagi.

“Yang rusak ternyata di bagian fleksibel putus. Saya saya cek fleksibelnya tidak diganti, cuma disambung. Ya, dalam hati saya ada rasa kecewa, tidak puas,” ujarnya.

Hingga akhirnya, pria berkacamata ini memberanikan diri untuk mencoba untuk memperbaiki sendiri kameranya. “Belajar sendiri itu sekitar tahun 2010, coba benerin lensa, flash. Saya browsing-browsing di internet. Dulu masih mahal, satu lensa kit harganya bisa sampai Rp 300 ribu” jelasnya.

Upaya memperbaiki kameranya ternyata berhasil. Bekal kuliah di jurusan teknik elektro Fakultas Tenik Universitas Semarang (USM) lulus 2009 cukup mendukungnya.

“Benerin pertama berhasil ya kamera sendiri sampai hitungan hari. Kalau tauh cara kerjanya, ngerti cara memperbaikinya itu mudah,” bebernya.

Dari sini, akhirnya Hanif berspekulasi membeli kamera yang mati untuk bahan uji coba mengembangkan bakatnya sebagai jasa servis. Hanif menyebutkan koleksi paling banyak adalah Canon seri 600d dan Canon seri 1100d. Sedangkan Canon 7d sebanyak tiga kamera.

Baca juga:  Tak Tuntas, Kontraktor Kretek Wesi Diputus dan Didenda Rp 320 Juta

“Ya, sekitar 50 kamera yang sudah saya otak-atik, saya bongkar. Kalau nominal uang sekitaran Rp 50 juta sama lensa. Terakhir aku beli kamera 5D klasik mati. Setelah tak benerin bisa, sekarang saya pakai sendiri. Belinya Rp 600 ribu mati, tak dandani beli sparepart habis Rp 1 juta,” katanya.

Diakuinya, uji coba perbaikan yang dilakukan mulai dari sensor, flash mati. Menurutnya, kecepatan untuk servis kamera tergantung tingkat kerumitan. Sedangkan paling rumit dan membutuhkan waktu lama adalah dalam mencari sparepart. Selain mahal, juga barangnya tidak banyak dibanding dengan sparepart kendaraan. “Apalagi kamera yang sudah tidak diproduksi lagi,” ujarnya.

Usaha yang dirintis sejak 10 tahun ini juga terus berkembang. Pelanggannya sudah merambah Kendal, Weleri, Pekalongan, Pati, Rembang, Kudus Demak, termasuk Kota Semarang. Bahkan juga dari luar Jawa, seperti Palembang, Lampung dan Makassar.

“Kemarin ada satu dari Papua masuk. Terus NTT pernah datang ke sini pas ke Semarang. Kebetulan Onoff Klinik Kamera itu kan di Google ada. Kalau mau servis bisa dikirim, kemudian kita cek, rusaknya apa, keluar estimasinya. Kalau acc kita kerjakan,” jelasnya.

Baca juga:  Daging Ayam dan Rokok Sumbang Inflasi

Hanif mengakui, sekarang usahanya yang dikelola bersama adiknya lagi kebanjiran order. Sehari rata-rata mendapat pelanggan tiga sampai empat kamera untuk dilakukan perbaikan maupun servis. Terkait harga, pihaknya mengatakan standar dengan tempat servis kamera lainnya.

“Cuma kita ada yang lebih murah. Kita juga menghitung tingkat risikonya juga. Kalau soal jadi cepat itu kan tergantung tingkat kerumitan, sama indent sparepart-nya. Kita ada sparepart dari China,” terangnya.

Pada Febuari 2020 bersamaan dengan peringatan Hari Pers Nasional dan ulang tahun OnOff Klinik Kamera, Hanif juga membuka pelayanan servis gratis selama dua hari mulai 10 sampai 11 Febuari 2020. Selama dua hari, setidaknya sudah mencapai 30 kamera yang masuk untuk diservis tanpa pungutan biaya.

Ke depan, pihaknya berencana membuka cabang di Kota Semarang. Hanya saja, Hanif mengaku terkendala dengan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk ahlinya. “Yang susah nyari teknisinya. Servis kamera itu tidak ada sekolahnya. Otodidak. Kalaupun dia bisa, pasti dia milih buka sendiri,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya