alexametrics

Diungkap, Praktik TPPU Penjualan Sabu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG, – Mochamad Iqbal alias Juanda Bintaro Sibuea ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah. Ia terlibat dalam jaringan peredaran narkotika. Hasil dari pengungkapan ini, petugas berhasil menemukan praktik Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan total nilai mencapai Rp 500 juta.(ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Tersangka Iqbal ditangkap di Perum Enhaka Gadog Karangpwaitan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, pada 8 Januari 2020 lalu. Ia ditangkap dari hasil pengembangan tersangka Dedi Kenia Setiawan. Dedi sendiri sudah dibekuk pada 8 November 2017. Tersangka Dedi merupakan kaki tangan bandar sabu kelas kakap bernama Cristian Jaya Kusuma, warga Kalimantan yang saat itu mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pekalongan.

Kepala BNNP Jateng Beny Gunawan mengatakan, pengembangan penyelidikan diawali dari penangkapan tersangka Dedi dengan barang bukti sabu seberat 8 kg di Semarang pada 8 November 2017 silam. Dari hasil pengembangan ditemukan adanya aliran uang ke Sancai menggunakan rekening atas nama Saniran, yang telah divonis hukuman satu tahun penjara terkait keterlibatan peredaran narkotika.

“Dari rekening atas nama Saniran mengalir uang hasil transaksi narkotika ke rekening atas nama Yamani Aburizal. Yamami juga telah divonis dengan hukuman tiga tahun penjara. Pengembangan berikutnya diketahui dari rekening Yamani dan rekening atas nama Dandiy Kosasih mengalir ke rekening BCA atas nama Juanda Bintaro Sibuea dan Mochamad Iqbal,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (10/2).

Baca juga:  Bayi Disumpal Tisu, Disimpan di Lemari Kos

Mengetahui hal ini, tim BNNP Jateng langsung melakukan penyelidikan terkait TPPU terhadap terduga pelaku atas nama Juanda Bintaro Sibuea. Dari hasil penyelidikan didapatkan informasi nama tersebut berada di wilayah Antapani dan Cibeunying Kidul Bandung. Sampai di lokasi tersebut, diperoleh informasi nama Juanda Bintaro Sibuea identik dengan nama Mochamad Iqbal. Namun dari keterangan warga, Mochamad Iqbal sudah kurang lebih dua tahun tidak tinggal di tempat tersebut.

“Nama Juanda aslinya orang Surabaya. Jadi, sebelum kita melakukan sidik terhadap tersangka, kita sudah cek ke Dispendukcapil bahwa warga yang tinggal di alamat Juanda itu tidak terlibat dalam peredaran narkotika. Setelah itu, kita cek alamat kedua di Bandung, ternyata sudah pindah ke Garut, membeli rumah di wilayah tersebut, dan berhasil kita amankan,” bebernya.

Dari penangkapan terhadap tersangka Mochamad Iqbal alias Juanda, petugas BNNP Jateng juga berhasil mengamankan berbagai barang bukti berupa KTP atas nama Mohammad Iqbal, satu bendel mutasi rekening dengan rekening BCA atas nama Juanda Bintaro Sibuea, dan satu bendel rekening BCA atas nama Mohammad Iqbal. Juga satu unit handphone Samsung, satu sertifikat tanah berikut bangunan rumah yang ditaksir senilai Rp 400 juta dari hasil penjualan narkotika, serta satu unit mobil Daihatsu Ayla warna putih D 1609 UY yang diangsur dari debet rekening penjualan narkotika. Lalu, ada satu bendel mutasi rekening atas nama Siti Mulya Ainal, istri tersangka Mochamad Iqbal.

Baca juga:  Total 1100 Hektare Lahan Terbakar

“Barang bukti rumah itu dibeli tahun 2018, ditaksir harganya Rp 400 juta dan mobil itu diangsur dari upah debet atau rekening, pemberian upah dari Sancai. Kalau setiap penarikan uang tunai dikasih Rp 1 juta, kadang langsung masuk ke debet rekening pribadi. Jadi, peran Iqbal memindahkan uang, dia menguasai lima rekening dan dua rekening atas nama Juanda,” katanya.

Beny Gunawan juga membeberkan, setelah dilakukan penangkapan terhadap tersangka Mopcahmad Iqbal, langsung dibawa ke Kantor BCA KCP Pahlawan Bandung, KCP A Yani Bandung dan leasing BCA Finance untuk membuka rekening koran atas nama tersangka. Setelah dilakukan penelusuran dari rekening koran tersebut, tersangka akhirnya mengakui ia melakukan pengambilan sabu atas perintah Yanto Tri. Saat ini, nama tersebut masih dalam penyelidikan.

“Jadi, rekomendasi kita adalah mengingat semakin canggihnya pola dan modus operandi yang dilakukan oleh sindikat narkotika, diharapkan pengelola jasa keuangan semakin kooperatif dan memberikan akses yang luas kepada BNN untuk memperoleh data dan informasi transaksi keuangan terhadap nasabah yang terduga terlibat sindikat jaringan narkotika,” harapnya.

Baca juga:  Tanjung Mas dan Petompon Jadi Pilot Project Kelurahan Ramah Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

“Karena selama ini pihak perbankan terutama BCA, masih susah dan berbelit-belit. Ini terus terang saja, dalam memberikan data transaksi dan keuangan yang dibutuhkan. Sementara perbankan yang paling cepat memberikan informasi data yang dibutuhkan adalah BRI. Sehingga kasus ini dapat terungkap dengan baik,” lanjutnya.

Beny juga mengungkapkan, dalam melancarkan operasinya, jaringan ini menggunakan modus baru yang tergolong sulit dilacak, yaitu dengan membuat surat keterangan KTP elektronik, KTP serta KK palsu untuk membuka rekening di sejumlah bank. Menurutnya, jaringan ini sangat berbahaya, karena sudah terbukti berhasil mengelabuhi sejumlah perbankan nasional untuk membuka rekening dengan identitas ganda atau palsu yang digunakan untuk transaksi narkotika skala besar.

“Ini kita lacak, apakah ada oknum di dalamnya atau bagaimana. Yang jelas modus operandi sangat membahayakan. Jadi, dia (tersangka) ini namanya banyak, Mocahmmad Iqbal, Juanda dan Mochamad Surja. Sancai sejak tahun 2017 sekarang di Lapas Nusakambangan, tersangka Iqbal sejak tahun 2017 sampai 2019 akhir, ikut Sancai yang sekarang di Lapas Nusakambangan,” bebernya.

Hingga kemarin, tersangka Mochamad Iqbal masih mendekam di sel tahanan Kantor BNNP Jateng guna menjalani proses hukum selajutnya. Atas perbuatannya, tersangka terancam hukuman 20 tahun penjara. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya