alexametrics

Klaim Pertama di Semarang, Setahun Catat Laba Rp 30 Juta

Mengenal Badan Usaha Milik Warga (BUMW) Kelurahan Tegalsari, Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, – Warga RW 4 Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang memiliki cara unik memanfaatkan potensi di wilayahnya. Mereka memiliki Badan Usaha Milik Warga atau BUMW untuk kesejahteraan warga.(Dewi Akmalah/ Jawa Pos Radar Semarang).

Jika ingin meningkatkan kesejahteraan, maka kita perlu berinovasi. Melalui hal tersebut kita akan berkembang dan dapat memikirkan jalan kreatif untuk memaksimalkan peluang. Hal inilah yang coba dilakukan oleh warga RW 4 Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Mereka memanfaatkan potensi yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk dibentuk menjadi Badan Usaha Milik Warga (BUMW). Nantinya hasil dari kegiatan tersebut semata-mata untuk kesejahteraan warga sendiri.

Ketua RW 4 Kelurahan Tegalsari Pringgo Sucahyo Tunggal Rino menuturkan, daerahnya memang memiliki potensi yang banyak. Seperti sumber air bersih, penampungan sampah, lahan yang luas dan masih banyak lainnya. Namun dalam pengelolaannya masih dilakukan sendiri-sendiri setiap RT. Sehingga kurang maksimal pengelolaannya. Karena itu, pihaknya berinisiatif untuk menyatukan kepengurusan dalam suatu Badan Usaha Milik Warga untuk dapat mengelola potensi tersebut secara bersama-sama.

“Sebelumnya karena terpisah-pisah laporan khususnya keuangan jadi kurang tertata dan maksimal. Karena itu, saya usul dijadikan satu holding usaha saja agar pengurusannya bisa satu atap di bawah BUMW tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap hasil dari BUMW tesebut akan masuk dalam kas bersama. Setiap ketua RT dapat secara transparan melihat hasil yang ada. Sehingga tidak ada kecurigaan mengenai hasil dari usaha tersebut akan dibuat apa. Sebab, semuanya akan dikembalikan untuk keperluan warga dan perawatan BUMW tersebut. “Sepeserpun penggunaan akan kami laporkan ke warga. Tidak ada yang ditutupi,” lanjutnya.

Baca juga:  Hanya 16 Umat yang Hadiri Tawur Kesanga

Disebutkan, ada empat potensi yang dimanfaatkan dalam BUMW tersebut. Yang pertama adalah sumber air bersih yang diberi nama “Tirto Langgeng”. Dengan debit air yang tinggi mampu mengisi penuh empat tandon raksasa selama 24 jam. Nantinya air tersebut akan disalurkan dan dimanfaatkan untuk keperluan warga. Bahkan hingga saat ini air tersebut dapat dialirkan untuk 150 rumah dari empat RW di sekitarnya. Warga hanya perlu membayar Rp 1.500 per kubik. Jauh lebih murah dari tarif air PDAM.

“Perbandingannya kalau beli di kita dipakai atau tidak dalam sebulan cukup membayar Rp 7 ribu saja. Kalau di PDAM bisa sampai Rp 70 ribu. Warga jadi sejahtera, sebab bayar airnya lebih murah,” tuturnya.

Potensi yang kedua adalah Tempat Pembuangan sampah Sementara (TPS). Ya, kebetulan RW-nya memang daerah tempat TPS berada. Hampir semua sampah dari tiga kelurahan lain, seperti Candi, Tegalsari, dan Wonotingal berakhir di TPS tersebut. Karena itu, pihaknya mencoba memanfaatkan peluang tersebut.

Baca juga:  Satpol PP Kota Semarang Akhirnya Segel Kos Mesum

Setiap kelurahan akan dibebankan biaya untuk membuang sampah di sana. Nantinya uang tersebut akan masuk dalam kas BUMW dan digunakan semata-mata untuk keperluan warga dan biaya perawatan TPS itu sendiri.

“Warga kami juga membentuk bank sampah. Mereka ikut memilah sampah tersebut agar lingkungannya bersih. Jadi, bisa dilihat TPS kami selalu bersih dan tidak ada sampah tercecer meskipun kita harus menampung sampah dari tiga kelurahan lain,” lanjutnya.

Yang ketiga adalah lahan parkir. Ia menceritakan awalnya warga selalu berselisih paham mengenai lahan parkir. Bentang permukiman yang berada di perbukitan membuat jalan warga menjadi sempit. Belum lagi bentuknya turunan.”Tentu sangat berbahaya untuk parkir,” katanya.

Setelah itu, pihaknya bersama warga mencoba mencari solusi dengan memanfaatkan lahan kosong di lokasi tersebut. Setelah diperbaiki, lahan tersebut menjadi lahan parkir warga yang nyaman dan aman. Meskipun begitu tidak serta merta warga gratis menggunakan. Mereka akan ditarik biaya perawatan sebesar Rp 50 ribu per bulan. Uang tersebut juga akan masuk kas BUMW. Dalam sebulan, ia mengaku pendapatan dari lahan parkir mencapai Rp 1,25 juta.

“Kita juga perlu untuk membayar pemasangan listrik, potong rumput, sewa keamanan dan lain sebagainya. Itu semua dibayar menggunakan uang perawatan tersebut,” tambahnya.

Baca juga:  Amankan 769.595 Kapsul Obat Tanpa Izin Edar

Dan yang terakhir adalah balai RW. Tiap penggunaan balai RW pihaknya akan menarik uang sewa. Masih sama dengan sebelumnya, uang tersebut juga akan digunakan untuk perawatan dan masuk kas BUMW.

Ia mengaku adanya BUMW tersebut dapat membantu meringankan beban warga. Pasalnya, hasil BUMW dapat digunakan untuk membiayai keperluan warga. Bahkan dalam satahun pihaknya mampu mencatat laba bersih sebesar Rp 30 juta. Angka yang fantastis mengingat sebelum adanya BUMW pengelolaan dan pemasukan tidak teratur dan menentu.

“Alhamdulillah sekali sekarang ada BUMW. Kami bisa gunakan untuk membantu warga. Sebab, dari awal pembentukan memang semua dari warga, untuk warga dan oleh warga. Jadi, yang menikmati juga warga,” katanya.

Lurah Tegalsari Sri Martini mengaku bangga dengan ide kreatif warganya. Ia berharap BUMW tersebut dapat menjadi percontohan daerah lain untuk memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan masing-masing. Sehingga warga dapat mengelola dan meningkatkan kesejahteraan dengan usaha sendiri. Dan tidak lagi bergantung dengan pihak luar yang bisa saja merugikan.

“Ya, semoga saja BUMW yang baru pertama kali di Semarang ini bisa ditiru kelurahan lain. Sebab, meski menjadi andalan, kami juga ingin melihat daerah lain maju bersama kami. Jadi kita bisa bergerak bersama menjadikan warga Semarang lebih sejahtera,” harapnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya