alexametrics

Produksi Dua Juta Boneka, Raih Penghargaan dari UI

Suratinah, Lulusan SD yang Jadi Pengusaha Boneka

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, – Suratinah, 48, hanya lulusan SD. Sedangkan Sukaryo, 48, suaminya, malah tidak tamat. Namun keduanya kini sukses berbinis boneka. Produknya dipasarkan hingga ke luar Jawa, bahkan sampai Korea.

SAMBUTAN hangat dan sapaan khas ndeso langsung terucap dari Suratinah saat menyapa kedatangan wartawan Jawa Pos Radar Semarang, Agus Hadianto di gudang pabrik boneka miliknya, Tin Panda Collection. Gudang dan rumahnya berdekatan di Dusun Candi RT 2 RW 5, Desa Sidomulyo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Obrolan khas ndeso begitu terlihat dari Suratinah. Maklum, memang dia hanya lulusan SD. Bahkan, pernah mengalami phobia saat naik ekskalator di kampus Universitas Indonesia (UI) saat diundang memberikan materi membuat boneka dalam sebuah penilaian penghargaan 2007 silam.

“Saya dulu awal 2007, naik ekskalator takut, Mas. Saya heran, kok tangga bisa berjalan sendiri. Takut gitu, akhirnya cuma duduk di depannya saja. Akhirnya digandeng untuk naik. Selain itu, saat diundang, saya pakainya kantong plastik warna hitam (kresek, Red) sebagai tas. Maklum saya wong ndeso, lulusan SD,” kenangnya sambil tertawa.

Suratinah mengakui dirinya tidak malu sebagai wong ndeso lulusan SD. Terlebih, saat memulai usahanya pada 1997 silam. Dirinya bekerja lebih dulu sekitar 10 tahun di sebuah pabrik boneka di Bandung sejak 1985. Kala itu, begitu lulus SD, ia langsung bekerja mengikuti jejak saudara-saudaranya terlebih dahulu.

Meski hanya lulusan SD, kata Suratinah, dirinya dipercaya oleh pemilik pabrik membuat pola desain boneka. Keahliannya itu didapatnya karena kesukaannya menggambar. Juga diajari oleh saudaranya yang lebih dahulu bekerja di pabrik tersebut.

“Waktu itu saya dipercaya jadi pembuat pola. Awalnya, saya disuruh membuat pola dengan membaca tugas membuat apa? Lalu pemilik pabrik, nyari saya karena lama. Saya lagi nangis, karena ndak bisa membaca yang ditulis pemilik pabrik. Saya ditanya kenapa nangis, saya jawab ndak bisa baca,” ceritanya.

Baca juga:  Fun Run Misi Columbia Ajak Hidup Sehat

Suratinah mengaku, dirinya memang tidak bisa membaca meski lulusan SD. Hal itu, kata Suratinah, sudah wajar terjadi di desa kelahirannya. Kemudian oleh pemilik pabrik, dirinya diajari membaca oleh guru yang sengaja didatangkan.

“Pemilik pabrik baik sekali, saya diajari membaca. Setelah bisa, kemudian saya dipercaya membuat pola desain boneka. Karena buatan saya polanya bagus dan rapi. Pemilik pabrik suka. Saya juga betah di sana,” ungkapnya.

Saat bekerja di pabrik itu ia hanya gaji Rp 15 ribu per bulan. Uang segitu hanya cukup buat makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari selama di Bandung. Namun krisis moneter yang berhembus pada 1996-1997 membuat pabrik boneka tempatnya bekerja goyah. Akhirnya, kata Suratinah, pabrik terpaksa merumahkan sebagian para karyawannya, termasuk dirinya dan Sukaryo, teman sekerja yang akhirnya menjadi suaminya pada 1994.

“Pada tahun 1996, karena banyak yang dirumahkan, termasuk saya. Akhirnya kami memilih keluar dari pekerjaan, kembali ke kampung. Membuat boneka sendiri. Itu pada tahun 1997, kami mulai produksi,” beber perempuan kelahiran 9 Februari 1972 ini.

Suratinah mengaku, pada saat awal membuka usahanya, dengan modal uang tabungan Rp 5,5 juta. Kala itu, boneka buatannya masih menggunakan bahan-bahan biasa, yakni menggunakan kain wool.

Modal Rp 5,5 juta itu digunakannya untuk membeli satu truk bahan baku dan membeli empat unit mesin jahit. Bahan baku boneka yakni kain, isi silicon, dan benang. Untuk mesin jahit, kata Suratinah, dibantu kakak membelikan enam unit.

“Mesin jahit ada 10 unit. Produksinya masih biasa, kecil-kecil dulu buatnya. Kualitas boneka juga biasa selama satu tahun. Saya sama suami keliling menjajakan ke Magelang, masuk toko, keluar toko. Saat itu, banyak yang menolak, bahkan karyawan toko menolak kami,” kenangnya.

Surtinah mengaku, berkat ketekunan dan kerja kerasnya menjajakan bonekanya, akhirnya banyak toko yang mau menerima meski hanya sedikit. Bahkan hasil penjualannya pun tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lambat laun, dirinya pun akhirnya beralih meningkatkan kualitas bahan pembuatan boneka seperti saat di pabrik boneka, yakni menggunakan kain bowa, laspur, kain korea dengan berbelanja di Bandung. Selain itu, dirinya juga mengikuti perkembangan boneka apa yang menjadi tren.

Baca juga:  Karaoke Liar Penggaron Bebas Beroperasi

“Kakak di Bandung yang kulakan, saya tinggal pesan dan mengirim uang pembayaran. Sampai sekarang juga seperti itu. Semuanya dari Bandung bahan-bahannya. Kami memang menjaga kualitas, standar SNI, sampai sekarang,” ujarnya.

Setelah kualitas bahan ditingkatkan, hampir semua toko mau menerima dan membeli boneka buatannya. Bahkan, para pembeli boneka buatannya, sudah sampai ke Semarang, Jogja, Wonosobo, Banjarnegara, Bandung, Surabaya, Jakarta, Malang, hingga Kalimantan. Sistem penjualan yang dipakainya sejak dulu hingga sekarang adalah cash atau tunai.

“Dari dulu cash, ndak model titip. Itu dari dulu sampai sekarang. Dulu pernah tahun 2005, beberapa pelanggan karena sudah terbiasa membeli bertahun-tahun, terus beli dan belum membayar. Alasannya lupa bawa uang lah, nanti akan ditransfer lah. Kami percaya, karena sudah biasa langganan. Ternyata semuanya kabur, tidak membayar. Totalnya sampai Rp 50 juta yang tidak dibayar,” akunya.

Selama menekuni usaha boneka, ia sering mendapat penghargaan sejak 2007 silam. Salah satunya dari UI tentang kewirausahaan mandiri. Ia kerap mendapat undangan untuk mengisi workshop di berbagai daerah. Hingga kini, dirinya tidak bisa menghitung berapa jumlah boneka yang dibuatnya bersama suami.

“Kalau dihitung sejak tahun 1997 hingga sekarang, mungkin sudah sampai dua juta lebih boneka yang saya buat, Mas. Saya buat polanya, suami yang njahit. Apalagi sekarang, belanja satu truk bahan-bahan baku saja mencapai Rp 200 juta dan bisa jadi ribuan boneka. Boneka yang saya jual dari harga Rp 15 ribu-Rp 1 juta. Boneka kecil Rp 15 ribu, sedang terbesar boneka berukuran dua meter bobot 20 kg seharga Rp 1 juta,” terang ibu dua anak perempuan tersebut.

Baca juga:  Sore Ini PSIS Duel Lawan PS Tira Persikabo, Bagaimana Peluangnya?

Suratinah selalu menjaga kualitas boneka buatannya. Produknya diklaim mampu bertahan selama dua tahun dan aman untuk kesehatan karena sesuai SNI.
“Ada pesanan dari Kalimantan. Mereka pesan 400 boneka berbagai jenis, ini baru sampel saja. Kami juga terpaksa menolak pesanan dari Korea, mereka minta dibuatkan 10 ribu buah. Sistem kontrak. Kami ndak sanggup. Hambatannya karena di sini sering mati listrik, jadi terhambat produksinya,” tandasnya.

Suratinah menuturkan, meski dirinya sudah sukses sekarang ini, tidak pernah pelit memberikan ilmunya kepada orang-orang yang ingin membuat boneka. Bagi Sukartinah, memberi ilmu membuat boneka adalah upaya untuk membantu orang-orang agar bisa sukses seperti dirinya. Terlebih dirinya juga pernah merasakan bagaimana susahnya menjalani hidup.

“Bagi saya, rezeki sudah ada yang mengatur. Di sini saya juga mempekerjakan ibu-ibu sekitar rumah untuk membuat boneka. Saya yang buat polanya, saya beri bahannya, kemudian dikerjakan di rumah masing-masing. Ada 10 ibu yang saya ajak bekerja,” ucap nenek satu cucu perempuan tersebut.
Sukaryo mengaku boneka buatannya sulit untuk ditiru oleh orang lain. Selain karena kualitas yang terjaga, menurut Sukaryo, karena kerapian dari pola awal pembuatan boneka yang menentukan.

“Istri memang jago membuat pola, sangat teliti dan rajin. Pantas dulu dipercaya oleh pemilik pabrik. Saya bisanya njahit, istri yang membuat pola. Dulu ada yang mengaku cabang dari kami. Namun, waktu yang membuktikan bahwa kami berbeda. Akhirnya pelanggan tetap ke sini, Karena harga kami lebih murah dan kualitas terjaga. Masalah ada yang meniru kami, rezeki sudah ada yang mengatur,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya