alexametrics

Bandara Dilengkapi Ruang Bertekanan Udara Negatif

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG, – Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani dilengkapi ruang isolasi bagi penumpang yang teridentifikasi mengindap virus korona. Ruang steril itu diklaim satu-satunya fasilitas kesehatan bandara di Indonesia yang bertekanan udara negatif. Itu artinya, ruangan itu betul-betul sterilisasi, sehingga tidak ada virus menular yang bisa masuk.(ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

“Ruangan khusus ini dikelola bersama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang dan bisa menjadi pilot project bandara-bandara di Indonesia lainnya,” kata General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang Hardi Ariyanto usai menyaksikan simulasi penanggulangan pandemi virus korona di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Kamis (30/1)

Hardi mengatakan, ruang isolasi yang disediakan di bandara terdiri atas satu kamar. Tapi dalam kondisi darurat, kamar tersebut bisa digunakan untuk lima sampai sepuluh pasien.

Baca juga:  Tak Kunjung Ditempati, Pasar Johar Jadi Mangkrak

Sementara itu, dalam simulasi penanggulangan pandemi virus korona, petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang mendeteksi salah seorang penumpang yang baru turun dari pesawat diduga terinfeksi virus korona. Kecurigaan petugas diketahui setelah penumpang tersebut melewati termoscanner atau alat pendeteksi suhu tubuh. Oleh petugas KKP bersama Angkasa Pura (AP) I yang mengenakan pakaian tertutup seluruh tubuh dan wajah warna kuning, penumpang itu dilakukan tindakan. Yakni, dengan dinaikkan tempat tidur khusus yang tertutup untuk dibawa ke ruang isolasi di area bandara.

Kepala KKP Semarang dr Ariyanti mengatakan, tujuan simulasi ini untuk mempersiapkan SDM dalam mengantisipasi masuknya virus korona dengan melakukan kesiapsiagaan dan kewaspadaan. “Dalam simulasi digambarkan bagaimana petugas menangani dengan melakukan pengawasan kepada setiap penumpang yang datang dari luar negeri melalui alat termoscanner,” katanya.

Baca juga:  Ada Pasir Putih dan Suara Deburan Ombak di Tengah Kota Semarang

Saat melewati termoscanner, akan diketahui suhu tubuh setiap penumpang. Jika suhu tubuh penumpang mencapai 38 derajat celcius, maka akan dilakukan pemeriksaan lanjutan dan diobservasi. Dan, apabila terindikasi terinfeksi virus korona, maka akan dirujuk ke RSUP dr Kariadi.

Simulasi serupa kemarin juga digelar di RSUP dr Kariadi. Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr Kariadi dr Agoes Oerip Poerwoko SpOG(K) MARS mengatakan, simulasi tersebut dilakukan jika kemungkinan ada pasien virus korona yang saat ini sudah sampai di Singapura dan Malaysia.

“Kita harus siap apabila ada pasien yang terindikasi virus konora. Ini kegiatan rutin yang selalu dilakukan, seperti simulasi penyakit lainnya atau simulasi kebakaran dan simulasi bencana,” katanya.

Baca juga:  Kue “Balai Kota” untuk Ultah Kota Semarang

Ketua Tim Penanggulangan Bencana dr Uva Utomo mengatakan, untuk pasien yang meninggal akibat virus korona, maka harus terhindar dari orang sehat. Bahkan ketika pemulasaran jenazah, harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Sebab, dikhawatirkan akan menular lewat airborne (melalui udara, Red). Jenazah dibungkus dengan plastik dua hingga tiga lembar.
“Penanganannya berbeda dengan yang lainnya, karena ini menyangkut wabah. Sehingga setelah dilakukan pemulasaran, tidak boleh dibuka lagi. Dan, setelah empat jam harus dimakamkan,” ujarnya. (hid/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya