alexametrics

Berdayakan Ibu-Ibu Tetangga, Produk sampai Pulau Bali

Istiqomah, Sulap Kain Perca Jadi Produk Aksesori

Artikel Lain

RADARSEMARNG. ID, – Kain perca yang dibuang begitu saja di tangan Istiqomah ternyata bisa disulap menjadi aneka aksesori bernilai jual, seperti gantungan kunci dan kalung. Dia juga membuat sandal dan sepatu dari kulit sapi.(IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KAIN perca kerap menjadi barang tak ternilai bagi sebagian penjahit. Potongan kain itu biasanya hanya menjadi sampah. Namun tidak bagi Istiqomah yang justru melihatnya sebagai peluang usaha. Ide muncul saat ia melihat tetangganya yang berprofesi sebagai penjahit membuang kain perca di tong sampah. Ia pun memungut potongan-potongan kain yang masih baru itu, dan mencoba untuk membuat kreasi.

Saat itulah, perempuan 30 tahun ini mulai mengembangkan kain perca menjadi berbagai produk aksesori, seperti gantungan kunci, tas, kalung hingga sandal dan sepatu. Pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) asal Kelurahan Sambiroto RT 01 RW 01, Kecamatan Tembalang ini tidak bekerja sendiri. Ia juga memberdayakan ibu-ibu di lingkungan sekitar rumahnya dalam memproduksi aksesori.

Baca juga:  Hina Pemkot di Medsos, Pemuda Gisikdrono Diciduk

“Kita menggandeng orang terdekat. Ibu-ibu yang nganggur diberdayakan. Daripada ngerumpi mending membuat produk ini,” ujar Istiqomah kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Ia memilih kalung sebagai produk andalan lantaran barang ini diminati wanita dari segala usia. Mulai anak kecil hingga orang dewasa. Bentuknya pun juga unik, mengikuti tren generasi milineal, namun ada juga yang etnic. Ada pula yang dibuat custom. Hanya ada satu bentuk dan tidak diperbanyak. Untuk itu, harganya juga lebih mahal.
“Ada kalung yang glamor dan etnic. Bandulnya ada yang berbentuk wayang karena mengangkat budaya Jawa, tapi harus bisa menyesuaikan pasar. Kita ada bentuk bandul warak ngendok juga sebagai ciri khas Kota Semarang,” katanya yang kini menjadi binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang.

Baca juga:  Produk Tekstil Masih Primadona

Kalung yang diproduksi dijual mulai harga Rp 50 ribu hingga Rp 175 ribu. Selain dipasarkan melalui online, ia juga menitipkan produknya di Gallery Kota Lama, Gallery Balai Kota, dan sejumlah toko aksesori. UMKM ini juga sering mengikuti pameran dan bazar baik tingkat Kota Semarang, bahkan hingga Pulau Bali.

Selain kalung, produk sepatu dan sandal dari Istiqomah juga banyak diminati. Bahkan pernah dipesan dalam jumlah banyak. Sepatu ini dibuat dari perpaduan antara kain perca dan kulit sapi asli. Pengerjaan satu sepatu bisa memakan waktu selama dua minggu. Tak heran kalau harganya juga mahal. Sepasang sepatu wanita dibandrol mulai harga Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

Baca juga:  Setelah Diresmikan Presiden Jokowi, Pasar Johar Sepi Lagi

“Kalau ada permintaan banyak, saya menambah tenaga kerja. Satu kodi bisa selesai dalam waktu 12 hari. Kalau tidak ada pesanan ya produksi rutin semampunya,” imbuhnya.

Saat memasarkan produksinya baik lewat online maupun cara konvensional, ia menggunakan nama brand Lykien. Nama itu diambil dari nama orang tuanya. “Lykien itu nama bapak saya, yakni Solikin yang biasa dipanggil Pak Likin. Alasan memilih nama ini karena belum ada yang menggunakan dan cukup unik,” katanya.

“Dulu pernah pakai brand nama anak saya, tapi ketika didaftarkan di Dinas Perdagangan ternyata sudah ada yang pakai, akhirnya diganti Lykien,” tambahnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya