alexametrics

Implementasi Flipped Classroom dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, – TIDAK sedikit siswa di semua jenjang pendidikan yang masih merasa kesulitan untuk menguasai bahasa Inggris dengan baik. Fokus utama pembelajaran dan pengajaran bahasa Inggris masih dalam meningkatkan tata bahasa dan kosa kata. Karenanya kebutuhan atas adanya pendekatan kreatif dalam mengajarkan Bahasa Inggris kepada siswa sangatlah penting dan mendesak. Flipped Classroom (Kelas terbalik) bisa menjadi salah satu model pendekatan alternatif.

Model ini mengubah konsep model kegiatan pembelajaran “tradisional”, yang mana siswa mendapatkan materi dan mempelajarinya di kelas lalu mereka mengerjakan tugas atau pekerjaan di rumah (PR), menjadi cara siswa mendapatkan materi dan mempelajarinya di luar ruang kelas (bisa di rumah, di perpustakaan atau di mana saja) dan kemudian mengerjakan, mendiskusikan dengan teman kelas/sebaya, dan menyelesaikannya secara kolaboratif-interaktif bersama guru di dalam kelas. Guru di sini lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang akomodatif terhadap persoalan yang ditemukan siswa dan memastikan siswa dan proses pembelajaran berada dalam jalur yang seharusnya.

Baca juga:  Wakapendam Gantikan Kapendam

Berret (2012) menyampaikan bahwa ide dan konsep pembelajaran terbalik semacam ini lebih tepat diterapkan di jenjang pendidikan tinggi—ya setidaknya mulai Sekolah Menengah Atas lah. Sebab pada masa usia tersebut siswa sudah mulai terbiasa untuk melakukan kolaborasi, mempunyai pemikiran yaang lebih kritis, dan dapat menganalisis sebuah persoalan secara lebih mendalam. Penulis pernah mengujicobakan pendekatan Flipped Classroom ini pada pembelajaran Bahasa Inggris terhadap anak-anak SD dan SMP. Walhasil, hasilnya kurang begitu efektif. Butuh kerja dan upaya yang lebih keras dalam pelaksanaannya.

Dalam mengajarkan Bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan Flipped Classroom, guru dapat melakukan prosedur ini. Pertama, jika materi berupa video, guru perlu memastikan bahwa perangkat lunak semacam Windows Movie Maker atau sejenisnya telah ter-install di komputernya. Kedua, guru kemudian akan menulis skrip untuk dibaca dari awal video sampai akhir. Isi skrip bisa menyesuaikan tema/topik yang akan diajarkan. Ketiga, guru kemudian menyiapkan materi untuk ditampilkan dalam video. Bisa berupa gambar, klip, musik instrumental, kata-kata, kutipan, dan sebagainya. Bahan-bahan itu akan mendukung narasi.

Baca juga:  Ngeyel Rayakan Tahun Baru, Tempat Hiburan akan Disegel

Langkah selanjutnya adalah guru yang sebagai narator akan merekam suaranya saat membaca skrip. Saat perekaman selesai, ia kemudian memasukkan suara yang direkam dan semua bahan pendukung ke format video. Guru harus mengatur semuanya dalam urutan yang benar dan urutan yang sesuai sehingga video tersebut akan interaktif dan menarik bagi siswa. Ketika sudah siap, materi dalam video tersebut dapat diunggah di media sosial seperti Youtube, Instagram, facebook, Whatsapp atau yang lainnya lalu siswa diminta untuk mengunduhnya.

Guru kemudian akan meminta siswa untuk menonton video, mempelajari dan memahaminya sepaham-pahamnya. Setelah itu, guru meminta siswa membuat kelompok yang terdiri atas dua atau tiga siswa untuk mendiskusikan materi yang diberikan dengan bimbingan guru sebagai fasilitator mereka. Masing-masing kelompok kemudian diminta menuliskan hasil diskusi mereka. Setelah itu mereka mempresentasikan tulisan hasil diskusi tersebut di depan kelas.

Baca juga:  Khotbah Dipersingkat, Tak Ada Salaman

Di sela-sela diskusi, menulis, dan presentasi tersebut, guru akan merespons persoalan dan presentasi siswa secara akomodatif dan interaktif. Dengan kegiatan yang menarik dan kreatif serta guru yang responsif, kelas akan hidup dan nyaman sehingga siswa tidak akan ragu untuk berbicara banyak dalam bahasa Inggris. Hasilnya, jika itu berjalan dengan baik, keterampilan Bahasa Inggris siswa, mulai Speaking, Writing, Reading, hingga Listening siswa akan terasah dan pada akhirnya akan meningkat secara signifikan.

Flipped Classroom dapat menjadi pendekatan alternatif yang menarik bagi guru-guru bahasa Inggris dalam mengajar. Saya katakan “alternatif” karena tidak mungkin pendekatan ini dilaksanakan terus-terusan selama satu semester atau setahun. Bila seperti itu, siswa akan terasa bosan dan “tertekan” dengan tugas yang banyak, baik itu tugas yang harus mereka pelajari di rumah maupun diskusi dan presentasi di kelas. (*/zal)

Dosen prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya