alexametrics

Belajar dan Menyikapi Novel Coronavirus

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, – Kejadian luar biasa (epidemi) pneumonia berat di Wuhan, Hubei, China telah menyita perhatian dunia pada beberapa pekan ini. Meskipun rilis resmi European Center for Diseases prevention and Control (ECDC) pada akhir pekan lalu menyebutkan bahwa jenis baru dari virus Corona, yang diberi nama 2019 Novel Coronavirus (2019-nCov) diduga telah menginfeksi 1.739 orang dengan rentang usia 10 hingga 89 tahun. Telah menyebabkan 295 orang dinyatakan positif terinfeksi, termasuk 4 orang dari luar China yang pulang dari Wuhan. Empat kasus fatal dengan case fatality rate 1,4 persen adalah para lanjut usia dengan komplikasi beberapa penyakit kronis.

Meskipun data ECDC, WHO dan sumber lain menunjukkan perbedaan, namun ada gambaran serupa bahwa virus Corona jenis baru ini berpotensi besar untuk pandemis ke berbagai negara. Hingga 24 Januari 2020 lalu, WHO telah mencatat 830 kasus terkonfirmasi (pasti) dan 177 di antaranya dengan manifestasi klinis yang berat dan angka kematian mencapai 3,01 persen, serta kasus-kasus penyakit telah menyebar Wuhan ke-16 kota lain di China serta enam negara di luar China yaitu Jepang, Korea, Vietnam, Thailand, Singapura, dan Amerika Serikat.

Baca juga:  Hendi Terima Penghargaan Pembina Kerukunan Umat Beragama

Data di situs Bloomberg (per 25/1) merilis 1.324 kasus terkonfirmasi dan 41 kematian (3,09 persen). Virus baru ini, seperti diberitakan berbagai media merupakan keluarga besar dari virus Corona, penyebab penyakit SARS dan MERS yang pernah pandemis dan mewabah sebelumnya.

Inang virus ini bervariasi dari berbagai jenis binatang hingga manusia, dan dengan keparahan penyakit yang ringan hingga berat, bahkan menyebabkan kematian pada individu yang rentan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyebaran global virus Corona melalui kelelawar sebagai reservoir (pembawa virus).

Meskipun para ahli belum bisa mengidentifikasi karakteristik biologis secara pasti, namun beberapa fakta menunjukkan bahwa virus jenis baru ini menyerang sel-sel epitel organ pernafasan dan saluran pencernaan sehingga percikan udara pernafasan, mutahan, dan kotoran penderita menjadi material infeksius.

Sejauh ini diketahui bahwa penularan terjadi melalui droplet pernafasan dengan masa inkubasi sekitar tujuh hari. Percikan material infeksius dari individu yang terinfeksi baik hewan maupun manusia pada saat bersin, batuk atau percakapan dapat terhirup orang sehat di sekitarnya dan menimbulkan infeksi. Gejala klinis berupa demam, batuk kering atau berdahak, dan sesak nafas timbul sekitar tujuh hari kemudian. Fakta spesifik sejauh ini menunjukkan keseragaman bahwa kasus-kasus fatal akibat virus ini terjadi pada kelompok penduduk yang mengidap komplikasi penyakit kronis lain.

Baca juga:  Siswa Dua Kelas terpaksa Masuk Siang

Penularan 2019-nCov dari orang ke orang akibat kontak erat terbukti telah terjadi terutama dari penderita kepada orang-orang dekat di sekitarnya termasuk petugas kesehatan yang menangani. Penyebaran lebih luas dari orang ke orang di luar rumah dan rumah sakit pun sangat mungkin terjadi akibat tingginya mobilitas penduduk. Orang-orang yang dalam masa inkubasi atau fase awal klinis penyakit dan belum terdiagnosis, atau belum menyadari dirinya sakit bisa bepergian jauh dan kontak dengan banyak orang di dalam moda transportasi masal, pertemuan, pasar, dan berbagai tempat umum sehingga memungkinkan terjadinya penularan.

Pendekatan komprehensif dan integratif
Kewaspadaan dini dan upaya antisipasi masuknya virus Corona strain Wuhan ke Indonesia perlu dilakukan secara komprehensif dan integratif, mengingat Bali dan Batam telah menjadi destinasi penerbangan dari kota-kota tersebut. Literasi masyarakat tentang 2019-nCov termasuk tanda dan gejala klinis penyakit, sumber dan cara penularan, pencegahan dan perawatan perlu ditingkatkan.

Baca juga:  Penertiban PKL Kemijen Sempat Dramatis

Para ahli di bidang promosi kesehatan, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dapat berperan aktif dalam upaya ini. Program dan penyediaan sarana deteksi dini peredaran virus pada manusia dan hewan perlu disiapkan di pintu-pintu masuk negara, baik pelabuhan darat, laut maupun udara seiring dengan perkembangan kejadian penyakit di Wuhan dan kota-kota lain yang menjadi destinasi mobilitas penduduk dari kota tersebut.

Skrining tanda dan gejala klinis pada para pendatang perlu diimbangi dengan sarana laboratorium yang canggih untuk mendeteksi 2019-nCov secara cepat dan akurat. Belajar dari pandemi SARS yang kemudian menjadi wabah di Indonesia, maka ancaman dari strain baru anggota keluarga virus Corona ini juga perlu diantisipasi. (*)

DR. Sayono, S.K.M., M.Kes(Epid)
Departemen Epidemiologi dan Penyakit Tropis
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya