alexametrics

Rumah Bergeser, Jalan Kampung Amblas

Wilayah-Wilayah Patahan di Kota Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, – Selama musim penghujan, selain waspada banjir, warga Kota Semarang yang tinggal di wilayah patahan harus mewaspadai tanah bergerak maupun amblas. Wilayah patahan ini membujur dari Tenggara ke Selatan, atau dari Tembalang, melintasi Gombel, Gombel Lama, Tinjomoyo, Sukorejo, Sekaran, Sadeng, Jatibarang, hingga kawasan Babankerep, Ngaliyan.(NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG).

TINGGAL di wilayah rawan longsor dan tanah gerak membuat warga Trangkil Baru, Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang tak bisa tenang. Apalagi saat musim penghujan. Rasa waswas mereka makin tinggi. Jawa Pos Radar Semarang melakukan pantauan lapangan di wilayah Trangkil Baru RT 06 RW 10 pada Minggu (26/1). Menurut salah seorang warga, Khanif, kampungnya pernah terjadi longsor pada 2014 silam. “Terakhir terjadi pada Januari 2014, salah satunya di wilayah RT sini,” katanya.

Koran ini dipertemukan dengan Supriyono, Ketua RT 06 RW 10. Bersamanya, koran ini melakukan penyusuran keliling kampung. Ia mengatakan, banyak rumah warga yang dindingnya retak dan miring. Bahkan ada yang hancur meski beberapa kali direnovasi.
“Dua rumah ini dulunya berhimpitan. Tapi sekarang berjarak. Ini kira-kira bergeser kurang lebih 30 sentimeter. Banyak rumah yang bergeser seperti kasus ini,” tuturnya sambil menunjuk dua rumah warganya itu.

Menurut Supriyono, sebagian besar rumah tak lagi berlantai keramik. Sebab, warga kapok dan menyerah. Tiap memasang keramik, selalu retak dan terlepas. “Karena tanahnya amblas. Banyak juga rumah warga yang permukaan lantainya bergelombang. Warga memilih pakai lantai semen,” katanya.

Tak hanya rumah warga yang retak-retak, saluran air yang dibuat warga pun taludnya jebol dan bergeser. Bahkan, sampai memakan bahu jalan kampung. “Ini tadinya jalan. Saking derasnya aliran air, sekarang terkikis. Ini kira-kira terkikis enam meter. Separuh lebih dari total lebar jalan,” ucapnya.

Baca juga:  Menara Al Husna MAJT Dibuka Lagi

Jarwoko, salah seorang warga yang tinggal di dekat saluran air tersebut turut berbicara. Ia mengungkapkan, saat hujan deras air meluap dari tanggul. Pipa-pipa yang dibuat warga seakan percuma. “Sebab, airnya deras. Sebagian masuk pipa, tapi lebih banyak yang tidak,” jelasnya.

Ia melanjutkan, air tak hanya mengikis bahu jalan. Tetapi juga membuat jurang yang dalam. Menurutnya, hal itu karena tanah di kampungnya itu mudah amblas dan bergerak. “Bahkan pohon ini dulunya bukan di sini. Sekarang bisa ada di sini. Bergeser jauh. Kurang lebih tiga atau empat meter,” katanya sambil menunjuk pohon yang dimaksud.

Tanah bergerak dan amblas juga terjadi di Kampung Deliksari, Sukorejo, Gunungpati. Eko, warga RT 03 RW 06 yang telah tigapuluh tahun tinggal di Deliksari mengatakan, yang paling diwaspadai warga adalah debit air saat hujan deras. Menurutnya, air mengalir sangat kencang dan membahayakan rumah-rumah yang ada di bawah. “Tak jarang rumah mereka jebol karena saking derasnya air,” katanya.

Ia menuturkan, ada lima titik yang menjadi perhatian warga. Sebab, kampung ini menjadi hilir aliran air di Deliksari. “Semuanya ada di RT 03 RW 06 ini. Semua air larinya ke lima titik itu. Deras sekali. Saking derasnya dinding rumah ada yang retak. Mungkin karena tanahnya ikut bergeser,” tuturnya.

Marsono, mantan Ketua RT 03 RW 06 yang banyak menyaksikan perubahan Deliksari dari tahun ke tahun. Banyak rumah warga yang makin miring. Letaknya bergeser. Jalan kampung amblas beberapa kali. “Lantai rumah saya juga retak begini. Keramik pecah-pecah,” katanya.

Baca juga:  Dongkrak Sektor Wisata, SBF Kembali Diaktifkan

Wilayah Kampung Gumpilsari, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik juga rawan amblas. Bahkan, dalam kurun waktu satu tahun, di beberapa titik di kampung ini amblas hingga 50 sentimeter. “Seperti tanah di pos kamling itu tahu-tahu mudun (turun/amblas). Kita gak kroso. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang atas ke bawah mesti kelihatan ada turunan. Satu tahun itu pasti lebih dari 50 sentimeter,” ungkap Kasmadi, warga Kampung Gumpilsari RT 1 RW 5 Kelurahan Tinjomoyo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (26/1).

“Rumah di sebelah kanan jalan itu juga sama. Itu tanahnya juga amblas. Bahkan lantai keramiknya banyak yang pecah,” tambahnya.

Mantan Ketua RT 1 RW 5 Gumpilsari ini mengakui, penghuni wilayah Gumpilsari RT 1 RW 5 sekarang sudah berkurang, karena banyak yang pindah lantaran wilayah tersebut rawan longsor dan amblas.

“Dulu warga sini 68 KK. Tapi 44 KK sudah direlokasi ke Tinjomoyo. Sisanya sebagian ada yang masih tinggal di sini,” katanya.

Kasmadi menunjukkan beberapa bangunan talut rumah warga yang mengalami retak akibat lahannya amblas. Sebagian besar rumah warga berdiri di tebing perbukitan. Agar air hujan tidak menyebabkan tebing longsor, maka di belakang rumah warga dipasang terpal.

“Kalau tebing diguyur hujan, bebannya akan berat. Makanya ditutupi terpal. Karena lahan di sini rawan longsor. Tadi Bu Lurah (Lurah Tinjomoyo) juga menanam pohon bersama para mahasiswa KKN sebagai penguat,” terangnya.

Baca juga:  Semarang Siap Jadi Tuan Rumah Festival HAM 2021

Selain itu, di lereng tebing juga dibangun talud batu yang diikat dengan kawat kurang lebih setinggi lima meter. Di bawah talud itu berdiri rumah-rumah warga. Rupanya di talud tersebut awalnya berdiri rumah-rumah warga. Namun rumah tersebut telah hilang akibat tanahnya amblas.

“Dulu di sini ada rumah-rumah warga. Terus ada musibah, tanahnya amblas. Rumahnya ikut amblas. Akses jalan ini dulunya lebar, mobil bisa lewat. Sekarang jalannya jadi sempit karena tanahnya amblas,” jelasnya.

Warga yang masih menghuni termasuk dirinya, memang masih khawatir akan terjadinya musibah, terlebih di saat diguyur hujan deras. Namun, mereka masih enggan pindah dengan alasan merupakan kampung kelahirannya.

“Warga kampung asli sini semua. Memang lokasi kampung kami rawan, tanahnya gerak. Tapi sekarang ini warga tidurnya ya di dalam rumah. Kami sudah diberi imbauan oleh Bu Lurah dan pihak RT dan RW, karena ini lahannya labil kalau hujan harus waspada,” terangnya.

Kasmadi mengaku menempati wilayah tersebut sejak 1983. Lokasi tersebut sudah tidak aman setelah pada 2000-an dibeli oleh pihak pengusaha perumahan.

“Sejak ada pembangunan di kawasan sini, pohon-pohon besar di tebang. Setelah itu ada kejadian longsor. Kkejadiannya sore hari,” imbuhnya.

Ketua RW 5 Sumardi mengatakan, tanah longsor pernah terjadi sekitaran 2005. “Kejadiannya sekitar Juni 2005, banyak rumah warga sini yang amblas,” jelasnya.

“Kalau korban jiwa tidak ada. Sekarang masih ada 32-an KK yang tinggal di sini. Kalau yang di bagian atas masih ada sekitar 4 rumah yang berdiri di lokasi rawan. Memang medannya ngeri,” lanjutnya. (nra/mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya