alexametrics

Anggota Semakin Susut Perayaan Imlek Ditiadakan

Poo An Bio, Kelenteng di Sudut Jantung Kota Wali

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, – Keberadaan Kelenteng atau tempat ibadah umat Konghucu menjadi salah satu penanda sejarah adanya kawasan Kampung Pecinan di Kota Wali. Kelenteng berukuran mini di pojok bagian utara Alun-Alun Kota Demak tersebut, berdiri di lahan seluas 15×20 meter per segi.(WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KONON, dulu Kelenteng yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-18 (200 tahun lebih), berada di tengah Alun-Alun. Namun, untuk kepentingan perluasan pusat kota dan jalan Daendels, kelenteng yang diberi nama Poo An Bio itu lantas dipindah ke sisi utara Alun Alun. Tepatnya, di Jalan Siwalan Nomor 3 Demak.

Pengurus Yayasan Dewi Samudra yang membawahi Kelenteng Poo An Bio, Budi Santoso alias Lie Tjwan Bing mengungkap, pemindahan letak kelenteng dilakukan bupati ketika itu. Dalam sejarah, saat itu, Bupati Demak dijabat oleh R Indriyo Yatmopranoto (1958-1966). Pemindahan Kelenteng tidak terlalu sulit. Sebab, material bangunan banyak yang terbuat dari bahan kayu jati.

Baca juga:  Mulai Dijual, 4,1 Persen Tiket Terjual

Meski begitu, ada bagian dinding yang semula terlukis gambar perjalanan Dewa Utama selaku tuan rumah sebagai pelindung para nelayan sempat terbongkar. Dewa yang dimaksud Mak Co Dewi Samudra (Thiang Siang Seng Boo). Dinding yang dimaksud sempat terbongkar dan tidak ikut dipindahkan. Juga tidak bisa dibuat gambar lagi. Kelenteng ini juga terdapat Kong Co Ho Tik Tjeng Sin. Ada pula Dewi Welas Asih yang dikenal dengan sebutan Kwan Im Po Sat.

Kini, kelenteng bercat dominan merah ini satu-satunya tempat ibadah umat Tri Dharma di Demak. Kendati demikian, menjelang Imlek 2020, pengurus Poo An Bio tidak melakukan perayaan Imlek, seperti tahun tahun sebelumnya. Hanya saja, agar tetap tampak semarak, pengecatan kelenteng tetap dilakukan. Ada pula perawatan dengan penggantian kayu yang sudah lapuk.

Baca juga:  PLN Bantu Peralatan Membatik

“Umat makin habis. Tahun 2005 masih ada 15 orang. Itu pun banyak dari Semarang. Sekarang, tinggal 5 orang. Tapi banyak yang pergi keluar kota. Untuk itu, kegiatan Imlek tahun ini terpaksa kita tiadakan. Biasanya, kita lakukan sembahyang bersama,” kata Budi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya, di Jalan Demak-Kudus, kemarin.

Sebelumnya, Arif pengurus yayasan lainnya, menuturkan, keberadaan kelenteng, awalnya tak jauh dari pantai utara Demak. “Dulu, dalam sejarahnya, kelenteng ini menghadap ke arah Semarang. Dalam perkembangannya, berubah ke arah barat,”kata dia.

Menurut Arif, kelenteng tersebut digunakan sebagai tempat ibadah umat Konghucu, Budha, dan Tao. “Biasanya, kegiatan ibadah kita laksanakan setiap tanggal 1 dan 15 lunar (bulan).” Untuk merawat dan memelihara kelenteng yang dijadikan tempat ibadah 7 kepala keluarga (KK) ini, ditangani yayasan dan swadaya umat.

Baca juga:  Kelurahan Kramas Siapkan Kampung Tematik Turonggo Mudo

“Di sini tidak ada barongsai. Selain itu, dalam setiap perayaan, kita juga sering bergabung dengan teman-teman di Semarang. Untuk menjalin komunikasi, kadang-kadang kita juga berkunjung ke kelenteng lain. Pun, sebaliknya, teman-teman dari luar daerah juga kerap mampir ke kelenteng ini.” (hib/isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya