alexametrics

Tembakau Lokal Bisa Diserap Rokok Elektrik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Industri tembakau di Indonesia, memiliki potensi tinggi untuk diserap oleh rokok elektrik atau vaporizer. Apalagi saat ini serapan tembakau petani dinilai tidak menentu, karena industri hanya mengambil tembakau pilihan.

Ketua Bidang Produksi Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Eko Prio HC mengatakan, meski saat ini penggunaan rokok elektrik masih pro dan kontra, namun ada sisi pemberdayaan petani tembakau di Indonesia. Karena rokok elektrik berkembang pesat.

“Pabrik rokok, hanya mengambil tembakau kualitas kelas wahid. Padahal kalau petani panen tembakau tidak semua hasil panen dibeli. Sisa tembakau yang reject, menjadi barang tidak bernilai jual,” katanya usai menjadi pembicara acara Freedom For Vape, di Star Hotel Semarang, Sabtu malam (12/1) kemarin.

Baca juga:  Siswa SDN Pekunden Tuangkan Pesan Moral dalam Secarik Kertas

Industri rokok elektrik, lanjut dia, membutuhkan tembakau, yakni ekstraksi tembakau berupa nikotin yang dibuahkan menjadi cairan. Cairan ini bisa dihasilkan dari sisa atau tembakau yang tidak diserap pabrik.

Berdasarkan Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), tahun 2019 karena musim pancaroba membuat kualitas tembakau buruk. Bahkan ada 10 ribu ton tembakau sia-sia karena tidak layak jual.
“Kalau sisa yang tidak layak jual ini bisa dimanfaatkan, tentu bisa membuat petani tembakau punya alternatif lain. Potensi ini harus dilirik pemerintah, bukan malah ada pelarangan vape,” tambahnya.

Dari data yang ada, pengguna rokok elektrik di Indonesia saat ini mencapai 1,2 juta sampai 1,5 juta orang. Pada 2019 kemarin, jumlah liqiud yang dihasilkan mencapai 30 juta botol, naik 30 persen dibandingkan tahun 2018 lalu yang ada di angka 10 juta botol. “Tahun 2019 lalu hanya sekitar 25 persen dari 10 juta tembakau tidak layak jual bisa dimanfaatkan. Harusnya pemerintah bisa lebih objektif,” tegasnya.

Baca juga:  Zero Kasus, Perayaan Natal di Gereja Sesuai Prokes

Ketua Penasihat Asosiasi Vapor Indonesia (AVI) Dimasz Jeremiah menambahkan, pemerintah saat ini getol melarang masyarakat untuk merokok karena dianggap membahayakan kesehatan. Vape sendiri bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok karena lebih aman bagi kesehatan dibandingkan rokok. “Dari sisi kesehatan vape lebih aman, 95 persen lebih baik atau kurang dampak negatifnya jika dibandingkan rokok. Bahkan tidak menimbulkan perokok pasif,” ujarnya.

Dirinya meminta agar pemerintah tidak over reaktif dengan vape. Apalagi buru-buru melakukan pelarangan vape. Karena vape sendiri memiliki potensi besar mengungkit daya dongkrak petani dari segi industri dan perekonomian petani. “Hasil tembakau dari petani yang tidak dipakai bisa diekstraksi,” tambahnya.

Baca juga:  Ganjar Sudah Entaskan Satu Juta Warga Miskin

Dalam acara tersebut, juga melakukan pemajangan hasil foto rontgen penggunaan vape di Jawa Tengah. Total ada sekitar 200 foto rontgen paru-paru yang dipasang. Bahkan panitia acara juga menggandeng kalangan kedokteran untuk membaca hasil rontgen yang terbukti tidak memiliki efek samping. “Hasil rontgen yang dipasang ini, adalah pengguna vape dengan pemakaian setahun sampai dua tahun,” tambah panitia acara Dhony Fajar. (den/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya