alexametrics

KNKT: Sopir Kramatdjati Tak Pahami Prosedur Mengemudi

Artikel Lain

SEMARANG -Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi penyebab kecelakaan di Gerbang Tol Kalikangkung, Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Sabtu (28/12). Berdasarkan temuan KNKT, kecelakaan yang membakar Bus Putra Pelita Jaya dan Bus Kramadjati itu disebabkan pengemudi yang tidak memahami prosedur mengemudi.

Temuan itu berdasar kunjungan KNKT di RSUD Tugurejo Semarang, Senin (30/12) pukul 10.00. Investigasi dilakukan terhadap sopir dan kernet Bus Kramatdjati serta salah satu korban. Kunjungan dilakukan bersama rombongan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jateng dan Kota Semarang.

“Ini bukan karena kelalaian dan bukan masalah ugal-ugalan. Tapi pengemudi yang tidak memahami prosedur mengemudi. Itu juga banyak terjadi di seluruh pengemudi kita,” ujar Wildan selaku pimpinan investigasi dari KNKT kepada RadarSemarang.id di sela kunjungannya.

Menurutnya, investigasi KNKT di RSUD Tugurejo merupakan tindak lanjut dari investigasi hari sebelumnya. Setelah dari RSUD Tugurejo KNKT melihat bangkai bus yang terbakar. Selanjutnya, akan menuju Jepara untuk melihat dan membongkar tromol bus yang ada di PO Kramatdjati.

Baca juga:  Survei KPK, Pemprov Jateng Paling Berintegritas

“Bus di Indonesia semuanya berpotensi ngantong. Kontur jalan kita banyak yang menurun. Sehingga sering menggunakan gigi tinggi. Akhirnya sering over heat. Saat over heat, orang biasanya mendinginkannya disiram dengan air sehingga berubah bentuk tromolnya,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan bahwa saat mendinginkan tromol, seharusnya kendaraan didiamkan minimal 30 menit. Sedangkan untuk kasus Bus Kramatdjati, pengemudi terbilang nekat. Pasalnya, telah merasakan kerusakan sebanyak tiga kali.

“Kemampuan remnya menurun, tapi bukan blong. Kalau gigi 5, minimal kecepatan 70 km/jam. Di posisi itu, sopir tidak bisa menggerakkan gigi, setir dan rem. Dia tinggal nyeruduk saja sudah,” ucapnya.

KNKT sendiri merasakan ada banyak kecelakaan yang berawal dari tromol yang berubah bentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, tahun 2020 Direktorat Perhubungan Darat telah menyediakan anggaran untuk melakukan edukasi kepada para pengemudi. Menurutnya edukasi itu dapat dimasukkan sebagai kurikulum dan ujian SIM. “Dari sampel acak (kasus rem blong, Red), saya menemukan 10 kasus seperti itu. Bukan kendaraan yang tidak layak jalan,” tandasnya.

Baca juga:  Antisipasi Kekeringan, Bangun Embung di Gunungpati

Sedangkan, sopir Bus Kramatdjati, UU Kusmindar, 45, menjelaskan bahwa rem bus masih berfungsi. Sekitat 300 meter sebelum dia merasakan rem blong. Pihaknya sempat berteriak ke penumpang bahwa rem bus telah blong. Bus semakin tidak terkendali, sebelum tabrakan terjadi, sopir bus berdiri.

“Saya teriak Allahu akbar. Melihat ada api dari depan sisi kiri bus, saya juga berfikir untuk meraih alat pemadam api. Tapi posisinya terjepit,” ujar warga Kemantran Kramat Kabupaten Tegal tersebut.

Tangan dalam keadaan terborgol dia menjelaskan bahwa bus tersebut membawa 28 penumpang dan 3 crew. UU sendiri sudah 15 tahun menjadi sopir kendaraan besar dan bus. Dia memiliki SIM B2 Umum dan baru enam bulan menjadi sopir Bus Kramatdjati. Kecelakaan tersebut tidak memakan korban jiwa.

Baca juga:  Wali Kota Semarang Gandeng Eks Napiter Buat Program Deradikalisasi

Endang, salah seorang penumpang menjelaskan bahwa Bus Kramatdjati yang ditumpanginya sering melakukan pengereman mendadak. Ia berangkat dari Ngawi dan saat ini ia bersama tiga korban lainnya masih mendapatkan perawatan di RSUD Tugurejo.

“Saya jatuh dan tidak melihat apa-apa. Tapi saya mendengar suara turun buk, turun buk. Saya tidak bisa jalan,” kata Endang. (yan/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya