alexametrics

Gerhana Matahari Cuma 68 Persen

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID SEMARANG – Fenomena gerhana matahari cincin kembali dialami sebagian wilayah di Indonesia. Meskipun Semarang tidak masuk dalam lintasan, masyarakat kota Atlas tetap dapat menikmati fenomena tersebut meskipun dalam bentuk parsial atau sebagian.

Sejumlah kelompok masyarakat berbondong-bondong melakukan pengamatan. Tercatat di Simpanglima dan Masjid Agung Jawa Tengah digelar pemantauan dengan berbagai macam teropong bintang. Salah satunya dari Himpunan Astronomi Amatir Semarang (HAAS).

Founder HAAS Dwi Lestari menuturkan, pihaknya mulai melakukan pengamatan sejak pukul 10.45 WIB. Menggunakan teropong berkedudukan mounting equatorial dan mounting altazimut, ia mengajak masyarakat untuk menyaksikan fenomena langka tersebut. Dan terpantau puluhan orang dari berbagai macam latar belakang antusias melakukan pengamatan.

“Dengan teropong kelompok, kami ingin mengfasilitasi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung fenomena ini,” ujarnya saat melakukan pemantauan di Simpang Lima Semarang, Kamis (26/12).

Baca juga:  Gerhana Matahari Cincin di Semarang Terlihat 0.1 Persen

Berdasarkan pantauan tersebut, sejak pukul 10.55 WIB, fase awal gerhana parsial sudah mulai terlihat. Semakin lama perlahan bulan mulai menutupi matahari yang puncaknya terjadi pada pukul 12.48 WIB. Dan setelah itu terus bergeser hingga akhirnya gerhana selesai pada pukul14.29 WIB.

“Di Semarang sendiri kita hanya bisa melihat bulan menutupi matahari 68 persen saja. Tidak bisa seluruhnya berbentuk cincin,” lanjutnya.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang Iis Widya Harmoko menuturkan gerhana matahari merupakan fenomena alam yang rutin terjadi. Hal tersebut dikarenakan adanya pergerakan matahari, bumi dan bulan yang berada dalam posisi sejajar. Pihaknya mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir terkait dampak yang akan ditimbulkan dari fenomena tersebut.

“Tidak usah cemas. Itu hal biasa. Tidak perlu dikaitkan dengan hal yang bukan-bukan,” ujarnya.

 TATAP GERHANA : Sejumlah remaja mengamati gerhana matahari sebagian di Masjid Agung Jawa Tengah. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)

TATAP GERHANA : Sejumlah remaja mengamati gerhana matahari sebagian di Masjid Agung Jawa Tengah.
(Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)
Sementara itu, Sekretaris MUI Jateng, Multazam Ahmad mengajak umat untuk salat gerhana saat puncak fenomena terjadi. Hal tersebut sebagai tanda syukur atas kebesaran Tuhan. Tak lupa, pihaknya memberikan khotbah terkait fenomena tersebut saat pelaksanaan salat gerhana di Masjid Baiturrahman, Semarang.

Baca juga:  Sawah Puso 18 Ribu Hektare

“Dengan fenomena ini kita diingatkan betapa besar kuasa Tuhan. Maka dari itu kita harus bersyukur dan banyak meminta pengampunan atas dosa yang telah kita lakukan,” jelasnya.

Ribuan warga kemarin juga memadati halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang untuk menyaksikan gerhana matahari. Mereka rela mengantre di depan teleskop untuk menyaksikan fenomena langka tersebut. Umat Islam juga menggelar salat gerhana di MAJT.

Koordinator Tim Hisab Al Husna MAJT M Himatur Riza mengatakan, MAJT menyiapkan alat untuk menyaksikan secara langsung yakni teleskop robotik Orion, teleskop Binokuler dan dua teleskop sky-watcher yang dipasang di pelataran MAJT. “Kalau dulu melihat gerhana matahati tidak boleh secara langsung tetapi dengan alat seperti air yang diberi air tetapi sekarang bisa melihat secara langsung dengan menggunakan alat,” katanya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Usulkan 4.068 Formasi CPNS dan PPPK, Ini Rinciannya

Salah seorang warga Pedurungan Septi mengaku baru kali pertama melihat gerhana matahari cincin ini di MAJT. “Dulu waktu kecil pernah melihat gerhana matahari atau bulan dengan menggunakan baskom yang diisi air dan melihat melalui pantulan tersebut. Tetapi sekarang melihat langsung dengan menggunakan alat,” katanya.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang AM Jumai mengatakan, warga Muhammadiyah di kota Semarang telah menyiapkan 40 masjid dan musala untuk menyelenggarakan salat gerhana matahari. Hal itu didasarkan pada maklumat majelis Tarjih dan Tajdid pimpinan pusat Muhammadiyah tentang salat gerhana matahari cincin atau sebagian. (akm/hid/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya