alexametrics

Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID,  SEMARANGAdanya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 5 tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin, Pengadilan Agama (PA) Ambarawa menggandeng Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) sebagai langkah pengajuan dispensasi kawin.

Dalam alurnya, konselor mendatangi LRC-KJHAM untuk mendapatkan salah satu syarat, yaitu surat tanda bukti konseling. Implementasi yang dilakukan oleh PA Ambarawa ini sebagai wujud dari menurunkan angka dispensasi kawin.

Pengajuan pemohon didominasi oleh korban kasus kekerasan seksual dan hamil di luar nikah. LRC-KJHAM telah menangani 82 kasus, 53 di antaranya kasus kekerasan seksual. Berdasarkan data Kemen PPPA, Indonesia menempati urutan kedua se-Asia dan nomor tujuh di dunia dalam kategori kasus kekerasan seksual.

Baca juga:  Miris! Pelaku Kekerasan Seksual Didominasi Ayah Kandung

“Ada satu korban yang ditolak karena dipaksa oleh orang tua dan masih berusia 14 tahun. Kami memberikan gambaran konsekuensi kepada yang mengajukan. Memberikan pendamping kepada konselor,” ujar staf muda Divisi Bantuan Hukum LRC-KJHAM Semarang Nia Lishayati di Hotel Dalu Semarang, Jumat (20/12).

Sesuai PERMA  dari batas usia 16 tahun menjadi 19 tahun tersebut, terbukti pengajuan dispensasi meningkat.

Dikatakan Ketua PA Ambarawa Nur Laila Ahmad, sejak November lalu hingga pertengahan Desember ini sebanyak 13 kasus dispensasi kawin diajukan. Pengajuan dispensasi dari usia 14-18 tahun.

“Yang peraturan dari 16 hingga 19 tahun saja banyak, apalagi sekarang tambah lebih banyak dan naik di atas 100 persen. Tahun 2020 nanti pasti akan lebih banyak,” bebernya.

Baca juga:  Ketua RT/RW Diharap Ikut Sosialisasikan Program Pemkot

Dulu mencuri-curi umur, tambahnya. Dikabulkannya dispensasi kawin di antaranya adanya alasan mendesak seperti hamil di luar nikah. Sementara tidak dikabulnya pengajuan dispensasi kawin karena lemahnya psikilogi, sosial dan ekonomi.

Menurutnya, hal tersebut hanya akan membawa dampak ke perceraian seperti disebabkan oleh reproduksi belum matang, sifat yang masih labil, dan belum bisa mengontrol emosi. “Walaupun gak hamil kalau gak paham itu semua ya gak kita kabulkan,” jelasnya. (ifa/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya