alexametrics

Tercatat sebagai Petilasan Agung Sunan Kalijaga

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SENDANGGUWO tercatat sebagai Petilasan Agung atau tempat persinggahan Sunan Kalijaga ketika mencari kayu jati. Yoga Mahardika, warga setempat yang juga sedang melakukan proses penelitian di Sendangguwo ini mengatakan bahwa hal ini dituliskan dalam sejumlah literatur.

Sendangguwo, menjadi satu dari sejumlah titik persinggahan. Mulai dari Jatirejo, kemudian di Kandri dengan adanya Goa Kreo. Selanjutnya di Ngemplak, Simongan yang dikatakannya juga ada tempat persinggahan Sunan Kalijaga.

”Itu merupakan rentetan, waktu Njeng Sunan Kalijaga mencari kayu jati. Setiap titik, pasti ada persinggahan. Dari Simongan kemudian belok di Jalan Inspeksi yang sekarang jadi Kampung Pelangi. Kemudian maju lagi di belakang Lawang Sewu, kemudian di Sungai Inspeksi Kampung Kali lurus sampai Banjir Kanal Timur,” bebernya.

”Dari situ lanjut terus sampai ke Sendangguwo,” timpalnya.

Hanya saja, ia menyayangkan, sejarah setiap tempat yang disinggahi Sunan Kalijaga tidak semuanya dapat diungkap dengan mudah. ”Selalu saja ada sejarah yang kabur. Dulunya bagaimana, itu susah menelitinya. Saya, jalan dari Gunungpati turun, itu seperti itu,” kata Yoga.

Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa Sendangguwo menjadi salah satu tempat persinggahan. Bahkan, Sunan Kalijaga tinggal dalam waktu yang tidak sebentar. ”Sering banget bermasyarakat di sana. Sampai ada beberapa titik yang diisi dengan penderek-pendereknya,” jelasnya.

Baca juga:  Hanya Gunakan Cangkul untuk Dalami Temuan Situs Yoni Bedono

Karena itu pula, peninggalan dari Sunan Kalijaga adalah berupa ajaran bermasyarakat. Ia menjelaskan, sebelum kedatangan Sunan Kalijaga, di daerah ini memang sudah ada peradaban. Hal ini dapat dilihat dari ditemukannya struktur candi di daerah ini. Berdasar cerita yang beredar di masyarakat, struktur itu hendak dibangun masjid, namun tidak jadi.

”Kemudian ada juga tinggalan berupa suluk. Saya tidak tahu yang membuat siapa. Hanya saja, ketika saya tanya kepada sesepuh, itu sudah dari dulu. Setiap nyadran selalu dilantunkan,” ujarnya.

Sementara itu, Arkeolog Tri Subekso menjelaskan bahwa jejak peradaban di daerah ini dapat dilihat dari beberapa benda peninggalan. Seperti watu lumpang, batu besar dengan lubang di dalamnya, di punden yang mengindikasikan bahwa pernah ada pemukiman kuno di tempat tersebut.

”Watu lumpang ini menunjukkan bahwa pernah ada aktivitas kehidupan. Ada masyarakat lengkap dengan struktur dan pranata sosialnya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Masa itu, ia katakan, orang membuat rumah kebanyakan dari kayu dan bahan yang mudah hancur. Selain keberadaan rumah, tentu ada benda-benda yang dibutuhkan terkait aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. ”Mereka butuh beberapa perkakas, seperti watu lumpang itu. Mungkin untuk menumbuk biji-bijian dan padi,” jelasnya menambahkan.

Baca juga:  PERAWATAN CAGAR BUDAYA

Bekso –sapaannya- mengatakan, watu lumpang tersebut menunjukkan pemukiman periode klasik. Benda itu dilihatnya sebagai indikasi arkeologis yang menunjukkan peninggalan dari abad sekitar 8-10 Masehi.

”Tapi untuk membuktikannya harus dilakukan penelitian lebih lanjut mencari indikasi arkeologis lainnya di sekitar, untuk menggali lebih dalam. Sendangguwo ini adalah satu dari beberapa titik permukiman kuno di Semarang,” ujarnya.

Selain watu lumpang, beberapa benda peninggalan lainnya di Sendangguwo yang ia saksikan adalah keberadaan yoni dan ada struktur, berada di makam, dengan batu bata yang identik dengan batu bata penyusun candi para periode Hindu-Budha. Bata merah yang dilihat dari jenis dan ukurannya, identik dengan bata penyusun Candi Duduhan Mijen.

”Karena saya pernah ikut eskavasi di sana tahun 2015 dan tahun 2018 lalu. Yang tampak di permukaan waktu itu memang identik. Mungkin di bawah ada struktur,” ujarnya.

”Setidaknya diduga kuat di situ ada bangunan kuno di masa peradaban klasik,” tambahnya.

Oleh pemerintah kelurahan dan kecamatan, Punden Sendangguwo yang di dalamnya ada watu lumpang ini diusulkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata. Kepala Disbudpar Kota Semarang Indriyasari mengatakan, dari kelurahan dan kecamatan memang sudah mencoba untuk menghidupkan wisata sejarah ini.

Baca juga:  Gambarkan Harapan, Angkat Lakon Sri Boyong

”Tapi belum bisa dimasukkan ke dalam kalender event dan destinasi wisata menarik. Ini sedang kami susun bersama-sama dengan kelurahan dan kecamatan,” jelasnya kepada koran ini.

Kepala dinas tidak menampik potensi di daerah ini dengan sejumlah peninggalan, berikut cerita sejarah, yang hingga kini terus digali. Ia mengatakan, cerita sejarah ini memang sudah ada, hanya saja perlu dikemas dengan baik sehingga mampu menarik wisatawan datang.

Iin –sapaannya- menegaskan bahwa pada dasarnya Pemkot Semarang sangat mendukung usulan dari kelurahan dan kecamatan tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah kota akan mengupayakan untuk menyiapkan sarana penunjang, seperti akses yang bagus menuju ke tempat tersebut.

”Selain akses kami perbagus, nanti juga mengenai lampu penerangan. Supaya lebih menarik perhatian dan memudahkan untuk mengunjunginya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia meminta masyarakat untuk mengaktifkan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) kemudian melengkapi tempat yang diinginkan menjadi wisata sejarah dengan kuliner dan suvenir khas Sendangguwo. ”Kalau destinasi sudah ada, sudah ada Pokdarwis dan aktif, perlu dilengkapi dengan atraksi atau event. Itu harus kontinyu. Kalau sudah 3 tahun berturut-turut, nanti bisa dimasukkan ke dalam kalender event,” tandasnya. (sga/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya