alexametrics

Wartawan Radar Semarang Digembleng di Simpang Lima

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANGJawa Pos Radar Semarang terus meningkatkan kemampuan wartawannya. Kemarin (3/12), misalnya, delapan wartawan muda digembleng di Simpang Lima. Mereka ditangani langsung oleh Direktur Baehaqi dan Redaktur Pelaksana Ida Norlayla. Baehaqi adalah wartawan senior Jawa Pos yang selama ini konsisten mendidik wartawan. Sedangkan Ida wartawan senior Radar Semarang yang telah mendapat sertifikat utama dari Dewan Pers. Dalam kesempatan lain, Pemimpin Redaksi Arif Riyanto juga selalu melakukan pendadaran. “Peningkatan kualitas itu mutlak harus dilakukan,” kata Baehaqi.

Simpang Lima dipakai sebagai kawah candradimuka, karena tempat ini merupakan pusat Kota Semarang sekaligus pusat ibu kota Jawa Tengah. Juga menjadi ikon kota. Di sinilah empat wartawan dan empat wartawati itu diajak menghayati wilayahnya. Lengkap dengan problematika dan kehebatannya. Mereka tidak diceramahi, tetapi diajak melihat langsung. Kedelapan wartawan muda Jawa Pos Radar Semarang tersebut adalah Sigit Andrianto, Adennyar Wycaksono, Nanang Rendy Ahmad, Riyan Fadli, Maria Novena Sinduwara, Alvi Nur Janah, Ida Fadillah, dan Dewi Akmalah Nikmatul Izza.

Baca juga:  Sambut Ramadan, Warga Ngijo Potong 56 Kambing

Anak-anak muda yang baru lulus kuliah itu diajak jalan kaki mengelilingi Simpang Lima. Tidak satu putaran. Tetapi, lima putaran. Sejak habis subuh sampai sekitar pukul 08.00. Sepanjang perjalanan itu, Baehaqi terus menunjukkan cara-cara reportase, mendiskripsikan fakta, kemudian menuliskannya. Dengan begitu berita di Radar Semarang selalu faktual dan dipercaya.

Para wartawan muda tersebut angkatan 2019. Selama ini mereka sudah diterjunkan ke lapangan. Tetapi, terus dilakukan pendidikan. Ini karena Radar Semarang harus menjaga kualitasnya. Bahkan, meningkatkannya. “Berita di koran itu tidak sama dengan online atau media sosial,” kata Baehaqi. Karena itu, penggarapannya harus berbeda agar tetap dipercaya pembaca.

Penambahan wartawan dilakukan karena belakangan Radar Semarang terus berkembang. Ini berbalik dengan kebanyakan perusahaan media cetak yang justru mengurangi tenaganya. Malah banyak media yang sudah tutup. Yang masih hidup pun ada yang kembang kempis. Bisa jadi, koran-koran itu ditinggal pembacanya karena sama dengan online atau media sosial. “Kalau Radar Semarang beda,” tambah Baehaqi yang juga Direktur Jawa Pos Radar Kudus itu. (idf/aro)

Baca juga:  Dibunuh, Dilempar dari Jalan Tol

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya