alexametrics

Prihatin, Begini Kondisi Pasar Dargo yang Dulu Jadi Pusat Penjualan Beras

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Nama Pasar Dargo cukup melegenda. Dulu dikenal sebagai pusat penjualan beras. Namun kini kondisinya memprihatinkan. Pasar di Jalan Dr Cipto ini dinilai kurang optimal. Bahkan mangkrak. Kondisi ini mendapat sorotan kalangan DPRD Kota Semarang.

Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang Joko Susilo mengatakan, setelah tak jadi pusat penjualan beras, Pasar Dargo sempat menjadi sentra penjualan batu akik. Namun karena tren akik menurun, pengunjung pasar sepi. Para pedagang pun menutup usahanya. Saat ini, Pasar Dargo ditangani oleh dua pengelola. Yakni, dikelola pihak ketiga dan dikelola Pemkot Semarang melalui Dinas Perdagangan.

Keberadaan Semarang Exibition Centre persis di depan pasar juga mangkrak. Ini semakin membuat Pasar Dargo tidak terlihat. Ia mengakui meski dikelola oleh dua pihak, namun kondisinya tetap memprihatinkan. “Sepi, seperti bukan pasar,” katanya.

Dikatakan, kerja sama dengan pihak ketiga itu akan berakhir pada 2023. Dalam waktu dekat, dewan akan melihat dan mengevaluasi kembali kerja sama tersebut. Sebab, tidak ada sisi yang menguntungkan bagi Pemkot Semarang. Baik itu dari sisi pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun perkembangan dari Pasar Dargo itu sendiri. Tidak hanya mengevaluasi pihak ketiga, peran dari Dinas Perdagangan Kota Semarang juga akan dievaluasi kembali.

Baca juga:  Tenggelam di Pleret, Meninggal Dalam Perjalanan ke RS

Pantauan di lapangan, sampai sore beberapa kios di bagian luar lantai satu Pasar Dargo masih buka. Namun memang sejak siang sepi pengunjung. Adapun titik yang ramai di bagian utara kios bangunan pasar. Di pojok bagian utara ada salah satu ruko yang dimanfaatkan untuk tempat karaoke. Namun untuk 14 ruko yang lain di bagian utara tutup alias tidak ada aktivitas jual beli.

Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan kalangan DPRD Kota Semarang untuk meramaikan pasar tersebut. Di antaranya, menawarkan untuk pedagang Pasar Peterongan bagian belakang yang tidak mendapatkan kios di dalam pasar. Namun sampai sekarang memang tidak ada respon dari pedagang. Dikatakan Joko, para pedagang di bagian belakang Pasar Peterongan mengaku enggan untuk menempati Pasar Dargo, dikarenakan sepi pengunjung. “Sebenarnya eman-eman kalau kondisinya sepi begini, padahal pasar ini termasuk di tengah kota,” ujarnya.

Baca juga:  Vaksinasi untuk Anak Wajib Kantongi Persetujuan Orang Tua

Jika Pasar Dargo kembali bergeliat, lanjutnya, bisa menjadi salah-satu penyumbang PAD bagi Kota Semarang. Hal itu, menurutnya, juga harus menjadi perhatian serius dari pihak dinas terkait. “Dulu pernah jaya Pasar Dargo sebagai sentra batu akik. Sejak batu akik peminatnya menurun, seiring berjalannya waktu pasar tersebut ikut surut,” tuturnya.

Seperti diketahui, Pasar Dargo Semarang sempat menjadi fenomena karena pusatnya batu akik dan batu mulia beberapa tahun lalu. Saat demam batu akik mencuat, lokasi itu selalu disesaki pengunjung. Namun saat ini kondisinya memprihatinkan. Dari ratusan toko batu akik, tidak lebih dari 50 toko yang masih bertahan. Selain itu, pengunjung di Pasar Dargo juga sepi dan para penjual hanya duduk-duduk di depan toko.

Tidak hanya terhadap Pasar Dargo, kalangan dewan juga meminta dinas terkait mengoptimalkan kondisi semua pasar tradisional di Kota Semarang. Seperti halnya Pasar Bulu yang sampai sekarang kondisinya tidak bisa seramai seperti dahulu sebelum dibangun.

Baca juga:  Heboh ‘Mobil Goyang’ Semarang, Ternyata Sering Terjadi di Banjir Kanal Barat

Sekretaris Dinas Perdagangan Kota Semarang Nurkholis mengatakan, jika pihaknya akan segera melakukan penataan terhadap Pasar Dargo. Tujuannya, tidak lain untuk meramaikan kembali pasar yang bisa dibilang mati suri tersebut. “Akan kita tata kembali untuk pasar tersebut,” ujar Nurkholis.

Adapun yang saat ini masih di bawah pengelolaan Dinas Perdagangan yaitu lantai 1 bagian tengah dan lantai 2. Untuk lantai 2, kondisinya saat ini memang tidak ada sekat atau kios-kios yang bisa digunakan pedagang.

“Itu yang di lantai 2 kan masih los, tidak ada apa-apa. Ke depan kita buatkan kios-kios yang bisa ditempati pedagang,” katanya.

Beberapa pedagang di pasar lain juga sudah ditawarkan untuk menempati Pasar Dargo.

Dikatakan Nurkholis, pihaknya sempat menawarkan kepada para pedagang di pinggiran Pasar Waru untuk pindah di Pasar Dargo. Namun, mereka menolak lantaran kondisi Pasar Dargo yang tidak representatif digunakan untuk aktivitas jual beli. “Karena sepi tadi itu mereka enggan pindah,” tuturnya. (ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya